Anggy Umbara Ungkap Tantangan Besar Garap Film Found Footage "402 Rumah Sakit Angker Korea", Syuting Pakai 28 Kamera
INDOZONE.ID - Film horor found footage *402 Rumah Sakit Angker Korea menghadirkan tantangan yang tak biasa bagi sutradara Anggy Umbara dan para pemainnya.
Berbeda dengan produksi film konvensional yang umumnya hanya menggunakan satu hingga dua kamera, proyek ini justru mengandalkan puluhan kamera sekaligus demi menghadirkan pengalaman horor yang terasa realistis.
Anggy mengungkapkan proses pascaproduksi menjadi salah satu tantangan terbesar yang pernah ia hadapi selama berkarier sebagai sutradara.
Baca juga: 'Weapons' Raih Rating Tinggi, Puncak Film Horror Tahun Ini?
Menurutnya, penggunaan 28 kamera membuat proses penyuntingan jauh lebih rumit dibandingkan film pada umumnya.
"Biasanya syuting cuma satu atau dua kamera. Ini 28 kamera. Meng-assemble hasil syutingnya sampai berhari-hari. Kalau biasanya empat sampai enam jam sudah selesai, ini bisa tiga hari penuh," ujar Anggy.
Ia menjelaskan, seluruh rekaman dari puluhan kamera harus disusun secara bersamaan di timeline penyuntingan. Kondisi tersebut membuat ruang editing dipenuhi puluhan monitor yang harus dipantau secara bersamaan.
Meski hasil akhirnya terlihat sederhana di layar, Anggy menilai proses di balik pembuatan film found footage jauh dari kata mudah.
"Kelihatannya gampang pas sudah jadi. Padahal prosesnya crazy. Ini salah satu technical editing yang paling sulit yang pernah saya lakukan. Membuat found footage itu tidak mudah," katanya.
Tak hanya dari sisi teknis, film ini juga berusaha menghadirkan nuansa Korea yang autentik. Hal tersebut menjadi perhatian khusus bagi kreator konten dan YouTuber Jang Hansol, yang turut bermain dalam film adaptasi 'Gonjiam Haunted Asylum' yang rilis 2018.
Hansol mengatakan sejak awal dirinya ingin memastikan seluruh elemen Korea dalam film terasa alami, bukan sekadar dibuat menyerupai Korea.
"Saya ingin aspek-aspek Korea di film ini benar-benar terasa Korea yang sebenarnya, bukan Korea yang dibuat-buat. Jadi kalau ditonton orang Korea pun mereka bisa merasa ini natural," ujarnya.
Selama proses syuting, Hansol juga kerap membantu kru dan pemain memahami berbagai kebiasaan masyarakat Korea, mulai dari budaya hingga kondisi sehari-hari agar adegan yang ditampilkan tetap masuk akal.
"Kalau ada yang bertanya soal kebiasaan di Korea atau kondisi di sana, saya bantu menjelaskan supaya semuanya terasa lebih autentik," katanya.
Sementara itu, pemeran utama *Arbani Yasiz* mengaku banyak berdiskusi dengan Hansol dan kreator konten lain untuk memahami karakter Juna, sosok yang berprofesi sebagai content creator dalam film tersebut.
Menurut Arbani, ia penasaran dengan motivasi para pemburu konten yang rela mengejar berbagai momen ekstrem demi mendapatkan tayangan menarik.
"Saya banyak tanya ke Hansol dan Kory soal dunia content creator. Seberapa penting views, kenapa harus mengejar konten sampai seperti itu. Dari situ saya mendapatkan motivasi karakter Juna," ujar Arbani.
Tak hanya itu, proses syuting juga menghadirkan tantangan tersendiri. Arbani mengungkapkan sebagian besar adegannya dilakukan sendirian di dalam tenda, sementara pemain lain menjalani adegan berbeda di lokasi lain.
Saat para pemain lain beradu akting menggunakan handy talky, Arbani hanya bisa memancing emosi dari balik monitor bersama Anggy Umbara. Sebaliknya, ketika tiba giliran dirinya menjalani adegan, pemain lain justru sedang tidak berada di lokasi.
Baca juga: Anggy Umbara Sutradarai Film Kromoleo: Hadirnya Nuansa Horor yang Berbeda!
"Jadi saya bolak-balik ke monitor untuk melihat reaksi mereka satu per satu, baru kemudian melakukan pengambilan gambar. Itu jadi salah satu challenge sekaligus keseruan baru di film ini," tuturnya.
Melalui kombinasi teknik found footage, penggunaan puluhan kamera, hingga perhatian terhadap detail budaya Korea, 402 Rumah Sakit Angker Korea berusaha menghadirkan pengalaman horor yang terasa lebih imersif sekaligus realistis bagi penonton.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Rilis, Marketeers, Indo Premier