INDOZONE.ID - Menyusun premis film yang kuat bukan sekadar merangkum cerita, melainkan merancang pintu masuk yang langsung menarik perhatian. Buat kamu yang mau nulis novel fiksi atau membuat film, premis adalah dasar ceritanya di awal yang perlu dipelajari.
Dari sinilah penonton memutuskan apakah sebuah cerita layak diikuti atau tidak. Karena itu, premis harus terasa hidup, jelas, dan memancing rasa ingin tahu sejak kalimat pertama.
Apa itu premis?
Premis adalah gambaran inti dari sebuah cerita yang merangkum siapa tokohnya, apa yang ingin dicapai, konflik yang dihadapi, dan apa yang dipertaruhkan. Ia biasanya ditulis singkat, tetapi mampu menjelaskan arah cerita secara jelas.
Sederhananya, premis adalah “ide utama” yang menjadi dasar sebuah film, novel, atau cerita sebelum dikembangkan menjadi alur lengkap.
Baca juga: Film 'Sleeping Dogs' Kembali Digarap, Simu Liu Pastikan Naskah Versi Pertama Sudah Rampung
Contoh premis dari dua film terkenal
Berikut ini ada dua contoh dari dua film terkenal.
Harry Potter and the Sorcerer's Stone
Seorang anak yatim piatu menemukan bahwa ia adalah penyihir dan masuk ke sekolah sihir, namun harus menghadapi kekuatan gelap yang diam-diam berusaha kembali berkuasa.
Spider-Man: Homecoming
Seorang remaja dengan kekuatan laba-laba berusaha membuktikan dirinya sebagai pahlawan sejati, tetapi harus menghadapi penjahat berbahaya tanpa bergantung pada mentornya
8 Contoh Premis Film (Berbagai Genre)
Berikut ini adalah beberapa contoh premis dari berbagai pilihan genre yang mungkin bisa jadi contoh untuk belajar.
Baca juga: Review K-Pop Demon Hunters, Perkawinan Genre Tak Terduga yang Melampaui Premis Idol Pembasmi Iblis
1. Thriller Kriminal
Seorang jurnalis investigasi menemukan pola pembunuhan berantai yang menyerupai kasus 1970-an, namun saat ia semakin dekat pada pelaku, ia menyadari bahwa dirinya sendiri sedang dijadikan target berikutnya.
2. Sci-Fi
Di masa depan di mana ingatan bisa diperjualbelikan, seorang teknisi menemukan memori ilegal yang mengungkap konspirasi besar—dan kini semua orang yang mengetahui rahasia itu mulai “menghilang”.
3. Horor
Seorang keluarga pindah ke rumah tua di pedesaan, hanya untuk menemukan bahwa setiap malam, rumah itu “mengulang” tragedi pembunuhan masa lalu—dan perlahan menempatkan mereka sebagai korban berikutnya.
4. Drama
Seorang mantan narapidana mencoba membangun kembali hidupnya dan memperbaiki hubungan dengan anaknya, tetapi masa lalunya terus menghancurkan setiap kesempatan yang ia miliki.
5. Aksi
Seorang mantan agen rahasia dipaksa kembali ke dunia lamanya ketika keluarganya diculik oleh organisasi yang dulu ia hancurkan—kali ini dengan teknologi yang lebih mematikan.
6. Romantis
Dua orang asing bertemu melalui aplikasi yang mempertemukan mereka berdasarkan “waktu kematian yang sama”, dan perlahan jatuh cinta sambil mencoba mengubah takdir yang telah diprediksi.
7. Fantasi
Seorang gadis desa menemukan bahwa ia adalah kunci untuk membangkitkan naga terakhir, tetapi kekuatan itu juga menarik perhatian kerajaan yang ingin menggunakannya sebagai senjata.
Baca juga: Tips dan Strategi Jitu Beli Tiket Konser di Tengah War Tiket
8. Misteri / Detektif
Seorang detektif yang hampir pensiun menangani satu kasus terakhir: hilangnya seorang anak yang tampaknya terkait dengan kasus lama yang belum pernah terpecahkan—kasus yang menghancurkan kariernya dulu.
Tips membuat premis cerita
Tokoh Utama yang Konkret
Langkah pertama adalah memastikan tokoh utama terasa nyata dan spesifik. Hindari penyebutan yang terlalu umum. Sebuah premis akan jauh lebih kuat jika menyebut “seorang detektif yang kehilangan reputasinya” dibanding hanya “seseorang”. Detail kecil seperti latar belakang atau sifat unik membantu penonton langsung membayangkan karakter tersebut.
Tujuan yang Jelas
Selanjutnya, tujuan tokoh harus dinyatakan dengan tegas. Cerita selalu bergerak karena ada sesuatu yang ingin dicapai. Tujuan ini tidak boleh samar. Ia harus bisa dibayangkan hasil akhirnya, apakah berhasil atau gagal. Tanpa tujuan yang jelas, premis akan terasa mengambang dan kehilangan arah.
Konflik yang Menggerakkan Cerita
Konflik adalah elemen yang menghidupkan premis. Di sinilah ketegangan mulai terasa. Hambatan yang dihadapi tokoh tidak cukup hanya ada, tetapi harus signifikan dan relevan secara emosional. Konflik yang kuat membuat perjalanan tokoh terasa berisiko dan tidak mudah ditebak.
Baca juga: 3 Tips Persiapan Konser K-Pop yang Fans Harus Tahu: Jangan Sampai Lupa!
Taruhan yang Dipertaruhkan
Penting untuk menunjukkan apa yang menjadi risiko dalam cerita. Penonton perlu tahu apa yang dipertaruhkan jika tokoh gagal. Taruhan inilah yang menciptakan urgensi. Tanpa konsekuensi yang jelas, cerita akan terasa datar dan kurang menggugah.
Elemen Unik sebagai Daya Tarik
Premis perlu memiliki sesuatu yang membedakannya dari cerita lain. Sebuah ide yang terasa segar akan lebih mudah menarik perhatian. Ini bisa berupa konsep dunia yang unik, situasi yang tidak biasa, atau kombinasi ide yang jarang dipertemukan.
Ringkas dan Padat
Meskipun memuat banyak unsur, premis tetap harus disampaikan secara singkat. Kalimat yang terlalu panjang justru melemahkan dampaknya. Fokus pada inti cerita dan buang detail yang tidak penting. Premis yang baik biasanya singkat, tetapi langsung terasa kuat.
Struktur yang Terarah
Jika kesulitan merangkai, gunakan pola sederhana sebagai panduan. Mulai dari tokoh, lanjut ke tujuan, lalu konflik, dan tutup dengan konsekuensi. Struktur ini membantu menjaga premis tetap fokus tanpa kehilangan kekuatannya.
Uji dari Sudut Pandang Penonton
Terakhir, selalu uji premis dengan membayangkan bagaimana orang lain akan menerimanya. Apakah cukup jelas? Apakah menarik? Apakah memunculkan rasa penasaran? Jika belum, berarti masih ada bagian yang perlu dipertajam.
Premis yang tajam mampu langsung memberi gambaran konflik, arah cerita, dan alasan mengapa penonton harus peduli. Karena itu, memahami cara membangun premis yang efektif adalah langkah awal yang krusial dalam proses penulisan skenario.
Nah, itulah penjelasan singkat tentang premis yang perlu kamu ketahui dan bisa menjadi latihan membuat premis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Filmmakingstuff