Kamis, 23 APRIL 2026 • 12:30 WIB

Review 'Para Perasuk', Film dengan Konsep Berani dan Visual yang Memikat

Author

Maudy Ayunda berperan di film 'Para Perasuk'. (Istimewa)

INDOZONE.ID - Pasca berkelana di panggung festival film internasional, Para Perasuk akhirnya resmi menyapa penikmat sinema di tanah air.

Karya terbaru Wregas Bhanuteja ini sangat dinantikan, terutama karena kehadiran jajaran aktor papan atas seperti Angga Yunanda, Maudy Ayunda, hingga Anggun C. Sasmi.

Dalam acara pemutaran perdana bagi media di XXI Epicentrum, Jakarta, pada Selasa (14/4/2026), kesan unik begitu mendominasi seluruh film. 

Wregas berhasil mengonstruksi semesta baru yang membedah perspektif para pelamun saat kesadaran mereka bertransisi ke alam sambetan.

Penting untuk dicatat bahwa film ini bukanlah sajian horor mistis; fenomena kerasukan di sini justru digambarkan sebagai pengalaman yang membawa kebahagiaan bagi subjeknya.

Baca juga: Cerita Angga Yunanda Jalani Adegan Sulit di 'Para Perasuk': Aku Sampai Sesak Napas

Sambutan meriah yang menutup sesi press screening seolah menjadi bukti bahwa film panjang ketiga Wregas ini berhasil meninggalkan impresi yang kuat.

Lantas, seperti apa film Para Perasuk? Simak sinopsis dan review filmnya di bawah ini!

Sinopsis Film Para Perasuk

Film ini berfokus pada sebuah desa kecil di pinggiran kota bernama Desa Latas, yang memiliki sebuah tradisi turun temurun yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan dan hiburan masyarakat, yakni pesta sambetan (kerasukan).

Di pesta tersebut para warga nantinya akan mengalami kerasukan 20 roh binatang yang berbeda. Sambaten sendiri merupakan pesta yang membuat para warga dapat merasakan apa yang tidak dapat dirasakan di dunia nyata.

Kisah ini berpusat pada ambisi Bayu untuk menyandang gelar Perasuk, sebuah obsesi yang menyeretnya ke dalam persaingan sengit sebuah sayembara.

Namun, kedamaian desa mereka terancam runtuh saat mata air keramat, jantung spiritual dan urat nadi warga, menjadi incaran perusahaan besar yang berniat menyulapnya menjadi hotel mewah.

Bayu pun bertekad untuk jadi Perasuk utama yang akan memimpin pesta besar-besaran demi mengumpulkan dana untuk menebus kembali mata air itu.

Akan tetapi, di tengah perjalanannya, Bayu sadar jika ambisi saja tidak cukup untuk menjadikannya Perasuk sejati, apalagi untuk menyelamatkan desa yang ia cintai.

Mengusung Konsep Unik yang Dibalut Fantasi 

Menonjolkan elemen fantasi yang kuat, Para Perasuk hadir dengan narasi yang menantang pakem perfilman pada umumnya. 

Meskipun atmosfer alam sambetan dan humor awalnya memerlukan waktu untuk dapat dinikmati, keunikan tersebut justru menjadi nilai tambah di tengah berjalannya cerita. 

Wregas melampaui batasan genre horor konvensional dengan menjadikan fenomena kerasukan sebagai metafora ruang refleksi bagi individu yang ingin menghindar dari realitas. Sebuah keberanian visual dan ide yang patut diapresiasi.

Keunikan film ini terpancar dari keberaniannya mengusung genre fantasi dengan detail dunia yang digarap secara serius. 

Elemen seperti alam sambetan dan roh-roh binatang diciptakan sedemikian rupa untuk membangun atmosfer yang mendalam bagi penonton. 

Keunggulan lainnya terletak pada pengemasan cerita yang multidimensi; menyatukan konflik personal, kehangatan keluarga, dan pesan sosial dalam satu wadah. 

Kombinasi ini sukses membuat film tersebut tidak hanya menonjol secara estetika, tetapi juga membekas di hati karena kedalaman emosinya.

Koreografi, Scoring, dan Akting Luar Biasa Para Pemain: Menghidupkan Karakter Satu Sama Lain

Kombinasi antara koreografi yang bermakna dan scoring yang atmosferik sukses menciptakan pengalaman menonton yang magis, terutama saat menggambarkan transisi ke dunia roh. 

Performa Maudy Ayunda patut diacungi jempol karena keberaniannya mengambil peran yang menuntut fisik secara ekstrem dengan hasil yang sangat natural. 

Selain itu, kekuatan akting Angga Yunanda dan Indra Birowo dalam membawakan konflik keluarga memberikan kedalaman tersendiri pada film ini. 

Penonton diajak untuk menyelami sisi kemanusiaan seorang ayah melalui perkembangan karakter yang emosional dan penuh makna.

Sebagai film debut pertamanya, performa Anggun terasa ikonik dan natural. Tak hanya dari sisi akting, melainkan ia juga tampil meyakinkan dari sisi penampilan hingga riasan.

Bryan Domani membuktikan kualitas aktingnya lewat perubahan drastis pada gestur dan gaya bicara yang sangat berbeda dari karakter-karakter sebelumnya. 

Kendati tampil dengan gaya visual yang unik, daya tarik Bryan tetap tidak memudar.Kehadiran Chicco Kurniawan pun melengkapi dinamika pemain dengan pembawaan yang tenang namun terlihat sangat keren setiap kali ia beraksi bersama gitarnya.

Baca juga: Kesampingkan Rasa Malu, Maudy Ayunda Rela Melata di Tanah demi Film 'Para Perasuk''

Sinematografinya Khas, tapi CGI-nya terasa kurang mulus 

Selain naskah yang solid, keunggulan film ini terpancar dari sinematografinya yang autentik. Penonton seolah diajak menyelami dunia rekaan Wregas yang penuh warna, di mana setiap fragmen cerita memiliki aura visual yang khas. 

Kita bisa melihat keindahan ini pada adegan kesurupan roh kupu-kupu yang menghadirkan latar alam sambetan penuh bunga yang sangat memanjakan mata. 

Walaupun terdapat beberapa titik di mana kualitas CGI terasa sedikit kasar dan kurang menyatu, hal itu tidak lantas merusak suasana.

Daya pikat utama film ini tetap terletak pada orisinalitas konsep dunianya yang memberikan sensasi menonton yang berbeda dari biasanya.

Nah, itulah review film Para Perasuk! Buat kamu yang sedang mencari tontonan unik, eksperimental, dan penuh imajinasi, film ini layak untuk ditonton.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Amatan Penulis

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU