INDOZONE.ID - Film Danur: The Last Chapter resmi menjadi penutup perjalanan panjang semesta horor Danur. Masih dibintangi Prilly Latuconsina, film ini melengkapi rangkaian kisah yang sebelumnya hadir lewat Danur: I Can See Ghost (2017), Danur 2: Maddah (2018), dan Danur 3: Sunyaruri (2019).
Menariknya, Danur: The Last Chapter tak hanya tayang di bioskop reguler. Film ini juga akan hadir dalam format IMAX, menawarkan pengalaman visual yang lebih luas, detail, dan imersif. Ini menjadi film ketiga produksi MD Pictures yang secara khusus digarap untuk format layar premium tersebut.
Produser sekaligus CEO MD Entertainment, Manoj Punjabi, menyebut keputusan membawa Danur: The Last Chapter ke IMAX bukan tanpa alasan. Menurutnya, kualitas adalah hal utama yang ingin dihadirkan kepada penonton, terutama untuk genre horor yang sangat bergantung pada atmosfer.
“Bagi saya, quality is everything. Kualitas itu segalanya. Dan ketika sebuah film bisa dieksplorasi di IMAX, itu akan melengkapi kualitas tersebut,” ujar Manoj saat peluncuran poster dan teaser film di IMAX Adora, Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (12/1).
Baca juga: Danur: The Last Chapter Hadir dengan Teror Baru yang Mencekam!
Manoj berharap kehadiran film lokal di layar IMAX bisa menjadi langkah untuk menaikkan standar industri perfilman Indonesia. Ia juga menegaskan bahwa IMAX hadir sebagai pilihan, bukan kewajiban, bagi penonton.
“Saya cuma ingin memberi opsi ke masyarakat. IMAX itu pilihan. Penonton tetap bisa menonton versi reguler. Tapi karena ini kualitas premium, saya ingin penonton punya kesempatan merasakan pengalaman itu,” jelasnya.
Ia juga mengaku kerap merasa gemas karena layar IMAX selama ini identik dengan film-film Barat. “Kenapa pilihannya harus selalu film luar? Film lokal juga bisa. Itu poin pentingnya,” tambah Manoj.
Dari sisi kreatif, sutradara Awi Suryadi menjanjikan pengalaman menonton yang berbeda dibandingkan film-film Danur sebelumnya, terutama ketika disaksikan di layar IMAX.
“Kalau ditonton di IMAX, set akan terlihat lebih jelas. Bahkan bisa sampai bikin orang bertanya, ‘Kameranya di mana? Lampunya di mana?’ Itu memang sengaja kami rancang,” kata Awi.
Bagi Prilly Latuconsina, Danur: The Last Chapter bukan sekadar film, melainkan penutup perjalanan emosional yang panjang. Karakter Risa Saraswati telah menemaninya selama satu dekade.
“Perasaannya campur aduk. Risa adalah karakter terlama yang melekat di hidup saya selama 10 tahun. Rasanya seperti benar-benar melepas sesuatu yang sudah menemani perjalanan saya,” ungkap Prilly.
Sebagai penutup, Danur: The Last Chapter tetap berakar kuat pada Danur Universe, semesta horor yang diadaptasi dari kisah dan pengalaman nyata Risa Saraswati. Cerita tentang Risa dan sahabat-sahabat gaibnya—Peter, William, Janshen, Hendrick, dan Hans—menjadi fondasi yang membesarkan waralaba ini.
Tak hanya film utama, Danur Universe juga berkembang lewat sejumlah spin-off seperti Asih dan Ivanna, yang saling terhubung dalam satu garis cerita besar. Dengan Danur: The Last Chapter, satu bab besar pun resmi ditutup, meninggalkan jejak panjang dalam sejarah film horor Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Press Release