Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 16 JUNI 2026 • 13:00 WIB

'Dissidence' Dapat Apresiasi dari Atlet, Komunitas hingga Federasi Panjat Tebing

Dissidence Dapat Apresiasi dari Atlet, Komunitas hingga Federasi Panjat TebingRama Dio Syahputra (Kanan) bersama Yenny Wahid (Kiri) - Raviandi dan Ravianto (Tengah) saat pemutaran Dissidence beberapa waktu lalu (INDOZONE/Sagita Rahma Hayati)

INDOZONE.ID - Di balik setiap medali yang diraih atlet, ada perjalanan panjang yang jarang disaksikan publik. Proses latihan, keterbatasan fasilitas, hingga tekanan untuk terus berprestasi sering kali luput dari sorotan.

Realitas itulah yang diangkat dalam film dokumenter Dissidence, karya sutradara Rama Dio Syahputra, yang mengikuti perjalanan atlet kembar panjat tebing Indonesia, Raviandi dan Ravianto. 

Film ini tak hanya menampilkan pencapaian mereka di arena kompetisi, tetapi juga perjuangan sehari-hari dalam mengejar mimpi di cabang olahraga yang masih berkembang di Indonesia.

Ketum Federasi Panjat Tebing Indonesia Yenny Wahid Beri Apresiasi

Pesan yang dibawa Dissidence rupanya berhasil menyentuh banyak pihak, termasuk Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), Yenny Wahid.

Baca juga: Film Dokumenter 'Dissidence' Diputar Perdana, Yenny Wahid Soroti Perjuangan Atlet Kembar Panjat Tebing Indonesia

Menurut Yenny, film tersebut menunjukkan bagaimana olahraga dapat menjadi sarana bagi anak muda untuk berjuang, berkembang, dan membawa nama bangsa ke tingkat internasional.

"Lewat olahraga yang mereka cintai, mereka berjuang membawa nama Indonesia. Kisah mereka bisa jadi inspirasi untuk banyak anak muda lainnya," kata Yenny Wahid.

Baginya, kekuatan utama film ini bukan hanya terletak pada prestasi yang diraih Raviandi dan Ravianto, melainkan pada semangat pantang menyerah yang mereka tunjukkan selama bertahun-tahun.

Berbeda dengan speed climbing yang telah banyak menyumbangkan prestasi internasional bagi Indonesia, Raviandi dan Ravianto memilih fokus pada kategori lead climbing dan bouldering.

Lead climbing menguji daya tahan fisik, strategi, dan kemampuan membaca jalur pada dinding setinggi 12 hingga 15 meter. Sementara bouldering menuntut kreativitas serta kemampuan memecahkan masalah dalam rute pendek tanpa tali pengaman.

Baca juga: 6 Dokumenter Outdoor yang Perlu Ditonton: Ada 'Dissidence' Tentang Atlet Kembar Indonesia di Panjat Tebing

Menurut Yenny Wahid, kedua disiplin ini memiliki tingkat persaingan yang sangat ketat, terutama di kawasan Asia.

"Asia punya atlet lead dan boulder yang sangat kuat seperti Jepang, Korea, dan China. Tapi tantangan memang harus dihadapi," ujarnya.

Karena itu, perjalanan Raviandi dan Ravianto dinilai menjadi contoh bagaimana atlet Indonesia mulai berani menembus dominasi negara-negara yang lebih mapan dalam cabang tersebut.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wawancara

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

'Dissidence' Dapat Apresiasi dari Atlet, Komunitas hingga Federasi Panjat Tebing

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!