INDOZONE.ID - Panggung seni pertunjukan Jakarta kembali diramaikan oleh aksi memukau dari ratusan penari muda berbakat.
Penampilan tersebut dilakukan oleh RAFA International Dance School yang sukses menggelar pertunjukan kolosal bertajuk GROWTH di Gedung Teater Besar, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat.
Pertunjukan ini menjadi bagian dari perayaan 13 tahun perjalanan RAFA dalam mengenalkan sekaligus melestarikan budaya Indonesia melalui kreativitas generasi muda.
Menariknya sekolah tari tersebut lahir dari kecintaan pendirinya terhadap dunia seni.
Di sisi lain sang pendiri juga ingin menghadirkan ruang belajar yang lebih terbuka agar setiap anak memiliki kesempatan untuk berkembang melalui tarian.
“Sebenarnya RAFA ini berawal dari passion dan mimpi saya dulu di masa lalu. Saya melihat banyak hal di dunia tari yang mana saya merasa masih kurang inklusif. Makannya dari situ saya ingin membuka suatu institusi pendidikan tari informal yang bisa mewadahi setiap anak untuk bertumbuh dan berproses,” ujar Miss Nevin Rafa Kusuma, selaku Pendiri RAFA International Dance Scool (19/7/2026)
Selain itu tema yang membawa gelaran ini terinspirasi dari semangatnya.
Jadi tema gelaran tersebut menggambarkan perjalanan panjang para murid sejak pertama kali belajar hingga mampu tampil percaya diri di atas panggung besar.
Bagi Nevin, keberhasilan seorang anak dalam menari tidak hanya dapat diukur dari jumlah penghargaan yang diperoleh, tetapi juga dari perkembangan mental dan kepercayaan dirinya.
“Bagi saya, bertumbuh lebih mengarah pada sebuah proses. Jadi, bagi kami bukan tentang berapa banyak medali yang didapatkan para murid, tetapi bagaimana mereka menjalani setiap prosesnya. Dari yang awalnya belum bisa menjadi bisa, lalu dari yang belum percaya diri menjadi lebih percaya diri,” tuturnya.
Uniknya, lebih dari 250 siswa bterlibat dalam pementasan dengan membawakan 27 tarian yang memiliki karakter dan tingkat kesulitan berbeda.
Nah inilah letak tatangan yang besar bagi para pengajar untuk mempersiapkan ratusan anak tersebut agar mampu tampil kompak dalam puluhan koreografi tentu.
Meskipun begitu ternyata ada tatangan lainnya untuk membuat pentas gelaran spesial ini.
Head Program RAFA, mengakui tantangan terbesar bukan hanya terletak pada penyusunan gerakan untuk lebih kompak saja.
Namun dalam proses pengajaran dan memastikan setiap murid memahami cerita sekaligus makna dibalik tarian mereka merupakan tatangan yang besar.
“Tantangan terbesarnya bukan hanya menyusun koreografi. Kali ini ada 27 tarian yang melibatkan 250 penari. Selain mengajarkan koreografi, kami ingin anak-anak bukan sekadar menari, tetapi benar-benar memahami tariannya. Sebagai guru, kami harus menjelaskan latar belakang dari setiap tarian tersebut,” jelas Felicia selaku Head Program RAFA.
Daya tarik lain dari pertunjukan ini terlihat melalui konsep aransemen musik dan koreografi yang ditampilkan.
Penonton disuguhi perpaduan tarian Nusantara dengan berbagai aliran modern seperti jazz, hip-hop, dan balet. Perpaduan tersebut sengaja dihadirkan agar budaya Indonesia tetap relevan serta menarik bagi generasi muda.
Felicia menegaskan bahwa RAFA ingin membentuk penari yang mampu bersaing secara global tanpa kehilangan identitas budaya Indonesia.
Baca juga: Konser Dewa 19 All Stars 2.0 Tetap Digelar di GBK: Siap Jadi Gelaran Rock Terbesar Tahun Ini
Oleh karena itu, unsur Nusantara tetap menjadi bagian penting dalam setiap karya yang ditampilkan.
Pertunjukan kemudian ditutup secara dramatis melalui kemunculan versi dewasa dari tokoh utama.
Karakter tersebut menggambarkan kegelisahan yang kerap dialami remaja perkotaan ketika menghadapi perkembangan zaman.
Ia berusaha mengikuti arus modernitas tanpa harus melupakan permainan tradisional dan kenangan masa kecil yang menjadi bagian dari identitasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Press Rilis