INDOZONE.ID - Film terbaru garapan Dan Trachtenberg, Predator: Badlands, membuka babak baru dalam semesta Predator dengan pendekatan yang tak lagi sekadar menakutkan.
Jika dulu Predator dikenal sebagai makhluk pemburu berdarah dingin, kini ia justru tampil sebagai sosok yang berjuang memahami kehormatan dan empati.
Dalam film produksi 20th Century Studios ini, kisah berpusat pada Dek, Predator buangan dari klannya yang berusaha menebus kesalahannya.
Baca juga: Cerita Baru Predator! Sinopsis Film Predator: Badlands
Dek berjumpa dengan Thia, android ciptaan korporasi Weyland-Yutani yang diperankan oleh Elle Fanning.
Pertemuan dua karakter berbeda dunia itu menjadi titik balik cerita, dari perburuan penuh darah menuju perjalanan moral dan kemanusiaan.
Hubungan antara Dek dan Thia dalam film ini akhirnya berkembang layaknya buddy movie dengan lapisan emosional yang kuat.
Thia yang setengah rusak secara fisik justru menjadi suara hati bagi Predator yang kehilangan arah.
Dalam dunia brutal di planet Genna, keduanya saling belajar arti hidup di tengah perburuan yang tak kenal ampun.
Namun, perubahan arah cerita ini menuai perdebatan beberapa kritikus.
Sebagian menyebut film ini mengalami “Disneyfikasi” yang dianggap terlalu lembut dan aman dibandingkan nuansa brutal seri sebelumnya.
Meski begitu, pendekatan baru ini memberi warna segar bagi waralaba yang telah berusia lebih dari tiga dekade.
Predator: Badlands menegaskan bahwa bahkan makhluk paling buas pun bisa berevolusi, dari pemburu menjadi korban, dari monster menjadi makhluk yang merasakan moral dan kehilangan.
Baca juga: Predator: Badlands – Kisah Pemburu yang Jadi Pahlawan dan Potensi Crossover Alien yang Menggoda
Di tengah dominasi film aksi dan fiksi ilmiah yang kerap menonjolkan kekerasan, kisah ini menghadirkan sisi lain: bahwa kemanusiaan, rupanya, tak hanya milik manusia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Tix.id, Polygon.com