Serial drama Korea 'Taxi Driver Season 2' ini sempat menjadi perbincangan di Korea Selatan bahkan di Indonesia lantaran kasus-kasus yang disuguhkan di dalamnya.
Meski banyak pemirsa yang sudah paham bila kasus-kasus kejahatan yang ditunjukkan semenjak season pertama selalu terinspirasi dari kisah nyata, namun di season kedua kali ini para penggarap serial ini lebih berani lagi.
Baca Juga: Review Film Belanda Mijn Grote Broer: Angkat Isu Kesehatan Mental yang Menguras Emosi
Hal itu bisa dilihat dari beberapa episode di bagian terakhir yang memasukkan kasus yang heboh pada 2019 lalu di Korea Selatan.
Wajar saja serial yang dibintangi oleh Lee Je-Hoon, Pyo Ye-jin, Kim Eui-sung, Shin Jae-ha, dan beberapa nama lainnya ini mendapat tempat di hati pemirsanya, bahkan meraih rating yang tinggi di Korea Selatan.
Cerita di season ini dibuka dengan adegan Kim Do-gi (Lee Je-hoon) masuk di penjara di mana terdapat tiga tawanan dari kasus chat room yang berisi video porno yang akan dibebaskan karena seorang pengacara.
Untuk membuat ketiganya di penjara lebih lama, Kim Dogi dan kru Taksi Pelangi lainnya membuat jebakan yang akhirnya memberatkan mereka.
Setelah menjalankan misi tersebut, para kru taksi pelangi memilih jalannya masing-masing. Namun setelah menerima kasus seorang pria yang kehilangan anaknya setelah mendapat pekerjaan di Vietnam, gang Taksi Pelangi berkumpul kembali untuk melaksanakan misinya.
Namun, ada sosok misterius yang membayangi kasus tersebut, terutama ketika Kim Dogi yang pergi langsung ke Vietnam dan menemukan bos utama dalam kejahatan perdagangan manusia tersebut.
Selanjutnya, mereka pun menerima berbagai kasus misi yang unik namun sangat berbahaya. Mulai dari kasus penipuan kepada para lansia di sebuah desa, penipuan apartemen dan anak-anak kecil yang dikurung, penipuan sekte gereja, hingga kasus malpraktik di sebuah rumah sakit.
Namun kasus yang paling menghebohkan adalah kasus di kelab malam yang berkaitan dengan peredaran narkoba dan kasus prostitusi.
Ternyata kasus tersebut dan dua kasus sebelumnya merupakan jaringan dari sebuah organisasi sekte yang dipimpin oleh pria yang dipanggil Uskup.
Organisasi inilah yang juga menyusupkan sosok pria misterius di dalam perusahaan taksi milik Jang yang menjadi musuh kuat dari Kim Do-gi.
Seperti pada season pertama, keunggulan serial taksi driver ini adalah ide cerita dan penulisan yang luar biasa.
Bagaimana mereka menyajikan sebuah kasus dan misteri utama yang memiliki benang merah dari awal hingga akhir dengan sajian kasus-kasus pendek yang tak kalah kerennya.
Bedanya, kasus kali ini yang dikumpulkan adalah didominasi kasus-kasus terbaru yang terjadi di Korea Selatan, berbeda dengan season sebelumnya yang diselingi dengan kasus masa lalu yang diangkat ulang.
Karakter-karakter di dalam film ini semakin berkembang, terutama karakter Kim Dogi, meski dia terlihat masih kesulitan untuk mengatasi trauma akan suara seperti peluit yang terlihat di episode terakhir.
Kedatangan Shin Jae-ha sebagai On Ha-jun, pria misterius yang menjadi duri dalam gang Taksi Pelangi sangat menyita perhatian.
Sosoknya yang terlihat awalnya imut namun bisa menghadirkan seringai bengis yang cocok menjadi lawan Kim Do-gi. Tentunya banyak penonton yang mengidolakan sosoknya.
Salah satu episode yang cukup menghebohkan adalah kasus yang menceritakan rangkaian kejahatan dalam sebuah kelab malam Black Sun.
Kasus ini tentu mengingatkan publik dengan kasus Burning Sun yang terjadi di 2019 lalu, dimana kasus tersebut menjadi skandal besar dan mencoreng industri hiburan, termasuk dunia Kpop.
Tentunya sang penulis berani mengambil inspirasi dari kasus tersebut mengingat sangat kontroversial, dan masih banyak fans dari para idola yang terlibat memprotes dengan kasus tersebut dan menyebutkan media dan pihak hukum salah mengambil tindakan.
Menjelang di episode terakhir, cerita semakin membuka pembalasan dari para organisasi yang dipimpin Uskup dan kaki tangannya On Ha-jun. Ada kejutan yang mereka persiapkan untuk melawan Kim Do-gi.
Saat semua penonton sudah mulai khawatir dengan keadaan tim Taksi Pelangi yang tumbang, namun ternyata ada plot twist tak terduga seperti yang terlihat di episode 15.
Di satu sisi plot twist ini positif buat mereka yang mengharapkan para protagonis baik-baik saja, namun hal ini menurunkan kebengisan dan kekejaman para organisasi kejahatan yang seolah terlihat bodoh bila dibandingkan dengan organisasi kejam di season pertama.
Episode terakhir pun memberikan ending yang tak sekuat dengan ending season pertama. Meskipun ada cameo Kim So Yeon yang menarik sebagai pengemudi taksi mewah pertama yang muncul dan jembatan untuk menuju season ketiga.
Hanya saja, ada tingkat greget yang sedikit menurun satu level dibandingkan dengan ending di season pertama.
Salah satu daya tarik ceritanya juga adalah bagaimana memberikan alternatif dari penyelesaian kasus kriminal yang terinspirasi di dunia nyata.
Namun dipoles sehingga penonton bisa-bisa mengira-mengira bagaimana kejadiannya bila para pelaku mendapatkan pembalasan bukan dari polisi, tapi dari orang-orang yang diharapkan publik. Mungkin sesuai dengan kalimat dari tokoh wartawan di episode 14.
"Aku tidak menyukai metodemu, meski kau telah membantu mengungkap kasus, tapi itu tidak legal. Memang tidak legal, tapi itu adil."
Baca Juga: Review Air (2023) : Kisah Sukses Air Jordan, Sepatu Basket Terlaris di Dunia
Dari kalimat itu juga menjelaskan inti dari motivasi para tokoh di Taxi Driver selama dua musim ini. Tak lain adalah bentuk suara hati atas kritikan kepada sistem dari negara, dimana aparat sering kali tak bisa diharapkan.
Sudah banyak ketidakadilan di dunia yang tak bisa diurus dengan becus. Mungkin inilah cara masyarakat mengekspresikan diri melalui cerita sejenis ini.
Untuk keseluruhan musim kedua dari 'Taxi Driver' ini, kami ingin memberikan angka 8/10. Setidaknya sama dengan season pertama lantaran kelebihan dan kekurangannya.
Artikel Menarik Lainnya:
Konten ini adalah kiriman dari Z Creators Indozone. Yuk bikin cerita dan konten serumu serta dapatkan berbagai reward menarik! Let’s join Z Creators dengan klik di sini .
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: