INDOZONE.ID - Aktor kawakan Dimas Aditya kembali menunjukkan kemampuannya dalam seni peran melalui film thriller psikologis bertajuk Juminten Edan. Pria yang melejit lewat film Kawin Kontrak ini memerankan tokoh Manto yang memiliki karakter penyayang dan penuh perjuangan.
Dimas saat ini sudah menginjak usia 41 tahun dan berstatus sebagai suami dari aktris berbakat Tika Bravani. Ia mengungkapkan bahwa prioritasnya dalam memilih pekerjaan mulai bergeser sejak dirinya memikul tanggung jawab sebagai kepala keluarga.
Ayah satu anak ini sekarang lebih mementingkan faktor manajemen waktu dan kecocokan honor saat menerima tawaran bermain film. Ia tidak lagi berambisi mengejar idealisme yang terlalu muluk demi sebuah karya seni seperti saat masa mudanya dulu.
"Belakangan sih nggak, tapi sedikit mungkin iya. Tapi kalau dulu tuh gue picky banget. Sekarang tuh udah menjalar sejak gue berkeluarga jadi gue kayak ya udahlah gitu. Dan emang gue nggak ada yang gue kejar sih sekarang pokoknya. Nggak ada yang gue kejar, jadi kayak dulu kan mungkin gue masih ngejar kayak karya gue pengen yang gini gini segala macam. Sekarang gue nggak ngoyo-ngoyo, jadi kalau misalnya ada yang oke, jadwalnya masuk, angkanya masuk, ya sikat!" ucap Dimas Aditya saat ditemui di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (16/7/2026).
Baca juga: Rambut Rontok Picu Kebotakan Dini, Tika Bravani Support Dimas Aditya Transplantasi Rambut
Meskipun mengaku tidak lagi "ngoyo", Dimas tetap menunjukkan profesionalisme tinggi dengan menguasai bahasa isyarat dalam waktu kilat. Ia harus mempelajari cara berkomunikasi unik tersebut hanya dalam waktu tiga hari sebelum proses pengambilan gambar dimulai.
Kejadian ini bermula saat sutradara Dedi Mercy mengubah detail karakter secara mendadak menjelang hari pertama produksi film berlangsung. Perubahan karakter Juminten menjadi sedikit tunarungu memaksa Dimas untuk segera beradaptasi dengan gerakan tangan yang sangat kompleks.
"Wah, gila sih kalau belajarnya tiga hari saya. Pak Dedi tuh. Karena dari awal sebenarnya enggak, karakternya ternyata perkembangan. Pak Dedi awalnya tuh nanya, 'Nih Pak saya perlu belajar bahasa isyarat enggak?' 'Oh enggak enggak, karakternya Juminten tuh cuma tunawicara, dia enggak tunarungu.' Jadi sebenarnya dia bisa mendengar. Oke. Tiba-tiba pas mau last minute dia berubah nih, 'Kayaknya kita bikin dia sedikit tunarungu deh Mas Dimas karakternya.' Jadi Mas Dimas harus belajar bahasa isyarat. Itu kan kayak... untungnya Pak Dedi ya. Kalau lebih muda dari gue tuh gue enggak tahu tuh entar nasibnya. Cuman 'Oke oke Pak, oke.' Akhirnya belajar dengan cepat ya mau enggak mau ya, instan," tutur Dimas Aditya.
Bintang film Pengabdi Setan ini juga secara terbuka membatasi peran dalam film yang menuntut adegan laga yang menguras tenaga. Ia merasa kebugaran fisiknya sudah tidak cukup ideal untuk melakukan aksi banting-membanting tubuh yang berisiko bagi kesehatan.
Baca juga: Dimas Aditya Alami Krisis Kepercayan Diri karena Kebotakan, Gercep Transplantasi Rambut
Keputusan Dimas untuk bergabung dalam proyek ini murni karena ia sangat mengagumi visi penyutradaraan yang dimiliki oleh Dedi Mercy. Ia merasa sang sutradara selalu memberikan keleluasaan bagi para aktor untuk mengembangkan karakter agar selaras dengan kebutuhan cerita.
"Jujur sih sebenarnya sebelumnya beberapa kali melihat filmnya Pak Dedi Mercy ya. Terakhir aku lihat Jingga. Terus kayak menarik nih, kayaknya dia punya visi sendiri dalam membuat film. Dan pas akhirnya ada tawaran Juminten dan aku tahu sutradaranya dia, aku kayak akhirnya aku berani untuk mencoba bekerja sama dengan Pak Dedi. Dan hasilnya ternyata memang dia punya visi yang oke sebagai sutradara, dan dia juga ngasih ruang kepada para aktornya untuk mengembangkan karakter sesuai yang dibutuhkan oleh cerita. Jadi kerja sama yang sampai sekarang ini menurutku salah satu kerja sama yang cukup solid dengan Pak Dedi," katanya.
Juminten Edan mengisahkan Juminten (Meisya Amira), seorang perempuan penyandang disabilitas rungu dan wicara, yang kembali ke pulau tempat kelahirannya bersama suaminya, Manto (Dimas Aditya). Di sana, ia harus membongkar misteri kelam keluarganya sekaligus menghadapi trauma masa lalu yang kembali menghantuinya dalam balutan teror mistis yang mencekam.
Film Juminten Edan dijadwalkan tayang perdana di seluruh bioskop Indonesia pada 23 Juli 2026.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan