Kamis, 27 APRIL 2023 • 13:22 WIB

Review ‘Guy Ritchie’s The Covenant’: Bukan Sekedar Film Perang, Tekankan Drama Kemanusiaan

Author

Guy Ritchie’s The Covenant. (Indigenous FIlm)

Entah kenapa film ini diberikan judul dengan nama saudaranya. Salah satu alasan yang memungkinkan adalah ada film berjudul sama dan orang tak salah mengira dengan film supranatural yang rilis 2006 silam.

Ya, ini adalah film karya Guy Ritchie, sutradara kenamaan yang banyak mengarahkan film-film action berbau komedi.

Baca Juga: Review The Innocent di Netflix, Penuh Plot Twist tapi Endingnya Kurang Memuaskan

Guy Ritchie’s The Covenant. (Indigenous FIlm)

Namun film yang satu ini adalah salah satu karya Guy Ritchie yang sangat berbeda karena mengangkat kisah drama dalam sebuah peperangan dengan latar perang Afghanistan, meski banyak juga adegan aksi dan mencekam.

Guy Ritchie tak hanya bertindak sebagai sutradara, tapi juga produser dan penulis naskah bersama dengan nama-nama lainnya. Film ini dibintangi oleh Jake Gyllenhaal, Dar Salim, Emily Beecham, Antony Starr, dan masih banyak lagi.

Sinopsis Guy Ritchie’s The Covenant’

Film ini berkisah tentang Sersan Angkatan Darat Amerika Serikat bernama John Kinley (Jake Gyllenhaal) dating ke medan perang Afghanistan dan bertemu dengan seorang penerjemah bahasa Afghanistan bernama Ahmed (Dar Salim).

Kinley mengetahui bahwa keluarga Ahmed telah dibunuh dengan keji oleh orang-orang Taliban. Kinley pun meminta bantuan Ahmed karena kemampuannya.  

Ahmed mengetahui wilayah tersebut, memahami perilaku orang-orang setempat, dan dia bahkan dapat menemukan pengkhianat dan menyelamatkan nyawa orang.

Kinley dan beberapa pasukannya meminta bantuan Ahmed untuk menyerbu simpanan utama persenjataan Taliban.

Guy Ritchie’s The Covenant. (Indigenous FIlm)

Sayangnya, penyergapan itu kecolongan dan mereka ditembaki tentara Taliban yang membuat Kinley terluka parah.

Ahmed pun menyelamatkan nyawa Kinley, menyeretnya melintasi medan yang tak terbayangkan sejauh beberapa ratus mil, sementara Taliban mengejar mereka.

Kinley mengetahui bahwa Ahmed dan keluarganya ingin keluar dari Afghanistan dan pindah ke Amerika Serikat, namun janji dari pemerintah AS untuk mengeluarkan mereka tak pernah dikabulkan.

Kinley pun merasa berhutang budi berjanji akan mengeluarkan Ahmed dan pergi ke Amerika. Namun sebelum itu semua, mereka harus selamat dulu dari kejaran orang-orang Taliban.

Review Guy Ritchie’s The Covenant’

Meskipun tidak didasarkan pada kisah nyata, film ini seolah mewakili apa yang jelas merupakan dilema umum setelah perang di Afghanistan berakhir.

Begitu banyak penerjemah Afghanistan dan keluarga mereka dijanjikan perjalanan yang aman ke Amerika ketika perang berakhir, hidup mereka akan berada dalam bahaya besar begitu pasukan AS ditarik keluar.

Guy Ritchie’s The Covenant. (Indigenous FIlm)

Namun hanya sedikit dari para penerjemah yang benar-benar berhasil dikeluarkan, sisanya banyak yang tewas di tangan Taliban.

Mengambil latar lokasi gurun dan pegunungan di sepanjang film, setidaknya di satu jam pertama. Penonton akan disuguhkan pemandangan tersebut. Amerika selalu bermain dengan latar perang sesuai dengan dekadenya masing-masing.

Guy Ritchie’s The Covenant. (Indigenous FIlm)

Setelah menunjukkan banyak hutan di dan sungai di film tema perang di era 80-90, kini nuansa gurun yang diangkat mengingat perang Amerika di dua dekade terakhir berpusat di wilayah Timur Tengah.

Dari gaya penuturan dan ceritanya, film ini sangat berbeda dengan film khas Guy Ritchie yang ada. Tidak ada dialog tajam atau lelucon cerdas.

Para pembuat film dan timnya tampaknya berniat menjaga hal-hal yang cukup otentik, baik dengan bahasa militer maupun taktik yang digunakan oleh Angkatan Darat.

Tak hanya itu, para sineas juga memasukkan beberapa makna kehidupan yang bisa kita temukan sehari-hari, seperti bahwa hidup tak pernah aman di setiap saat. Segala sesuatunya dapat berubah menjadi berbahaya, kacau, dan mematikan dalam hitungan detik.

Guy Ritchie’s The Covenant. (Indigenous FIlm)

Jake Gyllenhaal sangat memukau saat memerankan John Kinley, mulai dengan adegan yang santai ataupun intens. Meski adegan Kinley yang frustasi dengan birokrasi yang diperlukan untuk mengeluarkan Ahmed dari bahaya terlihat sedikit berlebihan.

Sementaa itu, adegan peperangan yang diperlihatkan sangat alami dan nisa menjaga naik turun ketegangan dan tak bercampur dengan pesan kemanuasiaan yang sedang ditunjukkan di film ini.

Termasuk adegan pertempuran di akhir film saat ekstraksi sedang berlangsung yang dirancang untuk memaksimalkan ketegangan.

Baca Juga: Review Tetris: Kisah di Balik Kesuksesan Video Game Tetris yang Fenomenal

Kesimpulannya, film The Covenant karya Guy Ritchie adalah film yang solid tentang survival, rasa hormat, dan kehormatan para prajurit di medan perang namun tetap memberikan pelajaran bahwa perang itu sia-sia dengan tak menutupi kebrutalan perang.

Ini salah satu karya Guy Ritchie lebih banyak berbicara tentang berharganya manusia yang terjebak kepentingan politik dan rumitnya birokrasi.

Rating

Untuk film ini, saya memberikan rating 8/10. Cocok buat mereka yang ingin mencari film perang yang tak melulu soal tembak-tembakan atau membunuh dan terbunuh.

 

Artikel Menarik Lainnya:

Konten ini adalah kiriman dari Z Creators Indozone. Yuk bikin cerita dan konten serumu serta dapatkan berbagai reward menarik! Let's join Z Creators dengan klik di sini.

Z Creators

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author

Z Creators

ZCreators
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU