INDOZONE.ID - Rumah Seni Budaya Singhasari (RSBS) di Malang, Jawa Timur, kembali memperkuat posisinya sebagai pusat pelestarian seni tradisi lewat hadirnya Kriya Radha Art Gallery.
Radha Art gallery merupakan sebuah ruang kreatif dengan memadukan nilai budaya, estetika lokal, dan napas baru generasi penerus.
Galeri ini dikelola oleh Radha Krishna, adik dari pengelola RSBS yaitu Sadhana Devi, yang dikenal memiliki ketertarikan mendalam pada seni kriya, terutama olahan bahan alam yang berakar dari tradisi Singhasari.
Kehadiran galeri ini menegaskan bahwa keberlangsungan seni tradisi tidak hanya dijaga melalui pertunjukan, tetapi juga melalui karya tangan yang hidup, menyentuh, dan bisa dinikmati lintas generasi.
Baca juga: Ketika Alat Musik Angklung Indonesia Dipelajari Siswa Sekolah Tunanetra di Rumania
Kriya Radha Art Gallery lahir dari semangat untuk melanjutkan warisan orang tua mereka, yaitu almarhum H. Moch. Noor Effendhy dan almarhumah Arminati, yang menjadi cikal bakal berdirinya Rumah Seni Budaya Singhasari.
Sejak awal, keluarga ini telah dikenal sebagai penjaga budaya yang memberikan ruang bagi berkembangnya seni tradisi.
Sadhana Devi kemudian memfokuskan diri pada pengembangan batik berfilosofi, wayang, dan karawitan sebagai fondasi utama RSBS.
Sementara itu, Radha mengambil peran penting dalam menghidupkan seni kriya, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari ekosistem budaya yang terus tumbuh di RSBS.
Ketika ditanya bagaimana awal mula ide Kriya Radha Art Gallery muncul, Radha bercerita bahwa ketertarikannya pada dunia aksesoris sudah dimulai sejak ia kecil.
Ia menyukai keindahan benda-benda penghias tubuh seperti kalung, gelang, dan anting yang pada awalnya hanya untuk dipakai sendiri.
Saat tumbuh besar, ia mulai membuat aksesori dengan tangannya sendiri, menggunakan bahan-bahan sederhana seperti sisa kulit, koin kuno, dan manik-manik.
Konsistensi itu terus terjaga hingga kini, sehingga berkembang menjadi kreativitas yang semakin kaya dengan penggunaan bahan yang lebih beragam.
Karya yang dihasilkan pun semakin lengkap, mulai dari tas, sepatu, sandal, hingga pakaian bertema etnik.
Radha menegaskan bahwa kriya di RSBS bukan sekadar kerajinan tangan.
Setiap karya membawa makna “jejak nenek moyang,” terutama setelah ia mempelajari sejarah aksesoris melalui berbagai arca di candi-candi.
Dari sana ia melihat bahwa manusia masa lalu, baik perempuan maupun laki-laki menghias tubuh mereka dari kepala hingga kaki dengan sangat detail.
Baca juga: Termahal Sepanjang Masa! Lukisan Frida Kahlo ‘El Sueño’ Laku Rp880 Miliar di Sotheby’s
Aksesoris tidak hanya berfungsi estetis, tetapi juga menjadi penanda jabatan dan status dalam kehidupan kerajaan pada masa itu.
Makna inilah yang ingin ia hidupkan kembali melalui karya-karya di Radha Art.
Radha mengakui bahwa kriya memang menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Tolak ukur itu terlihat dari bahan yang digunakan, yang banyak terinspirasi dari era lampau logam, batu-batuan, hingga permata.
Proses pembuatannya pun mengadaptasi teknik tradisional, seperti melebur logam dengan panas hingga mencair, mencetak kembali, membentuk sesuai desain, lalu menambahkan hiasan seperti batu atau permata.
Melalui proses itu, sebuah karya tidak hanya menjadi barang estetis, tetapi juga pembawa cerita sejarah.
Baca juga: Wakil Wali Kota Surakarta: “Kado Mama” Inovasi Pelestarian Seni Tradisi
Selain pelestarian, Radha Art juga membawa misi khusus yaitu membuka wawasan dan pengetahuan masyarakat bahwa aksesoris bisa dihasilkan dari bahan-bahan sederhana di sekitar kita, termasuk limbah kain atau sisa potongan saat membuat pakaian.
Bahan-bahan ini dapat dikreasikan menjadi aksesori seperti kalung yang tidak hanya bernilai estetis, tetapi juga memiliki nilai ekonomi.
Dengan begitu, kriya menjadi ruang pemberdayaan, kreativitas, sekaligus pelestarian budaya yang relevan bagi generasi masa kini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan