Ali Fikry, Dian Sastrowardoyo, dan Ringgo Agus. (INDOZONE/Nadya Mayangsari)
INDOZONE.ID - Film bergenre drama keluarga dengan sentuhan fiksi ilmiah berjudul Esok Tanpa Ibu menyajikan kisah menarik tentang AI (artificial Intelligence) atau kepintaran buatan dan kisah duka.
Film yang merupakan hasil kolaborasi internasional dengan sutradara asal Malaysia, Ho Wi-Ding ini ternyata sebuah proyek besar yang tidak main-main. Bahkan jauh sebelum jadwal tayangnya, filmnya telah mendapatkan apresiasi yang besar dari berbagai sumber.
Shanty Harmayn, selaku produser, menceritakan perjalanan panjang dalam memproduksi film ini yang telah dimulai sejak tahun 2020.
Baca juga: Film 'Esok Tanpa Ibu' Rilis Spesial Teaser: Duka Kehilangan Beradu dengan Teknologi AI
Ia mengungkapkan rasa syukurnya karena film tersebut telah melalui berbagai tahapan penting, mulai dari pemutaran di Busan hingga partisipasi di JAFF dan serangkaian acara nonton bareng. Shanty mengaku sangat bahagia melihat sambutan positif dari para penonton sejauh ini.
"Perjalanan film ini cukup panjang, akhirnya kita sampai di minggu yang di mana kita akan rilis film ini dimulai sekitar tahun 2020," ujar produser Shanty Harmayn saat Konferensi Pers di Epicentrum XXI, Jakarta, pada Senin (19/1/2026).
Lebih lanjut, Shanty berharap agar film ini bisa menjadi sarana refleksi dan ruang dialog bagi penonton, khususnya mengenai dinamika keluarga dan pola komunikasi di era percepatan teknologi.
"Saya harapkan film ini menjadi ruang reflektif, ruang dialog, dan juga mengenai keluarga, mengenai komunikasi, dan juga di tengah teknologi yang sangat-sangat cepat saat ini," harapnya.
"Mudah-mudahan film ini jadi surat cinta untuk keluarga Indonesia," lanjutnya.
Film Esok Tanpa Ibu, menceritakan tentang sosok Rama yang tak sejalan dengan Ayahnya, dan hanya dekat dengan Ibunya dan harus menghadapi situasi sulit ketika Ibunya jatuh koma.
Saat mulai terpuruk, Rama mendapatkan bantuan tak terduga yakni i-BU: sebuah AI ciptaan temannya yang membuat Rama bisa melihat wajah, suara, dan bahkan menjadikan AI tersebut alat bantu untuk merangsang kerja otak Ibunya.
Esok Tanpa Ibu (Mothernet) sudah keliling festival internasional sebelum mampir ke Festival Film Tempo 2025. Film ini sempat tayang di Busan International Film Festival (BIFF) 2025 Korea Selatan, di mana ia menjalani world premiere, alias pertama kali diputar untuk publik global.
Setelah itu, film ini melanjutkan perjalanannya ke tanah air lewat Indonesian Premiere di JAFF (Jogja-NETPAC Asian Film Festival) 2025 pada Desember lalu. Di ajang tersebut, Esok Tanpa Ibu (Mothernet) juga berkompetisi di program Indonesian Screen Awards.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung