Jumat, 23 JANUARI 2026 • 20:48 WIB

Mira Sumanti Perkenalkan Buku 'Swipe Therapy': Dari Patah Hati hingga Eksperimen di Dating Apps

Author

Mira Sumanti memperkenalkan buku 'Swipe Therapy' (INDOZONE/M Fadli)

INDOZONE.ID - Pada zamannya, kita mengenal buku-buku kisah mereka yang patah hati lalu mengobati diri dengan melihat dunia untuk menata diri kembali. Mulai dari 'Eat, Pray, Love' hingga 'Honeymoon With My Brother'.  

Nah, kisah serupa kini muncul di era modern dan dari penulis Indonesia. Adalah Mira Sumanti, seorang Marketing Executive Google yang meluncurkan bukunya berjudul 'Swipe Theraphy'. Tak jarang buku ini disebut seperti 'Eat, Pray, Love' era modern. 

Dalam perkenalan bukunya kepada media di Zodiac Baresto, Jakarta Selatan, Jumat (23/1/2026), Mira Sumanti memperkenalkan perjalanan hidupnya pasca pernikahannya batal beberapa hari sebelum pelaksanaan, jatuh bangun, hingga mencoba kembali bangkit lewat pertemuan dengan orang baru di aplikasi kencan seperti Tinder. 

 Bukan sebagai kisah pencarian pasangan, melainkan sebagai perjalanan memahami diri sendiri di tengah kekacauan hidup modern. 

Baca juga: Suami Aurelie Moeremans Beri Pesan Menyentuh usai Istrinya Ungkap Masa Lalu Kelam Lewat Buku Broken Strings

“Ketika semuanya runtuh, aku tidak langsung merasa sedih. Aku merasa kosong. Dan itu justru yang paling menakutkan,” tulis Mira dalam Swipe Therapy. 

Di hadapan media, Mira yang memang menyukai tulisan dan journaling mendapat ide merangkum kisahnya dalam bentuk buku setelah mendapat komentar dari adiknya. Sebagai tempat curhat, sang adik menyarankan kisahnya dibukukan. 

"Di pernah komentar kalau ceritaku itu kayak chicklit. Jadi dia ngasih ide untuk menulisnya menjadi buku," katanya. 

Buku ini sendiri tidak menawarkan pelarian romantis atau transformasi instan. Namun lebih kepada sebuah refleksi jujur tentang kehilangan, kelelahan emosional, dan pertanyaan besar yang muncul ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana. 

Dalam Swipe Therapy, dating apps tidak diposisikan sebagai pahlawan atau musuh. Ia hadir sebagai ruang eksperimen emosional, tempat Mira mengamati ulang pola relasi, ekspektasi, luka lama, dan keyakinan yang selama ini ia bawa ke dalam hubungan 

Menariknya, Mira melakukan eksperimen tentang skala dan neraca sisi emosionalnya dia saat ingin bangkit, verivikasi sosok teman kencan, hingga skala prioritas antara sosok yang pantas dijadikan teman untuk rebounce atau mereka yang akan dimasukkan sebagai calon pasangan jangka panjang.. 

Baca juga: Anies Baswedan Luncurkan Buku “Leadership XYZ”, Tiga Generasi Bicara Kepemimpinan

“Aku menyebutnya Swipe Therapy, setengah bercanda. Tapi semakin lama, aku sadar ini bukan tentang mencari ‘The One’. Ini tentang melihat diriku sendiri, swipe demi swipe,” Ungkap Mira. 

Melalui rangkaian pertemuan yang hidup dan reflektif, Swipe Therapy membawa pembaca mengikuti perjalanan Mira bersama berbagai sosok yang ia temui. Mulai dari seorang neuroscientist yang memberinya perspektif ilmiah tentang patah hati, seorang sutradara film dengan ambisi artistik yang menyembunyikan ketidakselarasan mendasar, hingga figur tak terduga yang membawanya pada pengalaman paling intens dan membebaskan dalam hidupnya. 

Berlatar Jakarta, Bali, San Francisco, hingga kehidupan malam Tokyo, Swipe Therapy bergerak melintasi kota dan budaya, menangkap dinamika cinta modern di ruang-ruang urban yang akrab dengan generasi hari ini. Buku ini terasa dekat dengan realitas perempuan urban, mandiri, ambisius, terbiasa berpikir rasional, namun tetap rapuh ketika menyangkut urusan hati. 

Alih-alih mengglorifikasi proses healing, Swipe Therapy justru merayakan ketidakteraturan. Tentang hari-hari ketika tidak menangis bukan berarti sudah baik-baik saja. Tentang keinginan untuk terlihat kuat, padahal masih belajar bernapas dengan normal. 

Lebih dari Memoar Dating, Swipe Therapy adalah refleksi tentang dualitas budaya, proses membangun ulang identitas, serta keberanian yang sering kali sunyi ketika seseorang harus memulai kembali hidupnya dari nol. 

Mira berbicara langsung kepada perempuan-perempuan ambisius yang hidup di antara tradisi dan perubahan. Mereka yang sedang membangun karier, identitas, dan masa depan, sambil menyembuhkan bagian diri yang pernah merasa sudah “selesai” dengan hidupnya. 

Baca juga: Buku Selangkah di Belakang Mbak Tutut, Kisah Perjuangan Putri Sulung Soeharto

“Tidak semua yang berakhir berarti gagal. Kadang, sesuatu berakhir karena memang tugasnya sudah selesai,” Tutup Mira. 

Lewat buku perdananya, Swipe Therapy, Mira merangkum fase paling rapuh dalam hidupnya. Mulai dari batal menikah hingga kembali menavigasi dunia dating apps.  

Presale Swipe Therapy secara resmi diumumkan pada 23 Januari 2026 di Zodiac Baresto, dengan peluncuran resminya dijadwalkan pada 3 Maret 2026 secara global dan akan tersedia di Amazon, Barnes & Noble, serta berbagai toko buku online internasional lainnya. Sementara di Indonesia, Swipe Therapy akan tersedia di Tokopedia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU