INDOZONE.ID - Salah satu karakter fiktif era modern yang dianggap sangat ikonik dan telah dibedah dalam berbagai jurnal adalah sosok Hannibal Lecter. Sosok psikiater psikopat yang juga kanibal ini yang diperankan aktor Anthony Hopkins di "Silence of the Lambs" yang dirilis 1991 silam.
Karakter yang pertama kali muncul dalam novel karya Thomas Harris, "Red Dragon" pada 1981 silam ini menjadi tokoh yang banyak dibicarakan bahakan dibedah secara ilmiah. Apalagi setelah film dan aktor pemerannya meraih Penghargaan Oscar pada 1992 lalu.
Nah, Indozone merangkum beberapa hal menarik dari karakter Hannibal Lecter tersebut. B
Dalam The Silence of the Lambs (1991) dan Hannibal (2001), karakter Lecter dibingkai dengan sinematografi dan mise-en-scène yang sangat estetis.
Baca juga: Terinspirasi Kisah Nyata, Inilah 5 Film Dokumenter Serial Killers di Netflix yang Bikin Merinding!
Dalam jurnal 'Hannibal Lecter and the Murderous Aesthetic: Taste and Terror' karya James Kendrick di The Velvet Light Trap (2008)', peneliti meriset ketika ia membunuh, terutama dalam adegan kanibalisme, penonton disuguhkan visual yang bersih, elegan, bahkan menyerupai seni kuliner kelas atas.
Kendrick menyebut ini sebagai “murderous aesthetic”—bagaimana kekejaman Lecter disajikan secara artistik sehingga menimbulkan ambivalensi emosi pada penonton: jijik tapi terpesona.
Kesuksesan karakter Lecter dalam film sangat bergantung pada penampilan Anthony Hopkins. Menurut 'The Silence of the Lambs: Psychological Profile and Audience Engagement' karya Clara Fernandez-Vara di Film & Philosophy (2001), dengan hanya tampil sekitar 16 menit dalam The Silence of the Lambs, Hopkins berhasil membuat karakter Lecter mendominasi film melalui gestur minim, tatapan intens, dan suara lembut namun mengancam.
Penonton merasa tertarik—bahkan nyaman—berada dalam interaksi dengannya, meskipun secara logika ia sangat berbahaya.
Sosok Hannibal Lecter. (IMDB)
Interaksi antara Lecter dan Clarice Starling di layar lebar menciptakan ketegangan emosional yang kaya. Sarah Kozloff dalam jurnal 'Psychopathy and the Predator-Prey Dynamic in The Silence of the Lambs' di Cinema Journal (2005), menyebut dinamika ini sebagai bentuk “intimasi predatorik”—hubungan yang saling menguntungkan namun berbahaya.
Baca juga: Pelaku Mutilasi Perempuan di Padang Pariaman Mengarah Psikopat, Patut Dihukum Mati?
Lecter tidak pernah menyakiti Clarice, bahkan membantunya, menciptakan ruang bagi penonton untuk berempati pada dirinya. Hubungan mereka ditampilkan seperti permainan psikologis intens yang menggoda dan membuat ketagihan.
Dalam 'Evil with Style: Hannibal Lecter as Cinematic Icon' karya – Cynthia Freeland' dalam antologi Philosophy and Film Noir (2007), Hannibal Lecter adalah contoh langka dari tokoh antagonis yang menjadi ikon film justru karena gayanya yang tak biasa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal