INDOZONE.ID - Tahun ini, Java Jazz Festival 2026 siap menghadirkan konsep baru di venue terbarunya yang berlokasi di kawasan PIK 2. Dalam press conference yang digelar pada Senin (25/5/2026), Presiden Java Jazz Festival, Dewi Gontha, mengungkapkan bahwa perpindahan lokasi membuat penyelenggara harus mempersiapkan berbagai aspek tambahan, mulai dari transportasi hingga akomodasi pengunjung, dan tentunya musisi yang pilihan.
Kira-kira fasilitas apa saja yang dihadirkan?
Menurut Dewi, banyak pengunjung dari luar kota maupun luar negeri yang masih belum familiar dengan area venue baru. Karena itu, pihak penyelenggara menyediakan transportasi dengan moda transportasinya. Salah satunya shuttle untuk mempermudah akses dari hotel-hotel sekitar menuju area festival.
“Dulu kita gak terlalu peduli dengan akomodasi, sekarang jadi harus mengusulkan akomodasi. Karena kan banyak orang-orang juga yang belum tau ya, baiknya dari luar kota, dari luar negeri maupun bahkan ya dari Jakarta gitu,” ujar Dewi kepada wartawan.
Selain menghadirkan deretan penampil musik, Java Jazz Festival 2026 juga membawa berbagai pengalaman baru bagi pengunjung dengan berbagai aktivasi. Dewi menyebut tahun ini akan ada area red carpet untuk berfoto, vending machine merchandise, hingga museum of toys hasil kerja sama dengan Sony Group yang menghadirkan pengalaman musik, film, dan ruang musik elektronik dalam satu area besar.
Baca juga: Resmi! Daniel Caesar Umumkan Tur Indonesia, Hadir di Java Jazz Festival 2026
“Kita ada jumpstart vending machine, yang orang bisa beli merchandise dari vending machine, jadi banyak banget yang sebelumnya belum ada kita bawa ke sini,” kata Dewi.
Tak hanya itu, Java Jazz tahun ini juga menghadirkan area lounge eksklusif serta kegiatan sosial bersama RMHC. Dewi menilai berbagai konsep baru tersebut akan menjadi pengalaman berbeda yang bisa dinikmati langsung oleh para pengunjung selama festival berlangsung.
Bagaimana dengan musisi yang jazz banget?
Sementara itu, perwakilan tim program Java Jazz Festival 2026, Nikita Dompas, mengatakan bahwa Java Jazz tetap mempertahankan identitasnya sebagai festival yang membuka ruang eksplorasi musik bagi penonton.
“Kalau kita mau nonton Java jazz kan gak mungkin kita bisa nonton semuanya lah. Jadi pilih satu yang mau, misalkan special show-nya satu, satu hari lalu kalau datang dari gate buka sih bisa dapet mungkin lima, lima apa enam show gitu bisa dapet kalau niat,” ujar Nikita.
Menurut Nikita, salah satu daya tarik utama Java Jazz adalah hadirnya berbagai kolaborasi lintas negara dan penampilan musisi-musisi baru yang sedang berkembang. Ia menyebut Java Jazz ingin terus menjadi “discovery platform” bagi penonton untuk menemukan pengalaman musik yang berbeda.
“Yang paling menarik sih kalau buat di Java jazz ya, berbagai macam kolaborasi yang terjadi nih dan juga berbagai macam musisi yang up and coming. Kita juga di program pinginnya Java Jazz selalu jadi discovery platform,” katanya.
Tahun ini, Java Jazz juga menghadirkan banyak musisi jazz asal Brasil yang akan tampil dalam berbagai format, termasuk kolaborasi bersama musisi Indonesia. Nikita menilai konsep tersebut menjadi sesuatu yang jarang ditemukan di festival musik lain.
“Karena itu sebetulnya yang jarang mungkin kita lihat di festival lain gitu ya, kolaborasi antara negara gitu. Dan Indonesia ini bukan cuman ditempelin gitu, cuman berpartisipasi aktif juga gitu,” ujar Nikita.
Selain itu, festival tahun ini juga menghadirkan big band baru asal Australia, Harbourside, yang akan tampil bersama sejumlah talenta Indonesia. Salah satu penampilan spesial yang paling dinantikan adalah kolaborasi bersama Lisa Simone, putri legenda jazz dan blues Nina Simone.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan, Liputan