Minggu, 05 MEI 2024 • 17:20 WIB

Ini Arti dan Makna Upacara Mepamit, Tradisi Pernikahan Adat Hindu di Bali yang Dijalani Mahalini

Author

Mahalini dan Rizky Febian Melakukan Upacara Adat Dharma Suaka (Instagram @rizkyfbian)

INDOZONE.ID - Penyanyi Mahalini melaksanakan upacara mepamit pada hari Minggu, 5 Mei 2024, sebelum pelaksanaan pernikahannya dengan Rizky Febian.

Upacara mepamit ini berlangsung di Bali sebagai bagian dari rangkaian pernikahan Hindu, dengan tujuan untuk memberikan penghormatan kepada leluhur.

Makna dan prosesi dari upacara mepamit ini telah dijelaskan dalam artikel jurnal yang berjudul 'Upacara Pawiwahan Dalam Agama Hindu' oleh Luh Sukma Ningsih.

Serta artikel jurnal yang berjudul 'Bentuk, Fungsi, dan Makna Tata Rias serta Prosesi Upacara Perkawinan Bali Agung di Bali' karya Ni Putu Delia Wulansari.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai upacara mepamit, kamu dapat membaca penjelasan yang telah diuraikan Indozone dari kedua artikel jurnal tersebut di bawah ini.

Arti Upacara Mepamit

Mahalini Melakukan Upacara Adat Dharma Suaka (Instagram @rizkyfbian)

Upacara mepamit, yang berasal dari kata "mepamit" berarti 'berpamitan' atau 'perpisahan', sering dilakukan sebagai tanda permintaan izin seseorang untuk meninggalkan tempat asalnya.

Dalam pernikahan adat Bali, upacara mepamit ini juga dikenal dengan metipat bantal atau upacara mejauman.

Upacara mepamit ini melambangkan pamitan calon pengantin wanita kepada leluhurnya, karena akan menikah.

Ini dianggap sebagai tanggung jawab calon pengantin pria dan keluarganya untuk masa depan.

Namun, dalam situasi di mana ada perbedaan keyakinan antara calon pengantin, upacara mepamit juga bisa diinterpretasikan sebagai perpisahan seseorang dari keyakinan yang biasa dipegangnya.

Prosesi Upacara Mepamit

Mahalini dan Rizky Febian Melakukan Upacara Adat Dharma Suaka (Instagram @rizkyfbian)

Prosesi upacara mepamit biasanya akan dilakukan setelah kesepakatan dari kedua keluarga, untuk berkumpul di rumah calon pengantin wanita pada hari yang sudah ditentukan.

Baca Juga: Jelang Pernikahan, Rizky Febian hingga Sule Hadiri Acara Mepamit Mahalini di Bali

Di sini, keluarga calon pengantin pria bersama calon pengantin membawa beberapa banten.

Sementara itu, calon pengantin wanita melakukan persembahyangan di sanggah atau merajan keluarganya di bawah bimbingan seorang pemangku.

Sarana Banten Upacara Mepamit

Rizky Febian Beserta dan Ayahnya Sule Melakukan Upacara Adat Dharma Suaka (Instagram @rizkyfbian)

Pada pelaksanaan upacara mepamit, pihak keluarga dan calon pengantin biasanya berkumpul di kediaman keluarga wanita dengan membawa sejumlah sarana banten. Ini termasuk:

  • Alem
  • Sumping
  • Ketipat bantal
  • Kuskus
  • Cerorot
  • Apem
  • Kekupa
  • Wajik
  • Berbagai jenis buah dan lauk pauk khas Bali

Upacara Pernikahan Adat Hindu Bali

Pernikahan Adat Bali

Selain dari upacara mepamit, terdapat pula beberapa rangkaian upacara pernikahan dalam adat masyarakat Hindu Bali yang biasanya diadakan sebelum atau setelah upacara mepamit, seperti yang dijelaskan berikut:

1. Madewasa Ayu

Dalam proses ini, kedua keluarga biasanya secara bersama-sama menentukan hari-hari yang dianggap baik untuk melangsungkan serangkaian upacara pernikahan.

Mulai dari prosesi nyedek hingga inti acara. Penentuan ini sering dilakukan dengan mempertimbangkan perhitungan ala ayuning dewasa pada kalender Bali.

Masyarakat Hindu Bali masih memegang teguh keyakinan bahwa menentukan hari yang baik menurut kalender Bali, dapat memengaruhi kelancaran jalannya upacara pernikahan serta kehidupan pasangan setelah menikah.

2. Ngidih

Prosesi ini mirip dengan upacara lamaran pada umumnya. Terdapat pemberian seserahan dari calon pengantin pria kepada calon pengantin wanita yang disebut basan pupur.

Basan pupur memiliki makna simbolis sebagai penghormatan kepada calon pengantin wanita, sebagai pengganti air susu ibu, serta sebagai wujud rasa kasih sayang yang diwariskan oleh ayah kepada putrinya hingga ia dewasa.

3. Ngekeb

Dalam prosesi ini, calon pengantin wanita akan disiapkan secara mental dan fisik untuk menyambut kedatangan calon pengantin pria.

Upacara ini melibatkan persiapan seperti luluran untuk membersihkan tubuh dan kegiatan lainnya, yang bertujuan untuk mempercantik diri.

Selain itu, dalam upacara ini, doa juga dipanjatkan kepada Ida Sang Hyang Widhi agar diberikan kebahagiaan lahir dan batin kepada kedua pengantin.

4. Pengambilan Calon Pengantin Wanita

Pada tahap ini, keluarga calon pengantin pria akan menjemput calon pengantin wanita untuk menuju kediaman pengantin pria.

Ketika prosesi ini berlangsung, calon pengantin wanita akan mengenakan pakaian adat Bali yang telah disiapkan.

Lengkap dengan kain tipis berwarna kuning yang melilit dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Hal ini melambangkan kesiapan mereka untuk meninggalkan masa lajang dan memulai hidup baru sebagai pasangan suami istri.

5. Upacara Mungkah Lawang

Mungkah lawang merupakan istilah yang menggambarkan pembukaan pintu.

Prosesi ini terjadi ketika utusan dari pihak pengantin pria datang untuk membawa pengantin wanita menuju rumah pengantin pria.

Baca Juga: Komitmen Rizky Febian dan Mahalini Sebelum Nikah untuk Tak Saling Memaksakan Keyakinan

Sebelum memasuki rumah, utusan tersebut akan mengetuk pintu kamar pengantin wanita sambil diiringi dengan musik tradisional Bali yang mengisyaratkan kedatangan pihak pengantin pria.

6. Mesegeh Agung

Upacara ini dilakukan sebelum kedua pengantin memasuki rumah pengantin pria sebagai ungkapan selamat datang kepada calon pengantin wanita.

Selama proses ini berlangsung, kain kuning yang melilit pengantin wanita akan dilepaskan.

Lalu calon ibu mertua akan memberikan uang satakan sebagai tanda harapan untuk menyambut fase baru dalam kehidupan mereka.

7. Upacara Mabyakala

Upacara ini bertujuan untuk membersihkan kedua calon pengantin secara lahir dan batin.

Terutama pada sukla swanita, yaitu sel benih pria dan wanita yang bertujuan untuk menghasilkan keturunan yang suci.

Sebelum melaksanakan upacara ini, terlebih dahulu dilakukan upacara puja astuti, pembakaran tetimpug, penghormatan kepada banten pabyakalaan, pelaksanaan pengelukatan, mengelilingi banten pesaksian, dan kegiatan perdagangan.

Beberapa perlengkapan yang digunakan dalam upacara pabyakalaan meliputi:

  • Sanggah Surya yang terletak di sebelah kanan, dengan biyu lalung digantung dan di sebelah kiri, sebuah kulkul berisi berem digantung.

  • Kelabang Kala Nareswari (Kala Badeg) sebagai simbol calon pengantin, diletakkan sebagai alas upacara makala-kalaan dan diduduki oleh kedua calon pengantin.

  • Tikeh Dadakan, sebuah tikar kecil yang diduduki oleh pengantin wanita sebagai simbol selaput dara.

  • Keris sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Purusa (kekuatan lingga) calon pengantin pria.

  • Benang Pepegatan, yang dalam mekala-kalaan memiliki benang putih pada kedua ujungnya yang dikaitkan pada cabang pohon dapdap.

  • Tegen-tegenan, sebagai simbol pengambilalihan tanggung jawab secara skala dan niskala.

  • Dagang-dagangan, melambangkan kesepakatan suami istri untuk membangun rumah tangga dan siap menanggung segala resiko yang timbul.

  • Sapu Lidi, sebagai simbol Tri Kaya Parisudha.

  • Sambuk Kupakan atau kala sepetan, merupakan serabut kelapa yang dibelah tiga dan di dalamnya berisi sebutir telur bebek, kemudian dilipat kembali dan diikat dengan benang berwarna tiga (tridatu).

  • Tetimpug, yaitu tiga batang bambu yang telah dibakar oleh api dayuh yang bertujuan agar memohon penyupatan dari Sang Hyang Brahma.

8. Upacara Mewidhi Widana

Upacara ini melibatkan kedua calon pengantin yang melakukan sembahyang di merajan atau sanggah keluarga pria.

Pelaksanaan sembahyang dipimpin oleh pemangku sanggah, sulinggih, atau ida pedanda.

Makna dari prosesi ini adalah memberitahukan kepada leluhur tentang kedatangan anggota baru dalam keluarga.

Proses ini juga menjadi tanda sahnya pernikahan pasangan pengantin di hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, masyarakat, dan aturan adat.

9. Upacara Mepamit

Prosesi ini melibatkan kedua pengantin yang melakukan sembahyang di merajan atau sanggah yang dimiliki oleh keluarga calon pengantin wanita.

Sembahyang ini merupakan tanda berpamitan dari pengantin wanita kepada leluhurnya karena telah menikah dan bergabung dengan keluarga pria.

Beberapa jenis banten yang digunakan antara lain:

  • Alem
  • Sumping
  • Ketipat bantal
  • Kuskus
  • Cerorot
  • Apem
  • Kekupa
    Wajik
  • Berbagai jenis buah dan lauk pauk khas Bali

Dengan demikian, informasi mengenai upacara mepamit, termasuk maknanya, prosesinya, dan perlengkapan yang digunakan, serta rangkaian lainnya dalam pernikahan adat Hindu Bali telah disampaikan.

Semoga informasi ini bermanfaat untuk memperluas pemahaman kamu tentang budaya Bali.


Konten ini adalah kiriman dari Z Creators Indozone.Yuk bikin cerita dan konten serumu serta dapatkan berbagai reward menarik! Let's join Z Creators dengan klik di sini.

Banner Z Creators

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Jurnal 'Upacara Pawiwahan Dalam Agama Hindu'

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU