INDOZONE.ID – Industri perfilman Indonesia terus berkembang, tidak hanya dari sisi jumlah produksi dan penonton, tetapi juga dalam hal inovasi pendanaan. Kini, teknologi seperti blockchain dan kecerdasan buatan (AI) mulai dimanfaatkan untuk membuka akses pembiayaan yang lebih luas sekaligus memperkuat distribusi karya film ke pasar global.
Salah satu inisiatif tersebut diperkenalkan melalui SHOW Token, platform berbasis blockchain yang resmi diluncurkan di Jakarta beberapa waktu lalu. Kehadirannya menawarkan pendekatan baru dalam mendukung ekosistem perfilman, terutama bagi sineas yang selama ini masih menghadapi tantangan dalam memperoleh pendanaan.
CEO SHOW Token, Akshay Melwani, menilai Indonesia memiliki potensi besar di industri kreatif, namun masih membutuhkan infrastruktur yang mampu menghubungkan karya lokal dengan pasar internasional.
"Indonesia memiliki kekayaan narasi yang luar biasa, namun sering kali langkah kita terhenti di pasar domestik karena keterbatasan infrastruktur global. Di SHOW, kami tidak menunggu pintu global terbuka untuk kami; kami membangun ekosistem digital baru di mana karya anak bangsa dapat langsung diakses, dimiliki, dan diapresiasi oleh dunia tanpa perantara," ujar Akshay Melwani.
Baca juga: Rayakan Hari Film Nasional, Badan Perfilman Indonesia dan PB HMI Nobar Film 'Lafran'
Sebagai bentuk komitmen terhadap industri kreatif Asia Tenggara, platform tersebut menyiapkan investasi senilai 100 juta dolar AS yang akan disalurkan ke berbagai proyek perfilman.
Di Indonesia, kolaborasi telah dilakukan bersama sejumlah rumah produksi, seperti MVP Pictures dan A&Z Production, untuk mengembangkan berbagai judul film, di antaranya Sihir Tanah Kubur, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, Taboo, Siti Vampire, dan Sebelum Tiga Puluh. Film Cerita Lila juga menjadi salah satu proyek kolaborasi yang telah lebih dulu dirilis.
Menurut COO perusahaan, Joshua Khubani, investasi tersebut bukan semata mengejar pertumbuhan bisnis, tetapi juga membangun ekosistem yang lebih sehat bagi industri kreatif.
"Target investasi seratus juta dolar kami di Asia Tenggara bukan sekadar tentang angka pertumbuhan, melainkan tentang membangun arsitektur baru bagi ekonomi kreatif digital. Kami memandang Indonesia bukan sebagai pasar konsumtif, melainkan sebagai episentrum talenta yang selama ini kekurangan likuiditas dan sistem distribusi yang efisien. Kami hadir untuk menyelesaikan inefisiensi itu," kata Joshua Khubani.
Baca juga: LSF Dorong Klasifikasi Usia Film Berlaku Seragam di Semua Platform Media
Pemanfaatan teknologi dinilai dapat menghadirkan alternatif pendanaan yang lebih terbuka, meningkatkan transparansi dalam pengelolaan proyek, sekaligus memperluas peluang kolaborasi antara pelaku industri film dan investor.
Dengan semakin banyaknya inovasi seperti ini, industri perfilman Indonesia diharapkan mampu menghasilkan lebih banyak karya yang kompetitif dan memiliki daya saing di tingkat internasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: