Rama Dio bersama Raviandi dan Ravianto (INDOZONE/Sagita Rahma Hayati)
INDOZONE.ID - Film dokumenter 'Dissidence' sebentar lagi akan segera ditayangkan secara serentak ke penonton Indonesia, setelah sebelumnya diperkenalkan ke penonton di beberapa negara luar. Sebuah film perjalanan dan perjuangan atlet kembar panjat tebing Indonesia Raviandi dan Ravianto yang dengan keterbatasannya tetap berjuang di bidang yang ditekuninya.
Setelah mengerjakan dari tahun 2023 silam, akhirnya film tersebut rampung dan siap akan bisa dinikmati. Sang sutradara Rama Dio Syahputra pun mengenang awal mula mendapat inspirasi untuk membuat dokumenter tersebut.
Dalam wawancara bersama Indozone, Rama Dio mengatakan dirinya sama sekali awalnya tidak memiliki niat untuk membuat film tersebut. Ide itu muncul ketika pertama kali bertemu Raviandi dan Ravianto di Chamonix, Prancis, tepatnya di kaki pegunungan Mont Blanc pada 2023.
Menurutnya, cerita dua atlet panjat tebing yang menekuni disiplin lead dan boulders tersebut mengetuk pintu hatinya yang paling dalam.
“Sebetulnya inspirasi itu kata yang terlalu ringkas buat saya. Karena ini pertama kalinya saya merasa cerita itu datang ke depan pintu saya sendiri,” ujar Rama Dio.
Ia mengaku tersentuh setelah mendegar langsung perjuangan Raviandi dan Ravianto yang datang ke Eropa untuk mengikuti kompetisi panjat tebing dunia dengan segala keterbatasan.
Saat itu, keduanya mengikuti kejuaraan dunia panjat tebing yang diibaratkan Rama sebagai “Piala Dunia”-nya olahraga panjat tebing. Namun berbeda dengan atlet-atlet negara lain yang datang dengan dukungan penuh, Raviandi dan Ravianto berangkat secara mandiri tanpa pelatih dan hanya mengandalkan dukungan komunitas panjat tebing.
Rama Dio kemudian mengetahui berbagai pengorbanan yang dilakukan keduanya demi tetap bisa bertanding. Mulai dari membawa rice cooker sendiri, menghemat biaya makan, hingga membatasi latihan karena mahalnya biaya climbing gym di Eropa.
“Mereka cerita bawa rice cooker sendiri, makan seadanya supaya hemat. Harusnya latihan setiap hari di climbing gym di Eropa, tapi karena biayanya sekitar 50 euro dan terlalu mahal, akhirnya mereka cuma latihan beberapa kali,” katanya.
Sebagai seseorang yang bekerja di industri outdoor dan sering berinteraksi dengan atlet-atlet panjat kelas dunia, Rama merasa kondisi tersebut membuat peluang atlet Indonesia untuk bersaing menjadi jauh lebih berat.
“Saya pikir, ini anak Indonesia gimana mau menang kalau kondisinya seperti ini. Mereka ingin berprestasi, membawa bendera merah putih, tapi negaranya sendiri belum benar-benar mendukung mereka untuk ada di level itu,” ungkapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara