INDOZONE.ID - Di balik setiap medali yang diraih atlet, ada perjalanan panjang yang jarang disaksikan publik. Proses latihan, keterbatasan fasilitas, hingga tekanan untuk terus berprestasi sering kali luput dari sorotan.
Realitas itulah yang diangkat dalam film dokumenter Dissidence, karya sutradara Rama Dio Syahputra, yang mengikuti perjalanan atlet kembar panjat tebing Indonesia, Raviandi dan Ravianto.
Film ini tak hanya menampilkan pencapaian mereka di arena kompetisi, tetapi juga perjuangan sehari-hari dalam mengejar mimpi di cabang olahraga yang masih berkembang di Indonesia.
Ketum Federasi Panjat Tebing Indonesia Yenny Wahid Beri Apresiasi
Pesan yang dibawa Dissidence rupanya berhasil menyentuh banyak pihak, termasuk Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), Yenny Wahid.
Menurut Yenny, film tersebut menunjukkan bagaimana olahraga dapat menjadi sarana bagi anak muda untuk berjuang, berkembang, dan membawa nama bangsa ke tingkat internasional.
"Lewat olahraga yang mereka cintai, mereka berjuang membawa nama Indonesia. Kisah mereka bisa jadi inspirasi untuk banyak anak muda lainnya," kata Yenny Wahid.
Baginya, kekuatan utama film ini bukan hanya terletak pada prestasi yang diraih Raviandi dan Ravianto, melainkan pada semangat pantang menyerah yang mereka tunjukkan selama bertahun-tahun.
Berbeda dengan speed climbing yang telah banyak menyumbangkan prestasi internasional bagi Indonesia, Raviandi dan Ravianto memilih fokus pada kategori lead climbing dan bouldering.
Lead climbing menguji daya tahan fisik, strategi, dan kemampuan membaca jalur pada dinding setinggi 12 hingga 15 meter. Sementara bouldering menuntut kreativitas serta kemampuan memecahkan masalah dalam rute pendek tanpa tali pengaman.
Menurut Yenny Wahid, kedua disiplin ini memiliki tingkat persaingan yang sangat ketat, terutama di kawasan Asia.
"Asia punya atlet lead dan boulder yang sangat kuat seperti Jepang, Korea, dan China. Tapi tantangan memang harus dihadapi," ujarnya.
Karena itu, perjalanan Raviandi dan Ravianto dinilai menjadi contoh bagaimana atlet Indonesia mulai berani menembus dominasi negara-negara yang lebih mapan dalam cabang tersebut.
Salah satu momen yang mendapat sorotan dalam film adalah keberhasilan Raviandi dan Ravianto tampil dan meraih kemenangan dalam kompetisi di Eropa.
Bagi Yenny, pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa atlet Indonesia memiliki kemampuan untuk bersaing di level tertinggi jika mendapat kesempatan dan dukungan yang memadai.
"Kami sangat bahagia waktu mereka menang di Eropa. Rasanya bangga sekali akhirnya ada atlet Indonesia yang bisa menembus level itu," kata Yenny.
Prestasi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa Indonesia tidak hanya berpotensi di nomor speed climbing, tetapi juga dalam disiplin lead climbing dan bouldering yang kini menjadi bagian penting dalam kompetisi internasional.
Pendaki gunung Indonesia, Francisca Dimitri Mendapat Makna Mendalam
Respons positif juga datang dari para penonton yang hadir dalam pemutaran perdana film tersebut.
Baca juga: 10 Dokumenter Sepak Bola Netflix Terbaik, Dari Legenda Hingga Underdog!
Pendaki gunung Indonesia, Francisca Dimitri, mengaku langsung tertarik menonton begitu film diumumkan. Menurutnya, kisah Raviandi dan Ravianto berbicara tentang sesuatu yang lebih universal daripada sekadar olahraga.
"Ini bukan cuma soal panjat tebing, tapi tentang perjuangan dan mimpi. Saya ikut terinspirasi," ujar Francisca.
Baginya, semangat yang ditampilkan kedua atlet dapat menjadi motivasi bagi siapa saja yang sedang berusaha mengejar tujuan hidupnya.
Membuka Mata tentang Outdoor Climbing Indonesia
Selain menampilkan dunia kompetisi, Dissidence juga memberikan ruang bagi perkembangan outdoor climbing yang semakin populer di Indonesia.
Penonton lainnya, Nikolas dan Dennis, menilai aspek tersebut menjadi salah satu kekuatan film karena memperlihatkan sisi panjat tebing yang jarang mendapat perhatian publik.
"Kami senang karena film ini juga membahas outdoor climbing. Sekarang komunitasnya makin banyak dan makin seru," ujar mereka.
Menurut keduanya, film ini dapat membantu memperkenalkan dunia panjat tebing kepada masyarakat yang selama ini hanya mengenal olahraga tersebut dari ajang kompetisi.
Pesan Dari Paman: Perjalanan Belum Selesai
Meski telah berhasil menembus panggung internasional, keluarga Raviandi dan Ravianto percaya bahwa perjalanan mereka masih panjang.
Hendrawan, paman keduanya yang juga seorang atlet panjat tebing, mengaku bangga melihat perkembangan yang telah dicapai. Namun ia menegaskan bahwa pencapaian saat ini hanyalah satu langkah dari perjalanan yang lebih besar.
"Langkah mereka belum selesai. Mudah-mudahan film ini bikin makin banyak orang support atlet-atlet panjat tebing Indonesia," katanya.
Harapan tersebut sejalan dengan pesan utama yang dibawa Dissidence: bahwa keberhasilan seorang atlet tidak pernah lahir secara instan, melainkan dibangun dari kerja keras, pengorbanan, dan dukungan banyak pihak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara