Sabtu, 20 DESEMBER 2025 • 14:57 WIB

Review Film Avatar: Fire and Ash, Visual Spektakuler dengan Konflik yang Terasa Familiar

Author

Poster Film Avatar: Fire and Ash (disney.id)

INDOZONE.ID - Film Avatar: Fire and Ash akhirnya resmi tayang di bioskop seluruh Indonesia. Sebagai film ketiga dari seri Avatar garapan James Cameron, kehadirannya langsung menimbulkan pertanyaan besar.

Mampukah Avatar: Fire and Ash menyaingi kesuksesan Avatar: The Way of Water yang meraup pendapatan lebih dari 2,3 miliar dolar AS?

Ekspektasi publik tentu berada di level tinggi. Dua film sebelumnya bukan hanya sukses secara komersial, tetapi juga menetapkan standar baru dalam sinema visual dan teknologi.

Baca juga: Terungkap di Persidangan Alasan Min Hee Jin Sebut ILLIT Plagiat: Untuk Melindungi New Jeans

Film ketiganya ini diharapkan mampu melanjutkan tradisi tersebut sekaligus memberi jawaban atas sejumlah pertanyaan yang tersisa dari film sebelumnya, tanpa harus mengorbankan pengalaman menonton yang memuaskan.

Visual Pandora yang Kembali Memukau

Soal visual, James Cameron rasanya tak perlu diragukan lagi. Keindahan planet Pandora kembali disuguhkan dengan skala yang epik dan detail yang memanjakan mata. Lanskap alam, makhluk hidup, hingga atmosfer dunia Pandora terasa hidup, terutama saat disaksikan dalam format IMAX dan 3D.

Menariknya, Cameron tidak hanya mengandalkan teknologi semata. Dalam wawancaranya bersama Discussing Film (19/12/2025), ia mengungkapkan bahwa dirinya mempelajari neuroscience atau ilmu saraf demi meningkatkan kenyamanan penonton saat menyaksikan Avatar dalam format 3D.

Baca juga: Dari Dreamband ke Realita Hidup, No Money No LUP Tetap Setia pada Rock

Cameron menjelaskan bahwa ketidaknyamanan saat menonton 3D bukan sekadar soal mata, melainkan bagaimana otak memproses persepsi stereoskopik.

“I mean I like what it does to smooth out the 3D experience… I actually like getting a bit of neuroscience into how I author the film so that I am as pleasing to the audience as we can be.” jelas James Cameron.

Pendekatan ini menunjukkan totalitas Cameron dalam memahami pengalaman menonton dari sisi biologis penonton, sehingga penggunaan frame rate tinggi dan pengolahan visual bukan hanya demi estetika, tetapi juga kenyamanan.

Baca juga: Cho Jin Woong Pensiun dan Drakor Signal 2 Kena Dampak, Ini Penjelasan dari tvN

Kehadiran Klan Baru di Dunia Pandora

Pada film ketiga ini, penonton diperkenalkan dengan dua klan baru di dunia Pandora. Pertama adalah Wind Traders, kelompok Na’vi yang dikenal mampu “menggiring makhluk raksasa Pandora untuk terbang di antara awan.” Kedua adalah Klan Ash, klan Na’vi yang berbasis di wilayah vulkanik dan merepresentasikan elemen api.

Baca juga: James Cameron Buka Peluang Director’s Cut untuk Avatar: Fire and Ash

Klan Ash diposisikan sebagai antagonis utama dalam film ini, dipimpin oleh karakter bernama Varang. Secara konsep, kehadiran dua klan ini membuka potensi besar untuk memperkaya dunia Avatar, baik dari sisi budaya, konflik, maupun filosofi.

Penampilan Wind Traders dalam Avatar: Fire and Ash (disney.id)

Penampilan Varang dalam Avatar: Fire and Ash (disney.id)

Antagonis Menarik, Namun Kurang Dieksplorasi

Sayangnya, potensi tersebut belum sepenuhnya tereksekusi maksimal. Klan Ash dan karakter Varang tidak diperkenalkan secara mendalam. Varang digambarkan sebagai sosok bengis yang membenci Eywa, namun film ini tidak memberikan ruang yang cukup untuk mengeksplorasi latar belakang emosionalnya secara utuh.

Baca juga: Rose Blackpink Jadi Artis Nomor 1 Tahun 2025 Versi Majalah Billboard

Meski dalam materi promosi disebutkan bahwa wilayah klan mereka hancur akibat aktivitas vulkanik, hubungan sebab-akibat tersebut tidak diperdalam melalui adegan atau kilas balik yang kuat. Padahal, secara naratif, konflik ini berpotensi bersinggungan menarik dengan karakter Kiri, Na’vi yang memiliki keterkaitan khusus dengan Eywa.

Ilustrasi anak Jake dan Neytiri dalam film Avatar 5 (IMDb)

Alih-alih menjawab kemungkinan pertemuan ideologis antara Varang dan Kiri, film ini tampaknya sengaja membiarkan pertanyaan tersebut menggantung, seolah disiapkan untuk eksplorasi di film selanjutnya.

Konflik Emosional yang Masih Berpusat pada Keluarga

Dari sisi cerita, Fire and Ash masih membawa benang merah konflik yang cukup familiar dengan film sebelumnya. Duka mendalam Neytiri atas kehilangan anaknya tetap menjadi emosi dominan, dengan fokus pada kemarahan, kesedihan, dan ikatan keluarga sebagai pusat narasi.

Pendekatan ini memang efektif secara emosional, namun di sisi lain membuat konflik utama terasa kurang segar. Alur dan tensi yang dibangun cenderung mengingatkan pada film keduanya, The Way of Water, sehingga sebagian penonton merasa film ketiga ini belum sepenuhnya keluar dari bayang-bayang pendahulunya.

Baca juga: 10 Film Natal Sepanjang Masa yang Wajib Ditonton Saat Liburan

Alasan di Balik Cerita yang Terasa Menggantung

Menariknya, keputusan cerita yang terasa belum tuntas ini sebenarnya memiliki latar belakang produksi. James Cameron bersama para penulis naskah, Rick Jaffa dan Amanda Silver, mengungkap bahwa Avatar: The Way of Water dan Avatar: Fire and Ash awalnya ditulis sebagai satu film besar sebelum akhirnya dipecah menjadi dua bagian.

Fakta ini menjelaskan mengapa beberapa elemen cerita terasa ditahan dan belum dieksplorasi secara maksimal. Meski demikian, hal tersebut tentu tidak menghentikan penggemar untuk memiliki ekspektasi tinggi terhadap pengembangan konflik dan karakter.

Baca juga: Disney Siapkan Live-Action Tangled, Sejumlah Aktor Muda Masuk dalam Pemeran Rapunzel

Penilaian dan Kesimpulan

Dengan durasi sekitar tiga jam, Avatar: Fire and Ash meraih skor 67 persen Tomatometer dan 91 persen Popcornmeter di Rotten Tomatoes. Angka ini menjadikannya film dengan skor kritikus terendah dibanding dua sekuel sebelumnya, meski tetap mendapatkan respons positif dari penonton umum.

Secara keseluruhan, totalitas James Cameron dalam menghadirkan visual dan kenyamanan menonton patut diapresiasi. Keindahan Pandora kembali menjadi daya tarik utama yang sulit ditandingi. Namun, dari sisi konflik dan pengembangan antagonis, film ini masih terasa kurang menggigit.

Baca juga: Tayang 24 Desember, Film 'Janur Ireng' Siap Menguak Asal-Usul Santet 'Sewu Dino'

Sebagai tontonan, Avatar: Fire and Ash masih tetap layak dinikmati di layar lebar. Namun, bagi penonton yang mengharapkan konflik baru yang benar-benar berbeda, film ini mungkin terasa sedikit familiar.

Lalu, bagaimana pendapatmu setelah menonton Avatar: Fire and Ash?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Discussingfilm.net

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU