Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 27 MEI 2026 • 11:07 WIB

Sosok Rama Dio Syahputra dan Awal Mula “Dissidence”: Dari Dunia Produk Keselamatan ke Dokumenter Panjat Tebing

Sosok Rama Dio Syahputra dan Awal Mula “Dissidence”: Dari Dunia Produk Keselamatan ke Dokumenter Panjat TebingSosok Rama Dio Syahputra, sutradara di balik dokumenter 'Dissidence' (INDOZONE/Sagita Rahma Hayati)

INDOZONE.ID - Film dokumenter 'Dissidence' baru saja diperkenalkan secara terbatas kepada penonton Indonesia tentang perjalanan dua atlet kembar panjat tebing asal Indonesia, Raviandi dan Ravianto, yang menekuni lead dan boulder. Sebelum ditayangkan secara resmi untuk penonton Tanah Air, INDOZONE sempat berbincang dengan sosok di balik dokumenter olahraga outdoor tersebut, Rama Dio Syahputra yang lebih dulu memperkenalkan film tersebut ke penonton mancangara.

Bagi Rama Dio Syahputra, dunia film dokumenter bukanlah sesuatu yang sejak awal ia rencanakan. Ia tidak tumbuh dari sekolah film, tidak pula datang dari lingkungan sinema profesional. 

Namun dari pengalaman teknis itulah lahir 'Dissidence', film dokumenter tentang atlet kembar panjat tebing asal Indonesia, Raiandi dan Ravianto, yang menekuni disiplin lead and boulder..

“Awalnya saya suka fotografi,” kata Rama Dio Syahputra saat diwawancarai Indozone. “Pekerjaan saya di bidang video produksi, tapi untuk produk. Jadi saya kerja tuh khusus bekerja soal produk di alat-alat pelindung diri. Di panjat tebing, di caving. di material industri, di pekerjaan ketinggian. Itu mulai dari kaki sampe kepala, saya bikin semua iklan produknya. memang saya punya kultur budaya keamanan yang luar biasa tinggi,” ujarnya.

Baca juga: Pre Screening Film Dokumenter 'Dissidence' di Indonesia, Angkat Kisah Inspiratif Atlet Kembar Panjat Tebing

Di sela pekerjaan itulah ia belajar sinematografi secara otodidak. Mulai dari memahami pencahayaan, komposisi gambar, hingga kerja seorang director of photography (DOP), semuanya dipelajari sambil bekerja langsung di lapangan.

“Sebetulnya saya belajar sambil melakukan,” katanya.

Dokumenter Panjat Tebing Butuh Kemampuan Ganda

Menurut Rama Dio Syahputra, film dokumenter tentang climbing memiliki tantangan yang berbeda dibanding produksi dokumenter biasa. Pengambilan gambar bukan hanya soal estetika visual, tetapi juga menyangkut kemampuan teknis dan keselamatan.

Ia menyebut banyak referensi dokumenter climbing dunia, mulai dari ekspedisi Himalaya, olahraga sport climbing, hingga dokumentasi penyelamatan anak-anak di gua Thailand,  semuanya membutuhkan logistik dan kemampuan teknis yang kompleks.

Sosok Rama Dio Syahputra dan Awal Mula “Dissidence”: Dari Dunia Produk Keselamatan ke Dokumenter Panjat TebingRama Dio Syahputra dan Raviandi dan Ravianto saat proses pembuatan 'Dissidence' (Rama Dio Syahputra (@ramadiosp) / Dissidence Images)

Karena itu, ketika mulai merekam Raviandi dan Ravianto, ia sadar bahwa seorang pembuat film di dunia climbing harus mampu melakukan banyak hal sekaligus.

Baca juga: Film Dokumenter 'Dissidence' Diputar Perdana, Yenny Wahid Soroti Perjuangan Atlet Kembar Panjat Tebing Indonesia

“Untuk ambil gambar si kembar, saya juga harus naik ke atas, saya bisa dua jam gelantungan sambil merekam mereka.”

Dalam situasi seperti itu, seorang filmmaker tidak hanya fokus pada kamera. Ia juga harus memastikan keselamatan dirinya sendiri.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wawancara

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Sosok Rama Dio Syahputra dan Awal Mula “Dissidence”: Dari Dunia Produk Keselamatan ke Dokumenter Panjat Tebing

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!