INDOZONE.ID - Sarah Dzafce, mantan Miss Finlandia yang dicabut gelarnya, menjadi sorotan pekan lalu. Hal itu terjadi setelah sebuah foto yang memperlihatkan dirinya menarik sudut mata, viral di media sosial.
Foto tersebut, dengan keterangan “makan dengan orang Tionghoa”, memicu kecaman luas dari pemerintah dan pengamat di Finlandia maupun berbagai negara Asia.
Hal tersebut menandai skandal foto kontroversial Miss Finlandia yang menjadi perbincangan internasional.
Dzafce, yang memenangkan gelar Miss Finlandia pada September lalu mengatakan kepada media Finlandia, bahwa ia hanya berusaha meredakan sakit kepala.
Baca juga: Kontestan Miss World Chile Bikin Geger! Tampil dengan Bakat 'Death Metal' di Panggung Semifinal
Menurut laporan Helsinki Times, foto itu dibagikan oleh seorang teman yang menambahkan keterangan tanpa persetujuannya.
Hingga Kamis, Dzafce belum memberikan komentar langsung kepada The Associated Press.
Pada 8 Desember, Dzafce mengunggah permintaan maaf di media sosial. Dalam unggahan itu menekankan, niatnya sama sekali bukan untuk menyakiti siapa pun.
Baca juga: Kirana Larasati Bawa Isu Kesejahteraan Anak di Miss Universe Indonesia 2025
“Gelar Miss Finlandia bukan hanya sekadar mahkota bagi saya, tapi juga sebuah tanggung jawab. Tanggung jawab atas ucapan, tindakan, dan dampak yang mungkin ditimbulkan,” tulisnya.
Ia menambahkan, “Saya bertanggung jawab atas tindakan saya dan akan belajar dari pengalaman ini.”
Beberapa hari kemudian, gelar Miss Finlandia dibatalkan, menegaskan respons terhadap kontroversi tersebut.
“Peristiwa beberapa hari terakhir telah menimbulkan luka, kekecewaan, dan kekhawatiran, baik di Finlandia maupun internasional dan itu sepenuhnya dapat dimengerti,” tulis organisasi Miss Finlandia di media sosial.
“Kami sangat menyesal atas dampak peristiwa ini, terutama bagi komunitas Asia, namun juga bagi semua yang terdampak. Diskriminasi dan rasisme tidak dapat diterima dalam bentuk apapun,” lanjutnya.
Kontroversi semakin memanas, ketika beberapa politisi sayap kanan Finlandia mendukung Dzafce setelah mahkotanya dicabut.
Beberapa anggota parlemen dari koalisi pemerintahan bahkan, mengunggah foto diri mereka menirukan gerakan yang sama.
Situasi ini memaksa Perdana Menteri Finlandia, Petteri Orpo, untuk mengeluarkan permintaan maaf resmi kepada beberapa negara, termasuk Jepang dan Korea Selatan.
“Unggahan ini tidak mencerminkan nilai-nilai Finlandia tentang kesetaraan dan inklusi. Rasisme dan diskriminasi tidak memiliki tempat di masyarakat Finlandia," kata Orpo.
"Pemerintah menanggapi isu ini dengan serius dan berkomitmen untuk menanganinya. Finlandia selalu berusaha melakukan yang terbaik. Politisi memiliki tanggung jawab menjadi contoh dalam hal ini," sambungnya.
Pemerintah Jepang pun telah menghubungi kedutaan Finlandia di Tokyo, untuk menyampaikan kekhawatirannya.
Menteri Kabinet Jepang, Minoru Kihara, menyatakan, Jepang berharap komunikasi dengan Helsinki tetap terjaga.
“Kami memahami bahwa Perdana Menteri Finlandia telah menyampaikan permintaan maaf mendalam atas unggahan menghina yang dibuat beberapa anggota parlemen di media sosial,” kata Kihara.
“Sebagai pemerintah Jepang, kami telah menyampaikan keprihatinan dan harapan agar ada respons yang tepat melalui kedutaan setempat," tambahnya.
Finlandia merupakan destinasi wisata populer bagi pengunjung Asia, dan sejumlah pengguna platform X menyerukan boikot perjalanan ke Finlandia serta maskapai Finnair.
Päivyt Tallqvist, Wakil Senior Presiden Komunikasi Finnair, mengatakan kepada penyiar Finlandia Yle, bahwa kontroversial ini telah memengaruhi operasi internasional maskapai tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: M.entertain.naver.com