INDOZONE.ID - Beberapa tahun terakhir, K-Pop bisa dibilang jadi raja di Asia Tenggara. Mulai dari lagu, idol, sampai tren fashion-nya, semua sempat mendominasi timeline banyak orang.
Namun sekarang, ada satu pertanyaan yang mulai muncul. Apakah hype K-pop di Asia Tenggara masih semasif itu?
Soalnya, kalau dilihat dari data terbaru chart streaming, ada perubahan tren musik yang cukup menarik. Di tengah budaya K-Pop dan pop Barat, musik lokal justru lagi naik kencang banget.
Daripada makin penasaran, kita bahas bareng perubahan tren musik Asia Tenggara berikut ini!
Tren K-Pop di Asia Tenggara
Awal Mula Tren K-Pop
Tren K-Pop di Asia Tenggara mulai terasa sekitar akhir 2000-an sampai awal 2010-an. Ini nggak lepas dari gelombang Hallyu (Korean Wave) yang waktu itu lagi naik-naiknya lewat drama Korea dan musik pop.
Ditambah lagi, pas grup kayak Super Junior, Girls' Generation, dan BIGBANG mulai dikenal secara global. Dari situ, K-Pop makin meledak di berbagai negara, termasuk Asia Tenggara.
Alasan kenapa K-Pop bisa digemari juga sebenarnya cukup relatable. Pertama, dari segi visual dan konsep, idol K-Pop selalu tampil fresh dan beda tiap comeback, jadi nggak bikin bosan.
Baca juga: Lightstick K-Pop: Sejarah, Fungsi dan Makna di Balik Cahayanya
Musiknya juga catchy dan gampang masuk ke telinga, bahkan buat yang baru pertama kali dengar. Belum lagi koreografinya yang ikonik, bikin banyak lagu jadi viral karena dance-nya ikut ditiru.
Selain itu, fans juga merasa lebih dekat karena idol K-Pop aktif banget di media sosial, sering update dan interaksi langsung.
Selain itu, industri K-Pop emang serius banget, dari produksi lagu, video musik, sampai promosi yang digarap dengan kualitas tinggi.
Apalagi sejak ada YouTube dan media sosial, penyebaran K-Pop jadi makin cepat. Dari yang awalnya cuma tren, K-Pop udah jadi bagian dari gaya hidup banyak orang di Asia Tenggara.
Baca juga: 28 Nama Fandom K-Pop Lengkap dengan Maknanya, Punya Arti Dalam!
K-pop Turun, Musik Lokal Naik
Belakangan ini, ramai di media sosial soal anlisis tren musik di Asia Tenggara. Popularitas K-pop dan musik pop Barat yang tadinya punya banyak penggemar mulai pelan-pelan menurun.
Akan tetapi, di saat yang sama, musik lokal justru lagi naik daun banget dan makin sering mendominasi chart streaming.
Data dari chart harian Top 50 Spotify di Indonesia, Filipina, Thailand, Malaysia, dan Singapura juga menunjukkan kalau selera pendengar di kawasan ini lagi berubah cukup drastis.
- Thailand: Musik lokal naik dari 65% ke 78%, sementara K-Pop turun cukup jauh dari 27% ke 11%.
- Filipina: Musik lokal juga ikut naik dari 44% ke 63%, sedangkan pop Barat turun dari 29% ke 14%.
- Indonesia: Ini yang paling kelihatan. Musik lokal melonjak dari 60% ke 78%, sementara K-Pop anjlok dari 5% ke cuma 1%.
- Malaysia: Musik Indonesia malah ikut naik dari 18% ke 22%, sementara K-Pop turun dari 18% ke 13%.
- Singapura: Masih cukup seimbang. Pop Barat ada di kisaran 30–40% dan K-Pop sekitar 30%. Namun, lagu lokal serta dari Indonesia dan Filipina mulai pelan-pelan mengisi.
Kalau dilihat secara keseluruhan, musik lokal di Asia Tenggara sekarang makin kuat dan mulai menggeser K-pop serta pop Barat. Artinya, pendengar makin suka mendengarkan karya dari negara mereka sendiri.
Kenapa Musik Lokal Makin Dipilih?
Faktor Bahasa dan Kedekatan Emosi
Lagu dengan bahasa sendiri jelas lebih ngena. Pendengar bisa langsung relate tanpa perlu terjemahan. Musik lokal biasanya lebih gampang dipahami liriknya, dekat dengan pengalaman sehari-hari, serta sesuai budaya.
Makanya, ketika kualitas produksinya udah bagus, banyak orang otomatis balik ke musik lokal. Apalagi, banyak musisi lokal yang pakai platform media sosial buat promo lagu-lagu mereka.
Industri Lokal Naik Level
Dulu, salah satu alasan K-pop mendominasi adalah karena kualitas produksi yang jauh di atas rata-rata. Namun sekarang, industri musik di Indonesia, Thailand (T-pop), dan Filipina udah nggak kalah berkualitas.
Kini, industri musik lokal punya produksi visual yang lebih niat, konsep matang, dan artist dengan branding kuat.
Algoritma Streaming Ikut Mendorong
Platform seperti Spotify punya peran besar dalam perubahan ini. Soalnya, lagu lokal lebih sering diputar oleh pengguna di negara tersebut. Algoritma jadi makin sering merekomendasikan musik lokal.
Karena hal itu, playlist lokal (Top 50, Viral 50) didominasi artis domestik. Alhasil, musik lokal makin terekspos, makin populer, dan makin menang di chart.
Rasa Bangga terhadap Budaya Sendiri
Sekarang, ada tren yang cukup kuat buat mendukung musisi lokal. Pendengar mulai bangga dengan artis dari negara sendiri.
Bahkan, banyak fans yang aktif mempromosikan musik lokal di media sosial. Artinya, pendengar menganggap kesuksesan artis lokal sebagai representasi budaya.
K-Pop Bukan Hal Baru Lagi
K-Pop sempat jadi fenomena besar karena terasa fresh dan beda. Namun, setelah bertahun-tahun, konsep mulai terasa repetitif bagi sebagian orang.
Selain itu, banyak grup baru bermunculan dengan formula mirip. Alhasil, ini bikin eksklusivitasnya mulai berkurang.
Sementara itu, musik lokal justru terasa lebih segar karena berkembang sesuai tren regional. Kalau di Indonesia, genre musik yang disukai juga bisa tergantung daerah.
Akses dan Kedekatan Artis Lokal
Artis lokal biasanya lebih sering tampil di event offline, aktif berinteraksi dengan fans di media sosial, dan mudah dijangkau.
Hal ini bikin fans merasa lebih dekat dibandingkan dengan idol K-pop yang jauh secara geografis dan akses.
Pada akhirnya, soal selera musik itu memang selalu berubah dan nggak bisa dipatok satu arah. K-Pop mungkin sempat mendominasi.
Namun sekarang, musik lokal juga mulai naik dan menunjukkan identitasnya sendiri yang nggak kalah kuat. Justru di sinilah serunya, pendengar jadi punya lebih banyak pilihan, dari yang global sampai yang dekat dengan budaya sendiri.
Jadi sekarang, kamu lagi lebih sering mendengarkan K-Pop atau justru mulai jatuh hati sama musik lokal?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Kbizoom