Cortis Dituding Plagiat A$AP Rocky: Perdebatan 'Kpop Copying Black Culture' dan Fans Rasis Kembali Mencuat
INDOZONE.ID - Selain perdebatan antara Knetz (netizen Korsel) dan Netizen Seablings (netizen Asia Tenggara), dunia maya juga muncul perdebatan tentang musik grup Kpop baru di bawah naungan HYBE, CORTIS yang terseret tuduhan plagiarisme.
Mengutip situs Timenownes, grup beranggotakan Martin, James, Juhoon, Seonghyeon, dan Keonho yang mempromosikan diri sebagai “self-produced group” karena terlibat langsung dalam penulisan lagu, koreografi, hingga produksi video ini malah dianggap tidak orisinil karena memiliki gaya yang sama dengan musisi hip hop dari Amerika.
Di media sosial, beberapa netizen membandingkan lagu mereka dengan karya musisi hip-hop Amerika. Tiga perbandingan lagu yang ramai dibahas adalah:
- Lagu “FaSHioN” disebut mirip dengan “Praise the Lord” milik A$AP Rocky
- Lagu “GO!” dibandingkan dengan “FE!N” dari Travis Scott
- Lagu “JoyRide” dianggap menyerupai “Circles” karya Post Malone
Baca juga: CORTIS Buka-Bukaan Proses Debut Lewat Dokumenter “What We Want”
Perdebatan online
Netizen pun terbelah. Sebagian menuding HYBE dan CORTIS melakukan plagiarisme, bahkan menyindir bahwa konsep “self-producing” berisiko jika muncul tuduhan seperti ini.
Ada pula yang mengkritik pemasaran grup sebagai produser muda jenius namun dinilai belum menunjukkan warna musik yang benar-benar orisinal.
Di sisi lain, penggemar CORTIS membela idola mereka. Mereka menyebut kemiripan tersebut hanya referensi atau pengaruh genre, bukan plagiarisme.
Menurut mereka, gaya seperti itu memang umum dalam hip-hop modern dan K-pop kerap mengambil inspirasi dari tren global.
Kpop, Black Culture, dan Isu rasisme
Kontroversi ini juga membuka kembali diskusi lama soal hubungan K-pop dengan budaya kulit hitam (Black culture), khususnya hip-hop dan R&B Amerika.
Seorang tiktoker asal Korea Selatan yang juga warga negara Amerika Serikat Jane Lee, membuka diskusi pada Desember 2025 lalu yang kemudian viral kembali terkait pembahasan isu Kentz yang rasis dan membanggakan Kpop adalah fenomena global yang buat banyak orang iri.
Baca juga: The Real Hip-Hop KPop Group, CORTIS Bergabung dengan 'Friends of the NBA'
Dalam videonya, Jane Lee menyebutkan bila Kpop adalah musik orang kulit hitam Amerika Serikat yang dibumbui Bahasa Korea sehingga terlihat seperti Korea Selatan.
"Kpop adalah musik dan budayanya orang kulit hitam (musik Afrika-Amerika). Ini adalah hip hop, R&B, dan pop dari musik asing yang disistemasi dengan perusahaan hiburan Korea Selatan," ucap Jane dalam videonya.
Sejak awal perkembangannya, K-pop banyak mengadopsi elemen musik, gaya berpakaian, tarian, hingga estetika yang berakar dari komunitas Afrika-Amerika.
Ia menyebutnya dimulai dari lagu Seo Teji and Boys, veteran grup Kpop era 90-an yang lagunya mirip lagu musisi Amerika Cypres Hill. Lalu hal itu juga dilakukan sama beberapa grup kpop sekarang, termasuk Cortis.
Aprosiasi budaya tak terhindarkan
Karena banyak dari Kpop yang mencoba mengambil referensi Kpop, Ada tuduhan apropriasi budaya (cultural appropriation), seperti penggunaan gaya rambut khas Black culture tanpa memahami konteks sejarahnya. selain itu, musik hip-hop Black dijadikan “referensi” tanpa kredit atau penghargaan yang layak.
Dalam sebuah jurnal “Performing Post-Racial Asianness: K-Pop’s Appropriation of Hip-Hop Culture” yang dirilis Camrdige University menyebutkan soal musik hip-hop yang berakar pada budaya Afrika-Amerika digunakan dan diadaptasi dalam performa K-pop, tapi menjadi akar kritik soal mengambil budaya tanpa konteks.
Dengan mengacu pada teori-teori dari studi pertunjukan, studi tari, dan studi ras kritis, makalah ini mengeksplorasi cara-cara di mana apropriasi hip-hop oleh Kpop menjadi sebutan peniruan kolonialisme hingga hibriditas dan ketidaksesuaian identitas Asia kontemporer.
Baca juga: Sekuel KPop Demon Hunters Resmi Digarap, Sony dan Netflix Siap Lanjutkan Hype Lagi
Fans kpop yang rasis kepada musisi Hip Hop Amerika?
Sebagian fans K-pop menunjukkan sikap defensif berlebihan dan bahkan rasis ketika idolanya dibandingkan dengan musisi hip-hop kulit hitam.
Seorang influencer Amerika dengan akun Tonyweaverjr di Tiktok juga mangangkat isu tersebut pasca video Jane Lee kembali viral. Ia membuka argumentasi dan menunjukkan bagaimana audiens punya double standar tentan rap di musisi hiphop Amerika dan Idol Kpop.
"Kenapa musik rap musisi hip hop asli dari Amerika dianggap negatif dan perlu dijauhi, tapi ketika dinyanyikan idol Kpop jadi terkenal secara meluas?" katanya.
Pertanyaan itu membuat banyak reaksi dari para netizen, termasuk para fandom Kpop sendiri. Banyak dari netizen mereka terkait tudingan rasisme.
Bila jawabannya karena idol kpop lebih tampan dan enak dilihat dibanding musisi hiphop kulit hitam, maka tidka salah banyak yang menuding bila fandom Kpop kebanyakan (tidak semua) itu rasis.
Argumentasi tersebut juga sempat dibahas dalam jurnal budaya dari Universitas Oxford berjudul "Stifled, invisible, and threatened: Cultural Appropriation in K-pop Through the Lens of Identity-Negotiating Fans of Color'.
Baca juga: CORTIS Buka-Bukaan Proses Debut Lewat Dokumenter “What We Want”
Jurnal ini mengevaluasi apropriasi budaya dalam K-pop dari perspektif fans kulit berwarna, termasuk pengalaman mereka yang dihujat ketika mengkritik K-pop karena mengambil elemen budaya lain tanpa pengakuan dan sensitivitas.
Dalam beberapa kasus sebelumnya di industri K-pop, perdebatan tentang kemiripan lagu sering kali diiringi komentar yang meremehkan musisi hip-hop Amerika kulit hitam, seolah karya mereka “biasa saja” atau “mudah ditiru.” Sikap seperti ini memicu kritik bahwa sebagian fandom gagal mengakui akar budaya yang menjadi fondasi genre yang mereka nikmati.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal, Tiktok, Instagram, Timesnewson