First Impression Film 'Ghost in the Cell' Karya Joko Anwar: Lebih dari Sekadar Horor, Penuh Kritik Sosial
INDOZONE.ID - Film Ghost in the Cell karya Joko Anwar berhasil mencuri perhatian sejak awal penayangan.
Dengan pendekatan cerita yang unik dan penuh simbol, film ini langsung menghadirkan suasana yang kuat, bahkan sejak adegan pembuka.
Pembukaan Sarat Makna dan Tegangan Cerita
Film ini dibuka dengan sebuah nyanyian yang sarat makna, mengangkat isu tentang hukum yang tidak adil, sering digambarkan sebagai “tumpul ke atas, tajam ke bawah.”
Baca juga: Film 'Ghost In The Cell' dari Joko Anwar Bakal Tayang di 86 Negara!
Nuansa ini langsung memberikan gambaran bahwa cerita yang disajikan tidak sekadar horor biasa, tetapi membawa kritik sosial.
Dengan durasi 1 jam 46 menit, film ini langsung menyajikan ketegangan sejak awal.
Cerita kemudian berlanjut ke kehidupan para narapidana di Lapas Labuhan Angsana. Di tempat ini, para tahanan harus menghadapi berbagai masalah setiap hari, mulai dari penindasan oleh petugas hingga konflik antar sesama napi.
Ketegangan semakin meningkat saat seorang tahanan baru datang, diikuti oleh kejadian mengerikan, satu per satu napi meninggal dengan cara yang tidak masuk akal.
Baca juga: Sinopsis dan Pemain Lengkap Ghost in the Cell, Film Komedi Horor Joko Anwar 2026
Teror tersebut ternyata berkaitan dengan sosok hantu yang membunuh berdasarkan aura atau energi negatif seseorang.
Bertahan Hidup dengan Aura Positif
Mengetahui hal tersebut, para napi mulai berlomba-lomba berbuat baik agar tetap memiliki aura positif dan terhindar dari ancaman. Namun, kondisi penjara yang penuh ketidakadilan membuat hal ini menjadi sangat sulit dilakukan.
Tidak ada tempat untuk melarikan diri. Dalam kondisi terjepit, para tahanan akhirnya menyadari satu hal yang sebelumnya terasa mustahil, mereka harus bersatu.
Tidak hanya untuk melawan penindasan dari dalam penjara, tetapi menghadapi ancaman supranatural yang mengintai.
Kritik Sosial yang Tersirat
Menariknya, Ghost in the Cell terasa seperti sindiran terhadap sistem yang tidak adil.
Dalam press conference di Epicentrum XXI, Rabu (09/04/2026) Joko Anwar menyampaikan bahwa film ini berusaha untuk tidak terjebak dalam batasan tertentu, sehingga pesan yang disampaikan dapat lebih luas dan relevan.
Performa Aktor yang Memukau
Dari segi akting, film ini diperkuat oleh jajaran pemain berbakat seperti Abimana Aryasatya, Morgan Oey, Tora Sudiro, hingga Lukman Sardi.
Namun, salah satu yang paling mencuri perhatian adalah Aming lewat karakter Tokek. Sosoknya digambarkan dominan, beringas, dan liar.
Penampilan Aming berhasil meninggalkan kesan kuat di benak penonton, menjadikannya salah satu highlight dalam film ini.
Selain itu, film ini turut melibatkan aktor lain seperti Arswendy Bening Swara, Kiki Narendra, Mike Lucock, hingga Yoga Pratama yang turut memperkaya dinamika cerita.
Film ini akan tayang pada 16 April 2026. Dengan alur cerita yang kuat, pesan sosial yang relevan, serta akting para pemain yang solid, Ghost in the Cell layak menjadi salah satu film yang patut ditonton.
Secara keseluruhan, film ini tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi mengajak penonton untuk merenungkan realitas sosial yang terjadi di sekitar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung