Foto Screening A Writer's Odyssey 2, di bioskop. (Indozone/Aries)
INDOZONE.ID - A Writer’s Odyssey 2 yang disutradarai oleh Lu Yang hadir sebagai kelanjutan dari kisah yang sebelumnya sudah mencuri perhatian. Kisahnya mengikuti novelis Lu Kongwen (Dong Zijian) yang berada di titik terendah hidupnya dan berusaha menghancurkan novel Killing God.
Dengan durasi sekitar 2 jam 14 menit dan genre yang memadukan fantasi, drama, aksi, serta perjalanan time paralel, film China ini menghadirkan pengalaman menonton yang gak hanya menghibur, tapi juga mengajak merenung.
Baca juga: Sinopsis dan Review 'One Battle After Another', Film Action Leonardo DiCaprio yang Lagi Hype
Salah satu kekuatan film ini ada pada penggarapan visualnya. Dunia novel dan dunia nyata saling berkaitan dengan artistik khas yang terasa segar serta bernuansa tradisional. Transisi antar dunia nyata dan dunia novelnya juga terjadi dengan alami tanpa terasa dipaksakan.
Adegan pertarungan hingga momen-momen emosional tampil meyakinkan, baik dari komposisi warna, tata sinematografi, maupun efek visual yang mendukung.
Film ini menunjukkan kemampuan sinema Tiongkok untuk menghadirkan visual yang megah tanpa kehilangan kedalaman cerita.
Alur cerita A Writer’s Odyssey 2 gak mencoba untuk jadi sederhana. Malah sebaliknya ia membangun putaran-plot yang mind blowing, tapi tetap menjaga benang merah agar penonton gak tersesat.
Setiap adegan, dari konflik hingga humor, punya porsinya sendiri. Momen sedih bisa berubah menjadi haru, lalu tiba-tiba diselingi komedi yang membuat satu ruangan bioskop bakal ngakak. Tapi semua terasa alami, dan gak dipaksakan.
Tokoh utama sang penulis Lu Kongwen (Dong Zijian) menjadi tokoh paling berkesan dalam film ini. Ia digambarkan mempunyai karakrter pribadi yang lemah serta sebagai sosok yang awalnya terpuruk dan penuh trauma. Tapi perlahan berkembang melalui berbagai proses dan ujian batin.
Perjalanan karakternya terasa realistis, menampilkan transformasi dari seseorang yang dikuasai rasa takut serta mudah dipengaruhi menjadi pribadi yang berani berdamai dengan masa lalu.
Kisah ini juga memperlihatkan bagaimana seseorang bisa kehilangan arah karena terlalu terobsesi pada sesuatu, hingga akhirnya belajar untuk kembali menikmati makna hidup yang sederhana.
Film ini sangat direkomendasikan untuk para pecinta fantasy, karena fantasinya benar-benar gak tanggung-tanggung serta setiap elemen dunia magis digarap dengan detail.
Baca juga: Review Battlefield 6: Jadi Titik Balik EA Kembalikan Identitas Asli Seri Legendaris
Selain itu, bagi pecinta manhwa, manhua, atau manga aksi dengan cerita bertema time parallel, transmigrasi, atau inkarnasi, film ini wajib masuk dalam daftar tontonan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pengamatan, Amatan