Selasa, 19 MEI 2026 • 19:42 WIB

20 Lagu Daerah Jawa Timur: Lirik, Asal, dan Maknanya yang Kaya Pesan Moral

Author

Taman di Suro dan Boyo di Surabaya, ikon kota Surabaya. (Instagram/@surabaya)

INDOZONE.ID - Jawa Timur adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki ragam budaya luar biasa, tak terkecuali dalam hal kesenian musik. Lagu daerah Jawa Timur sangat unik karena liriknya mencerminkan kekayaan linguistik setempat, mayoritas dibawakan dengan bahasa Jawa dialek khas Timuran (seperti Suroboyoan) hingga bahasa Madura yang kental.

Jika ditelusuri maknanya, sederet lagu asal Jawa Timur ini tidak sekadar menjadi pelengkap hiburan atau pengiring tarian tradisional. Di dalam lirik-liriknya, terselip pesan moral yang mendalam, mulai dari ajakan untuk bersyukur, kerukunan bermasyarakat, dokumentasi sejarah pahlawan, hingga menceritakan tradisi atau mata pencarian sehari-hari, seperti kerapan sapi dan kerasnya kehidupan nelayan.

Bagi Anda yang sedang mencari referensi tugas sekolah atau sekadar ingin bernostalgia melestarikan kebudayaan Nusantara, berikut INDOZONE sajikan daftar lagu daerah Jawa Timur terlengkap.

Baca juga: Sejarah Lagu Mariam Tomong Berasal dari Daerah Tapanuli Sumatera Utara

Lagu Daerah Jawa Timur Paling Populer

Mari mulai dengan lagu-lagu ikonik yang rasanya hampir semua penduduk Jawa Timur dan luar daerah pernah mendengarnya.

1. Rek Ayo Rek (Asal: Surabaya)

Berasal dari Kota Pahlawan, "Rek Ayo Rek" menceritakan kebiasaan anak-anak muda Surabaya di malam Minggu yang pergi berjalan-jalan ke kawasan bersejarah, Jalan Tunjungan. Lagunya sarat akan ajakan bergembira, mencari kenalan, mencicipi kuliner rujak cingur, dan melupakan kesedihan meski uang saku pas-pasan.

Lirik:
Rek ayo rek mlaku mlaku nang Tunjungan
Rek ayo rek rame rame bebarengan
Cak ayo cak sopo gelem melu aku
Cak ayo cak nggolek kenalan cah ayu
Ngalor ngidul liwat toko ngumbah moto
Masio mung senggal senggol ati lego
Sopo ngerti nasib awak lagi mujur
Kenal anake sing dodol rujak cingur
Jok dipikir kon podho gak duwe sangu
Jok dipikir angger podho gelem mlaku
Mangan tahu jok dicampur nganggo timun
Malam minggu gak apik digawa nglamun

2. Tanjung Perak (Asal: Surabaya)

Lagu berbahasa Indonesia Melayu kuno ini diciptakan untuk menggambarkan hiruk pikuk dan kemeriahan Pelabuhan Tanjung Perak. Zaman dahulu, pelabuhan ini tak hanya sekadar tempat bongkar muat, tapi juga tempat bersantai sambil bermain musik keroncong di bawah terang bulan.

Lirik:
Waktu terang bulan, udara bersinar terang
Teranglah sekali di kotalah Surabaya
Belum berapa lama saya duduk dengan bimbang
Datang kawan saya Pak Joni itu namanya
Mari mari mari kita pergi tanjung perak
Panggil satu taksi kita soraklah bersorak.. Taksi!
Tanjung perak tepi laut
Siapa suka boleh ikut
Bawa gitar keroncong piul
Jangan lupa bawa anggur
Tanjung perak tepi laut  

3. Jembatan Merah (Asal: Surabaya)

"Jembatan Merah" (ciptaan Gesang) adalah tembang berirama keroncong yang mellow. Lagu ini menyoroti nilai sejarah pertempuran 10 November 1945, menceritakan kepedihan seorang wanita yang harus merelakan kekasihnya pergi ke medan juang melawan Belanda, namun sang kekasih tak kunjung kembali.  

Lirik:
Jembatan merah sungguh gagah berpagar gedung indah
Sepanjang hari yang melintasi silih berganti
Mengenang susah hati patah, ingat jaman berpisah
Kekasih pergi sehingga kini belum kembali
Biar Jembatan Merah, andainya patah, akupun bersumpah
Akan kunanti dia di sini, bertemu lagi  

4. Grimis-Grimis (Asal: Banyuwangi)

Lagu khas dari daerah ujung timur pulau Jawa ini menceritakan tentang pentingnya menjaga kerukunan. Liriknya menasihati agar kita bersikap "ksatria" yang berani bicara terus terang di depan, dan pantang menjelekkan orang lain dari belakang.

Lirik:
Grimis-grimis malem Kemis
Ayu kemulan ben aja kademen
Musime rendeng rata rata kabeh 'dha kadhemen
Ati lamis, ulat manis yen adep-adepan
Mesam mesem katon ayem ora nduwe dendem
Yen satriya terus terang
Aja seneng nyacat uwong yen saka mburine

5. Lindri (Asal: Jawa Timur)

"Lindri" adalah tembang dolanan yang mengajarkan manusia untuk senantiasa bersyukur. Lewat metafora menanak nasi dalam jumlah sedikit dan hanya berlauk ampas kelapa (bothok teri), lagu ini berpesan agar manusia tidak rakus dan selalu mensyukuri rezeki sekecil apa pun dari Sang Pencipta.

Lirik:
Lindri adhang telung pithi lawuhe bothok teri
Adhitutul a mak telep lep
A dhiemplok plok a mak telep
Pacak gulu cingkring adhuh yayi sendhal pancing
Adhudhangkrek krek adhuh dhangkrek krek

Baca juga: Lirik dan Makna 'Rabun Jauh' dari Bernadya, Lagu Galau yang Wajib Kamu Hafal

6. Cublak-Cublak Suweng

Tembang dolanan anak-anak warisan Walisongo ini sangat populer. Makna di baliknya merupakan bentuk dakwah, mengingatkan agar kita mencari harta bukan dengan hawa nafsu yang kosong (dhele kopong), melainkan dengan hati nurani.  

Lirik:
Cublak cublak suweng, suwenge ting gelèntèr,
Mambu ketundhung gudèl…
Pak empong lera-léré,
Sapa ngguyu ndelikkaké,
Sir sir pong dhelé kopong, sir sir pong dhelé kopong…

7. Jamuran

Permainan jamuran mengajari anak-anak nilai gotong royong, keberuntungan, kebersamaan, serta melatih interaksi sosial.

Lirik:
Jamuran ya ge ge thok
Jamu apa ya ge ge thok
Jamur gajih mberjijih sak ara-ara
Semprat-semprit Jamur apa

Lagu Daerah Jawa Timur Asal Madura

Suku Madura memiliki entitas budaya dan bahasa yang sangat melekat kuat di Jawa Timur. Berikut adalah deretan lagu-lagunya:

8. Tondu' Majang (Tanduk Majeng)

Bercerita tentang kerasnya perjuangan nelayan Madura. Lagu ini memotret taruhan nyawa yang dilakukan nelayan saat menerjang ombak ganas, berbekal tekad agar istri dan anak mereka di rumah bisa makan.

Lirik:
Ngapote wa lajara etangale
Reng majang tatona la pada mole
Mom Tengghu dari ambet da jhalanna
Ma'se bannya'a ongghu ollena
Du...mon ajhalling odi'na oreng majangan
Abhantal omba' sapo' angen salanjhanga
Ole...olang paraona alajara, Ole...olang alajara ka Madhura

9. Kerraban Sape (Kerapan Sapi)

Lagu ini merekam salah satu budaya paling ikonis di Madura, yaitu tradisi Kerapan Sapi. Liriknya menceritakan euforia penonton lokal maupun mancanegara yang berdatangan untuk menyaksikan lomba pacuan sapi.

Lirik:
Saban taone madura latan te rame
Banya kelaban badana kerraban sape
Banya rang manca pada datang dari jau
Bade nenggu a kerraban sape madura
E eeee sape menggir duli menggir

Area Kompleks Tugu Pahlawan di Surabaya. (Dok. Bappeko Surabaya)

10. Gai Bintang

Mengisahkan tentang seseorang yang berupaya meraup bintang menggunakan galah janur kuning. Meski gagal, ia bersyukur karena ternyata berhasil mendapatkan cahaya bulan. Maknanya: jangan patah semangat saat target tak tercapai, karena Tuhan sering menggantinya dengan hal yang lebih indah.

Lirik:
Gai bintang alek gagar bulan
Pagaina janor koneng
Kaka elang alek sajan jau
Pajauna gan lon alon
Leya letes kembang kates tokca tokcer

11. Kembang Malathe

Lagu melankolis ini merangkai pujian akan keindahan dan wanginya bunga melati, yang diibaratkan sebagai bentuk cinta, kesucian, dan hadiah paling cocok untuk wanita terkasih.

Lirik:
Kembang malathe pote, beunah ro’om ngapencote
Gik buru e pettek deri taman sare, ropana segger tor asre
Bennyak kembeng se sae, tak seddep akadhi malate
Menangka kasogen kaator kapotre, se seddep akadhi malathe

12. Pa’ Kopa’ Eling

Lagu ini merupakan tembang nasihat agar anak-anak kelak menjadi sosok religius. Liriknya berisi pesan moral agar manusia tidak lupa melaksanakan salat, mengaji, berpuasa, dan berbuat kebaikan sebelum maut menjemput.

Lirik:
Pa’ kopa’ eling, elingnga sakoranji,
Eppa’na olle paparing, ana’ tambang tao ngaji…
Ngaji babana cabbi, ka’angka’na sarabi potthon,
E cocco’ dhangdhang pote keba mole, e cocco’ dhangdhang celleng keba melleng

13. Re Sere Penang

Meski berdurasi singkat, lagu ini memuat wejangan universal bagi masyarakat Madura untuk selalu mengedepankan tata krama, menjaga attitude, dan memperbanyak amal perbuatan baik sebagai bekal di masa depan.

Lirik:
Re-sere penang, penangnga penang jambe,
Maju kaka’ maju ale’,
Pa bagus tengkana, lako becce’,
Kalellan e ka’dinto

Baca juga: 6 Rekomendasi Lagu Barat tentang Lelah dengan Keadaan: Dari "Trying My Best" hingga "Numb"

14. Lir-Saalir

Sebuah lagu kontemplatif yang mengajarkan pentingnya mengukur kemampuan diri (mawas diri). Liriknya berpesan agar manusia berhenti memaksakan diri atau membandingkan gengsi dengan orang lain.

Lirik:
Lir sa alir lir sa alir alir a lirghung (2x)
Sapa neka se ngombhi’ tarnya’, Lengcelleng lebbha’ buwana
Sera dhika ka’ se andhi’ ana’, Ethengpantheng seddha’ robana

15. Set-Seset Maloko

Secara makna sastrawi, lagu yang sering dinyanyikan saat menerbangkan layang-layang ini menceritakan tentang pergeseran musim hujan (yang membawa panen) menuju musim kemarau di tanah Madura.

Lirik:
Set-seset maloko’
Iya tompe, iya bu’bu’
Tompena bagi ka mama’na, bu’ bu’na bagi ka embu’na

16. Ker Tanoker

Dalam bahasa Madura, "tanoker" berarti kepompong. Zaman dahulu, lagu ini dinyanyikan ketika dua orang anak sedang marahan. Salah satu anak akan memancing temannya dengan mencari kepompong agar mereka bisa bersahutan menyanyi dan berbaikan kembali.

Lirik:
Ker-tanoker, dimma bara’ dimma temor
Ker-tanoker, sapa nyapa kaadha’ lanjang omor
Ker-tanoker jambuna massa’ saseba’... ### 17. Jan Anjin
Ini adalah lagu ajakan pola hidup bersih dan sehat sedari dini. Jan Anjin mengingatkan anak-anak untuk mandi secara teratur agar tubuh mereka kuat dan tidak gampang jatuh sakit.

Lirik:
Jan anjin lang kocipla’ lan koceblung
Ngala’ aéng badai bagung
Kapandiya jaga tedhung, ta’ cipla’ ciblung

18. Bapak Tane

Senada dengan Tondu' Majang yang memuliakan profesi nelayan, Bapak Tane (Bapak Tani) adalah ode penghormatan bagi para petani. Lagu berbahasa Madura ini menceritakan ketekunan petani yang bekerja keras menggarap sawah sejak matahari terbit. Liriknya memuat pesan bahwa setiap kerja keras dan tanggung jawab pasti akan membuahkan hasil panen yang melimpah.

Lirik:
Bapak tane setedhung 'pon padhe jege
Ngala' are, solandhu' ben capenga
A jelena entara kawajiban
Bapak tane 'pon a lako ci' patengah
Ampon anye hasela ber benyakan

19. Lir Ilir

Tembang dakwah mahakarya Sunan Kalijaga ini sangat melekat kuat dalam budaya Islam di Jawa Timur. Lagu ini bermakna seruan agar umat manusia lekas bangun (ngelilir) dari kelalaian duniawi dan segera memperbaiki keimanan layaknya merajut kain yang robek (dondomana jlumatana), sebelum maut diumpamakan sebagai waktu sore hari tiba.

Lirik:
Lir ilir, lir ilir, tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar
Cah angon, cah angon, penekna blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekna, kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro, dodotiro, kumitir bedhah ing pinggir
Dondomana, jlumatana kanggo seba mengko sore
Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane
Yo suraka, surak hiyoo

Baca juga: Dari Toronto, Agnez Mo Suarakan Kepedulian untuk Indonesia Lewat Lagu Ibu Pertiwi dan Indonesia Pusaka, Suaranya Bikin Merinding!

20. Dhe Nong Dhe Ne Nang

"Dhe Nong Dhe Ne Nang" adalah salah satu kidung atau lagu dolanan tradisional khas Madura yang sarat akan pesan filosofis. Dalam bahasa Madura, dhe' nong dhe' memiliki arti merunduk. Lagu ini mengajarkan anak-anak sejak dini tentang pentingnya sikap tawadhu' (rendah hati), menghormati orang yang lebih tua, serta pengingat untuk senantiasa berserah diri kepada Sang Pencipta (haeto lillah).

Lirik:
Dhe' nong dhe' ne' nang
Nanganang nganang nong dhe'
Nong dhe' ne' nang jaga jaggur
La sayomla haeto lillah
Ya amrasol kalimas topa'

Menyanyikan lagu daerah Jawa Timur adalah cara termudah dan paling menyenangkan untuk mewariskan nilai-nilai keluhuran Nusantara kepada generasi penerus. Dari merdunya keroncong Surabaya, magisnya tembang berbahasa Madura, hingga cerianya dolanan anak berbahasa Jawa, setiap liriknya menjadi cerminan bahwa nenek moyang kita adalah masyarakat yang tangguh, religius, dan berjiwa luhur.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU