Rabu, 04 MARET 2026 • 16:35 WIB

Tantangan Adaptasi Children of Heaven di Indonesia: Dari Restu Majid Majidi hingga Isu Budaya

Author

Sutradara dan Produser Ungkap di Balik Layar Film Children of Heaven (Indozone/Sagita)

INDOZONE.ID - Adaptasi Children of Heaven versi Indonesia bukan sekadar memindahkan cerita dari Iran ke Tanah Air.

Di balik proses produksinya, terdapat diskusi panjang soal hak cipta, sensitivitas budaya, hingga bagaimana menjaga ruh film aslinya tetap utuh.

Film yang diproduksi oleh MD Pictures ini merupakan adaptasi dari karya sutradara Iran Majid Majidi. Versi Indonesia tetap mempertahankan judul Children of Heaven dan digarap oleh Hanung Bramantyo sebagai sutradara.

Baca juga: 10 Film dan Serial Adaptasi Game yang Wajib Ditonton

Restu Majid Majidi: Jangan Eksploitasi Kesedihan

Pada konferensi pers yang dilaksanakan Epicentrum XXI, Rabu (04/03/2026) Hanung mengungkapkan, proses diskusi dengan pihak pemegang hak cipta di Iran menjadi momen yang sangat berharga.

Ia menekankan adanya pesan khusus dari Majid Majidi terkait adaptasi ini.

“Pesan terpentingnya adalah tidak mengeksploitasi kesedihan dan kemiskinan,” ujar Hanung.

Menurutnya, film ini justru harus menampilkan martabat manusia di tengah keterbatasan. Ia teringat saat pertama kali menonton film aslinya sekitar 15 tahun lalu.

Baca juga: 9 Daftar Film Indonesia Tayang Maret 2026: dari 'Juara Sejati' hingga 'Tunggu Aku Sukses Nanti'

Sejak saat itu, ia melihat bagaimana sinema Iran berbicara jujur tentang identitas mereka sendiri.

“Mereka jadi diri sendiri, bangga dengan lokalitasnya, itu yang membuat film Iran dicintai dunia,” katanya.

Nilai itulah yang coba dipertahankan dalam versi Indonesia, bukan sekadar menguras air mata, melainkan menunjukkan daya juang dan harga diri.

Menggeser Setting ke Indonesia Era 1980-an

Dari sisi produksi, tantangan besar muncul ketika cerita harus diadaptasi ke konteks Indonesia tanpa menghilangkan konflik utama: sepatu yang hilang dan ketakutan anak untuk jujur pada orang tua.

Manoj Punjabi menyebut latar waktu menjadi keputusan penting. “Kita sesuaikan. Ini dari sudut pandang anak-anak, dan setting 80-an itu lebih masuk akal,” ujarnya.

Menurutnya, jika langsung ditempatkan di era modern, konflik soal sepatu bisa terasa kurang relevan. Karena itu, latar tahun 1980-an dipilih agar kondisi sosial-ekonomi keluarga terasa lebih logis.

Baca juga: 10 Film Animasi Terlaris Sepanjang Masa di Box Office Global

Hanung menambahkan, keputusan era 1980-an bukan langkah tergesa-gesa, melainkan hasil pertimbangan matang. T

antangan terbesarnya justru ada pada detail budaya, termasuk soal penggunaan jilbab di sekolah.

“Di tahun 80-an, jilbab belum seperti sekarang. Itu jadi perdebatan panjang,” katanya.

Ia bahkan harus menentukan jenis sekolah yang sesuai dengan konteks sejarah saat itu. Setelah melakukan riset, Hanung memutuskan memindahkan latar ke Semarang, Jawa Tengah.

Baca juga: Resmi! Buku Filosofi Teras Diangkat ke Layar Lebar oleh MD Pictures, Intip Para Pemain dan Sutradara yang Terlibat

“Semarang itu plural. Ada Jawa, Batak, Tegal, semuanya ada. Itu kanvas Indonesia yang tepat,” jelasnya.

Sekolah Muhammadiyah dipilih sebagai latar karena secara historis relevan dengan dinamika penggunaan jilbab pada masa tersebut. Detail-detail ini, menurut Hanung, penting agar film tetap autentik dan tidak terjebak pada romantisasi masa lalu.

Menjaga Esensi Cerita Asli

Secara garis besar, kisahnya tetap mengikuti perjuangan kakak-beradik yang harus berbagi sepatu karena keterbatasan ekonomi. Sepasang sepatu yang hilang menjadi simbol tanggung jawab, rasa bersalah, sekaligus cinta.

Dalam trailer resmi, diperlihatkan sang kakak yang mengikuti lomba lari dengan harapan bisa memenangkan hadiah sepatu untuk adiknya. Momen ini menjadi penegas bahwa film bukan hanya tentang kemiskinan, melainkan tentang pengorbanan dan keteguhan hati.

Baca juga: Film Pendek "Hari Yang Kita Tunggu" Dirilis Menyambut Perayaan Imlek Festival Nasional: Ada Cameo 2 Wamen

Adaptasi Children of Heaven versi Indonesia pun dihadapkan pada ekspektasi tinggi, mengingat film aslinya pernah masuk nominasi Oscar kategori Film Berbahasa Asing Terbaik. Namun bagi tim produksi, tantangan itu justru menjadi motivasi.

Alih-alih sekadar meniru, mereka memilih meresapi esensi cerita, tentang resiliensi, harga diri, dan kasih sayang dalam keluarga yang kemudian diterjemahkanke dalam konteks budaya Indonesia yang otentik.

Nantikan film Children of Heaven yang akan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai tanggal 27 Mei 20261 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU