Rabu, 13 AGUSTUS 2025 • 14:05 WIB

"Mencari Semar": Teater Koma Ajak Penonton Renungkan Peran AI dalam Kehidupan Manusia

Author

Sutradara Rangga Riantiarno saat ditemui dalam acara prapementasan "Mencari Semar" yang digelar Teater Koma di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Selasa (12/8/2025). ANTARA/Abdu Faisal

INDOZONE.ID - Teater Koma kembali menyuguhkan pertunjukan yang menggugah pikiran. Dalam pementasan terbarunya berjudul "Mencari Semar", yang digelar di Ciputra Artpreneur, Jakarta, pada 13–17 Agustus, kelompok teater legendaris ini mengangkat tema besar: kecanggihan kecerdasan buatan (AI) dan potensi dampaknya terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Mengutip ANTARA, di acara pra-pementasan yang digelar Selasa lalu, sutradara Rangga Riantiarno melontarkan pertanyaan tajam: “Apakah AI akan menggantikan Semar?” Sebuah pertanyaan yang tidak hanya menyentuh sisi teknologi, tetapi juga menyentil keutuhan moral dan nilai-nilai budaya.

Dalam lakon ini, Semar tak sekadar tokoh pewayangan. Ia digambarkan sebagai lambang kebijaksanaan, panutan moral, serta pelindung manusia dari arah hidup yang keliru. Kehilangan Semar bukan hanya kehilangan satu tokoh—melainkan ancaman terhadap kompas moral masyarakat.

Rangga menyampaikan keresahannya: bila manusia menyerahkan arah hidup sepenuhnya pada AI yang tak punya rasa atau nurani, maka bisa jadi kita akan tersesat dalam pusaran kemajuan teknologi tanpa arah. Di tengah gempuran zaman, pertunjukan ini menjadi ajakan untuk kembali menghayati arti kemerdekaan sejati—bukan sekadar bebas, tapi juga sadar nilai dan etika.

Baca juga: 7 Teater Paling Ikonik di Dunia yang Memikat Hati Sepanjang Masa

Namun, menariknya, pementasan ini tidak menempatkan AI sebagai musuh. Menurut Rangga, Semar dalam cerita justru digambarkan menghormati semua bentuk kehidupan—termasuk teknologi.

“Semar bukan tokoh yang menolak zaman, tapi ia memberi batasan moral,” ungkap Rangga, merujuk pada dialog dalam pra-pementasan.

Rangga juga menyampaikan bahwa persiapan pertunjukan sudah mencapai 95 persen. “Sisanya tinggal penyempurnaan teknis seperti pencahayaan, musik, efek suara, dan momen-momen kecil saat aktor melakukan aksi di panggung,” ujarnya.

Lebih lanjut, Rangga menjanjikan bahwa dalam pertunjukan penuh nanti, para pemain—terutama kelompok panakawan seperti Gareng, Petruk, dan Bagong—akan lebih banyak melontarkan komentar-komentar segar dan satire tajam yang menyinggung isu-isu terkini.

“Penonton sangat menikmati celetukan-celetukan itu di pra-pementasan, dan kami ingin menggali lebih banyak respons hangat dari sana,” kata Rangga.

Baca juga: Jenazah Nano Riantiarno Disemayamkan di Sanggar Teater Koma

Pertunjukan ini melibatkan para aktor andalan Teater Koma, seperti Budi Ros sebagai Semar, Rita Matu Mona sebagai Dewi Sutiragen, Emmanuel Handoyo sebagai Gareng, Dana Hasan sebagai Petruk, dan Nino Bukir sebagai Bagong.

Adapun jadwal pentasnya dimulai pada Rabu hingga Minggu dengan jam pertunjukan sebagai berikut: Rabu, Kamis, dan Jumat pukul 19.30 WIB; Sabtu pukul 13.30 dan 19.30 WIB; dan ditutup pada Minggu pukul 13.30 WIB.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ANTARA

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU