INDOZONE.ID - Animator sekaligus pendiri Pipilaka, Wahyadi, menuturkan bahwa ia akan mendorong pembangunan sekolah gratis bagi animator lokal agar talenta kreatif Indonesia bisa semakin berkembang.
"Karena kita ini lihat di Indonesia masih kurang sekolah yang untuk belajar di bidang animasi, dan kita butuh support ekonomi kreatif kita," ujar Wahyadi dalam acara pembukaan pameran imersif Pipilaka Calling di Jakarta, Senin (15/12/2025).
Wahyadi mengungkapkan bahwa selama proses pengerjaan pameran Pipilaka Calling di Yogyakarta, ia menyaksikan langsung besarnya potensi anak-anak Indonesia yang kreatif, cerdas, serta penuh antusiasme.
Baca juga: Bukan Sekadar Pameran, Pipilaka Hadirkan Seni Interaktif untuk Anak dan Keluarga
Namun, potensi tersebut kerap terhambat untuk berkembang lebih jauh karena keterbatasan akses pendidikan yang memadai. Jika pun tersedia, biaya pendidikan yang tinggi membuatnya sulit dijangkau oleh masyarakat di daerah yang sebenarnya memiliki kreativitas besar.
Guna menjawab tantangan ini, Pipilaka telah berkolaborasi dengan DOES University Yogyakarta untuk mengembangkan talenta kreatif anak bangsa yang ingin berkarir di bidang animasi.
"Makanya kita ingin bangun sekolah dan kita itu sudah bekerja sama Does University di Jogja. Mereka itu sudah berdiri selama 15 tahun dan sudah berhasil untuk mendidik lebih dari 600 anak, dan semuanya ini sudah masuk ke dunia kreatif dan di industri animasi. Ada yang masuk di gaming, di film, ada yang masuk di Disney, di Pixar, ada yang di Cina, ada yang di Jepang. Nah makanya kita sangat percaya kalau kita kasih kesempatan untuk anak-anak bangsa bisa belajar, pasti berkembangnya ini akan luar biasa," jelasnya.
Baca juga: Pertama di Indonesia, Musikal Jemari Peringati Hari Disabilitas Internasional
Wahyadi turut menjelaskan bahwa sebagian hasil penjualan tiket dari pameran imersif Pipilaka Calling akan dialokasikan untuk mendirikan sekolah gratis bagi anak-anak berbakat, khususnya calon animator serta mereka yang memiliki minat dan kemampuan di bidang teknologi kecerdasan buatan (AI).
Ia menegaskan, dengan berkembangnya animator lokal akan menumbuhkan ekonomi kreatif sebagai soft power untuk nantinya orang ingin bekerja di Indonesia dan mengenalkan kebudayaan Indonesia lebih baik.
“Jadi mudah-mudahan anak-anak yang nanti kedepannya bisa gabung di sekolah animasi digital kita itu bisa belajar dan langsung masuk di ekonomi kreatif di Indonesia,” pungkas Wahyadi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan