Shalom Razade (Z Creators/Gunawan)
INDOZONE.ID - Industri perfilman horor Indonesia kembali kedatangan karya terbaru yang mengangkat kearifan lokal serta urban legend unik dari Bangka Belitung. Aktris muda Shalom Razade didapuk untuk memerankan tantangan besar dalam film bertajuk The Bell: Panggilan Untuk Mati. Dalam proyek garapan sutradara Jay Sukmo ini, Shalom diminta memainkan dua karakter sekaligus yang memiliki latar belakang emosional sangat kontras.
Film produksi MBK Production dan Sinemata ini menempatkan putri dari Wulan Guritno tersebut sebagai Isabella, seorang aktivis Bangka Belitung yang hidup di masa penjajahan Belanda. Di sisi lain, ia juga harus bertransformasi menjadi sosok menyeramkan yang menjadi pusat teror dalam cerita, yakni Hantu Penebok. Peran ganda ini menuntut kedalaman akting yang tidak biasa, mengingat kedua karakter tersebut memiliki keterikatan sejarah dan rasa sakit yang mendalam.
Baca juga: Film Horor 'The Bell' Angkat Urban Legend Penebok dan Lonceng Keramat dari Belitung
Shalom mengungkapkan bahwa ketertarikannya bergabung dalam proyek ini bukan sekadar karena unsur horornya, melainkan sisi kemanusiaan dari sosok hantu yang ia perankan. Menurutnya, karakter Hantu Penebok memiliki motivasi yang kuat di balik aksi terornya yang mengumpulkan kepala manusia. Hal inilah yang membuat naskah film The Bell: Panggilan Untuk Mati terasa sangat berbeda dibandingkan dengan film-film horor yang pernah ia tonton atau mainkan sebelumnya.
“Tapi, kenapa awalnya aku tertarik? Karena ternyata si Hantu Penebok ini juga punya alasan kenapa dia mengumpulkan kepala ini. Bukan sekadar teror-teror saja, tapi sebenarnya hantunya ini punya hati,” kata Shalom Razade saat ditemui di XXI Epicentrum Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (27/4/2026).
Dara 27 tahun ini menjelaskan lebih lanjut bahwa Isabella, yang kemudian menjadi Hantu Penebok, sebenarnya menyimpan kerinduan yang mendalam. Ia hanya ingin bertemu dengan sosok yang benar-benar dicintainya dan berharap bisa dilihat sebagai manusia seutuhnya, bukan sekadar entitas yang ditakuti. Sudut pandang yang melankolis ini justru membuat Shalom merasa tersentuh ketika pertama kali mendalami naskahnya.
“Aku enggak pernah melihat ini dari hantu-hantu lain. Aku juga jadi terharu saat baca skripnya. Ternyata, kenapa dia mengumpulkan kepala ini karena ada tujuan dan makna di balik itu. Itu sih yang bikin aku tertarik,” ucapnya.
Para pemain film The Bell: Panggilan Untuk Mati. (Z Creators/Gunawan)
Demi memberikan performa maksimal, Shalom Razade Syach menunjukkan totalitas tinggi selama proses syuting. Untuk memperkuat latar waktu di masa penjajahan, ia bahkan memberikan usulan kepada sutradara agar karakternya menggunakan bahasa Belanda dalam beberapa adegan penting. Hal ini dilakukan agar interaksi Isabella dengan tokoh-tokoh Belanda dalam film terlihat lebih autentik dan memiliki wibawa sebagai seorang aktivis di zaman tersebut.
“Kadang lihat Isabella ini bagaimana cara menyampaikan pesan ke orang Belanda, dan untuk menunjukkan Isabella ini serius. Makanya saya usul pakai bahasa Belanda saja,” jelasnya.
Sutradara sekaligus produser film ini, Aris Muda, menegaskan bahwa pemilihan Hantu Penebok bertujuan untuk memberikan warna baru dalam khazanah horor nasional. Selama ini, layar lebar Indonesia kerap didominasi sosok kuntilanak atau pocong, sehingga kehadiran urban legend dari Belitung ini diharapkan bisa memperluas wawasan penonton mengenai keragaman mitos di Nusantara.
“Enggak pernah ada film horor Indonesia yang mengangkat Hantu Penebok. Kami ingin hantu ini dikenal masyarakat, bukan cuma pocong atau kuntilanak saja,” kata Aris Muda.
Baca juga: Salmokji: Whispering Water Lampaui 2 Juta Penonton, Jadi Film Horor Korea Pertama dalam 8 Tahun
Film The Bell: Panggilan Untuk Mati sendiri mengisahkan tentang sebuah lonceng keramat di Belitung yang dicuri oleh sekelompok YouTuber demi konten. Tindakan ceroboh tersebut secara tidak sengaja membebaskan Penebok, entitas mengerikan yang telah terkurung selama ratusan tahun. Dengan gaun merah ikoniknya, hantu tanpa kepala itu mulai memburu siapa pun yang mendengar denting lonceng, menuntut nyawa sebagai ganti atas kebebasannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan