The Woman King (Sony Pictures)
Stunning, flexing, and incredible story! Film terbaru 'The Woman King' yang bisa kamu tonton di bioskop sejak 5 Oktober ini diangkat dari kisah nyata tentang perjuangan prajurit wanita di Afrika dari perbudakan.
Berlatar belakang tahun 1800-an, film ini berfokus tentang sekelompok prajurit wanita Agojie yang bertugas untuk melindungi kerajaan Dahomey, sebagai salah satu negara paling kuat di Afrika Barat pada abad ke-18 dan ke-19 atau yang saat ini dikenal sebagai Benin.
Pasukan ini juga bertugas untuk melindungi Raja dan kekayaannya. Pasukan Agojie sendiri terdiri atas prajurit wanita dengan keterampilan dan keganasan yang belum pernah ada di dunia, yang dipimpin oleh Jendral wanita.
Dahomey mempunyai tradisi unik, dimana mereka sangat menghargai perempuan dan mengakui kesetaraan gender. Sehingga struktur sosial mereka pun bukan hanya dipimpin oleh laki-laki, tapi juga perempuan. Termasuk posisi penting kerajaan, mulai dari jenderal militer, penasihat keuangan, pemimpin agama, hingga jajaran tertinggi dengan gelar Kpojito atau Raja Wanita yang langsung diberikan oleh Raja kepada pasangan perempuan.
Nanisca (Viola Davis) adalah Jenderal pasukan Agojie. Ia adalah sosok wanita yang tangguh, gagah, kuat dan nggak segan untuk membunuh siapa pun yang dianggap menghalanginya. Rekan seperjuangan terdekatnya adalah Amenza (Sheila Atim), seorang yang lincah dan lihai dalam menggunakan senjata lembing. Kemudian ada Igozie (Lashana Lynch) yang bertugas untuk membimbing salah satu rekrutan terbaru mereka bernama Nawi (Thuso Mbedu).
Pengambilan tokoh Nawi ini sekaligus sebagai penghormatan kepada salah satu prajurit Agojie terakhir yang meninggal di tahun 1979. Seorang gadis muda yatim piatu yang menentang ayah angkatnya untuk menikah. Ketika sang ayah sadar bahwa takdir anaknya bukanlah menikah dan mempunyai anak, ia kemudian menyerahkannya pada Agojie.
'The Woman King' karya sutradara Gina Prince-Bythewood ini merupakan film drama sejarah yang dibalut dengan aksi heroik dan menegangkan dari para prajurit wanita asal Afrika Barat.
Namun, bukan hanya fokus pada peperangan saja tapi film ini juga mengajak penonton untuk ikut merasakan sisi lain kehidupan prajurit Agojie sebagai perempuan. Rasa tertindas, bersalah, ketakutan, trauma masa lalu yang mengharuskan mereka untuk tetap berdiri tegak, dan tanggung jawab untuk melindungi rakyat dari penindasan dan ketidakadilan dari para penjajah.
Saat itu, banyak perbudakan dari kaum penjajah. Bahkan, nggak sedikit juga saudara sebangsa yang menjual keluarga mau pun kerabatnya kepada ras kulit putih demi mendapatkan uang.
Ditambah musuh bebuyutan mereka yakni kekaisaran Oyo dibawah pimpinan Oba Ade yang berusaha menghancurkan kehidupan rakyat Dahomey dengan menculik para perempuan Dahomey dan menjualnya sebagai budak.
Demi menyelamatkan kerajaan Dahomey, Jenderal pasukan Nanisca (Viola Davis) berusaha untuk memutus sepenuhnya kejahatan tersebut dan melatih generasi berikutnya untuk berperang melawan musuh yang telah lama mengincar kerajaan mereka.
Semangat perang mereka pada akhinrya membuat Raja Ghezo (John Boyega) dari Dahomey untuk mempersiapkan perang besar-besaran terhadap kekaisaran Oyo.
Latihan keras yang mereka lalui bertujuan untuk mengasah keterampilan serta membentuk pribadi mereka menjadi lebih kuat, sehingga musuh pun akan sulit menebak strategi perang yang digunakan prajurit Agojie.
Salah satu rekrutan baru mereka, yakni Nawi adalah sosok gadis muda yang tangguh dan punya kemampuan bertahan sangat baik. Sosok ini kemudian secara tiba-tiba menjadi bagian dari cerita hidup Nanisca di masa lalu.
Sejak bergabung dengan pasukan Agojie, ia pun harus siap berperang melawan setiap musuh yang berusaha menghancurkan rakyat Dahomey, yakni Kekaisaran Oyo.
Hingga tiba hari dimana Oyo secara diam-diam berusaha menaklukan Kerajaan Dahomey.
Siasat tersebut berhasil diketahui Nanisca, sehingga ia memasang stragegi untuk menyerang kaum Oyo secara diam-diam saat mereka tengah beristirahat mendirikan tenda.
Meski berhasil mengusir musuh mendekati kerajaan, namun sayang banyak prajurit Agojie yang gugur bahkan beberapa yang terluka diculik pasukan Oba Ade untuk diperjualbelikan, salah satunya adalah Nawi.
Namun ada satu dari ras kulit putih yang baik dan membantu Nawi untuk lolos dari kaum Oyo. Ia adalah Malik, yang merupakan half blood Dahomey. Ibunya adalah kaum Dahomey yang sempat diculik untuk dijadikan budak sebelum akhirnya meninggal.
Dari sinilah petualangan seru Nawi berawal ketika ia berusaha untuk meloloskan diri kembali ke rumahnya, sekaligus melawan penjajah yang ada saat itu.
Disaat bersamaan, prajurit Agojie kembali untuk menyerang penjajah, mengambil kembali saudara mereka yang diculik untuk dijadikan budak, serta menjatuhkan kekaisaran Oyo, agar bangsa Dahomey tidak lagi berada dalam bayang-bayang jajahan kaum sebangsa.
Perang ini sekaligus menentukan nasib dan kelanjutan dari Kerajaan Dahomey. Akankah siasat Nanisca kali ini berhasil?
Asal usul pengangkatan film ini dimulai dengan produser Maria Bello, yang menemukan kisah para pejuang Agojie saat bepergian di kawasan Afrika Barat. Ia kemudian menuliskannya pada sebuah buku dalam bahasa Perancis dan memberikannya pada produser Cathy Schulman, sebuah karya tentang feminisme. Terlebih, banyak sekali cerita yang menjadi bagian dari sejarah dan belum terdengar oleh banyak orang, khususnya tentang pasukan wanita yang sukses di masanya.
Untuk menghidupkan cerita Agojie, produser menggandeng penulis naskah Dana Stevens yang tertarik menceritakan kisah nyata yang tidak terkenal ke layar lebar.
Film berdurasi 2 jam 15 menit ini, berhasil mendapat banyak pujian dari kritikus film. Salah satunya, di Rotten Tomatoes yang mendapat skor 94 persen dari 196 lebih ulasan. Terbukti bahwa naskah dan akting para pemain nggak perlu diragukan lagi. Prince-Bythewood berhasil membawa gambaran tentang prajurit Agojie yang terdiri dari wanita dengan latar belakang bervariasi dari desa-desa di seluruh wilayah.
Ia memiliki Thuso Mbedu yang berasal dari Afrika Selatan, Lashana Lynch yang seorang Jamaika, dan Sheila Atim yang berasal dari Inggris tapi juga orang Uganda.
Set lokasi, kostum desain, dan visual sinematografinya pun sangat mendukung, sehingga penonton bisa ikut merasakan aura kesangaran dari para prajurit wanita ini.
Sayang, ada beberapa adegan perkelahian saat perang yang tampak seperti ‘koreografi dansa’ yang tertata dan terlalu hati-hati sehingga terlihat agak tanggung.
Para pemain dari Afrika Barat hingga Afrika-Amerika menjadi paket lengkap yang berhasil menjadi representatif para wanita tangguh dan kuat dalam film ini.
Film ini benar-benar menarik karena menyajikan cerita yang baru dan penuh tantangan serta menarik untuk diketahui banyak orang.
Meski ini merupakan bagian dari cerita sejarah, namun banyak isu terkait dengan era saat ini yang diangkat seperti kesetaraan gender, diskriminasi ras, penindasan terhadap perempuan serta kejahatan seksual.
Karakter Nanisca adalah salah satu korban pemerkosaan dan harus melewati beberapa tahun dengan rasa takut dan trauma yang ia bawa.
Di sini, penonton diingatkan kembali agar sebagai para perempuan korban kekerasan lebih berani berbicara serta menginspirasi mereka yang ingin bebas merdeka dari segala bentuk ketidakadilan yang dirasakan.
Sebelumnya, film ini telah rilis duluan sebagai film festival pada 9 September lalu di Festival Film Toronto.
Artikel menarik lainnya:
Nyentrik! Ibu-ibu di Inggris Raya Piknik di Kastil Pakai Batik dan Kebaya, Ini Alasannya
Viral! Mr Nanang, Penjual Cincau Asal Bogor yang Jago 9 Bahasa, Salah Satunya Slovakia
Misteri Makam di Tengah Jalanan Purwokerto, Gak Bisa Dipindahkan Sampai Jadi Nama Jalan
Bukan Nasi Pedas, Tapi Turis Rela Antre di Warung Siam Ubud Demi Seporsi Menu Ini!
Dari Petani Tembakau, Mas Goplow Sukses Banting Setir Jualan Rica Mentok
Bikin cerita serumu dan dapatkan berbagai reward menarik! Let’s join Z Creators dengan klik di sini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: