Komunitas pemerhati UFO tertua di Indonesia, BETA UFO, mengisi kuliah tamu di Universitas Ciputra, Surabaya beberapa waktu lalu. dengan membawakan diskusi "Analisa Penonton Melalui film Sains-Fiksi 'Arrival' dipandang dari studi Stuart Hall".
Rezawardhana selaku pembawa materi dari komunitas BETA UFO, memilih film Arrival besutan Denis Villeneuve sebagai film yang pas untuk dijadikan materi.
“Banyak poin di film Arrival yang juga ditemui pada kasus UFO di dunia nyata. Seperti isu UFO yang jatuh karena petir. Nah di film Arrival itu 12 Shell (sebutan untuk UFO di film Arrival) mendarat di 12 titik dengan intensitas petir yang rendah. Kemudian adanya vision atau pesan-pesan visual pada kasus fenomena UFO. Di film Arrival juga terdapat hal semacam itu,” kata Reza.
Baca Juga: Film dan Serial Bergenre Sci-Fi, Perjalanan di Luar Angkasa yang Begitu Menegangkan!
Film Arrival sendiri adalah film yang dirilis tahun 2016 dan telah meraih banyak penghargaan. Bercerita tentang Profesor Louise Banks, seorang linguist yang suatu ketika diminati tolong oleh pihak militer, Kolonel Weber, untuk membantu komunikasi antara pihak manusia yang diwakili oleh pihak militer dengan Shell yang muncul di wilayah.
Secara mengejutkan di dalam Shell terdapat dua makhluk asing berkaki tujuh yang kemudian disebut Heptapods. Dua heptapods tadi berkomunikasi melalui simbol-simbol lingkaran dan di sanalah ilmu Louise Banks sangat diperlukan.
“Film Arrival bukanlah film sains-fiksi biasa,” kata Reza lagi.
Dalam kuliah tamu tersebut, Reza memaparkan bahwa Hollywood berpengaruh besar dalam pembentukan konsep UFO di masyarakat khususnya penonton.
“Hanya di Hollywood Anda akan mendapatu UFO yang kesan tampilannya sangat canggih dan alien rata-rata bermata besar dan berkepala besar. Lihat saja film Close Encounter of The Third Kind, District 9, dan film-film semacam itu. Eksterior UFO di film itu rata-rata berkesan canggih.”
Menurut Reza, beberapa penampakan UFO di dunia nyata malah terkesan bentuknya simpel meski diakuinya kebanyakan UFO memang bercahaya.
“Tapi tidak selalu seperti yang digambarkan Hollywood. Lihat saja kasus UFO di hutan Rendlesham, Inggris. UFO-nya bentuknya aneh. Atau misal yang dilihat Kenneth Arnold di tahun 1947. Berbentuk nyaris seperti sabit,” lanjut Reza.
Demikian juga rupa alien. Alien tipe grey yang berkepala besar dan bermata besar, biasanya sering dijadikan representasi alien di film-film Hollywood. Padahal menurut Reza, rupa alien macam-macam.
Baca Juga: 11 Film Korea Terbaru Tayang 2023, Genre Sci-fi hingga Thriller!
Menurut Stuart Hall, seorang sosiolog dan ahli teori budaya di Inggris, penonton terbagi menjadi tiga tipe. Reza memaparkan, tiga macam itu antara lain:
Tipe ini adalah tipikal penonton yang langsung nerima apa yang film tawarkan. Misalnya diterapkan pada penonton Arrival.
Dominan Hegemonic adalah mereka yang menikmati film ini hanya sebatas film sci-fi yang menghadirkan seorang ahli bahasa yang ditugaskan oleh militer untuk memecahkan pesan-pesan makhluk luar angkasa.
Tipe ini adalah mereka yang menerima semua yang ditampilkan di film Arrival, tapi mereka membuat beberapa nilai kritis.
Misalnya meski 12 Shell tersebar di 12 tempat di negara berbeda, fokusnya Arrival hanya ada di Montana, Amerika.
Tipe ini adalah penonton yang memiliki jiwa yang sangat kritis meski mereka menikmati filmnya.
Misalnya, penonton memaknai Arrival sebagai perlambang Amerika Serikat menunjukkan keunggulannya, sebab Louise Banks berasal dari Amerika dan seorang kaukasian.
Negara Cina dalam film Arrival cenderung ceroboh, gegabah dan emosional. Dari 12 tempat Shell mendarat, hanya orang Amerika saja yang bisa menerjemahkan yaitu Louise Banks. Apa yang terjadi dengan 11 tempat yang lain? Apakah orang-orang di 11 tempat yang lain tidak usaha?
Artikel Menarik Lainnya:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: