Synchronize Festival 2025. (INDOZONE/Nadya Mayangsari)
INDOZONE.ID - Selama 10 tahun terakhir, Synchronize Festival telah berkembang melampaui identitasnya sebagai festival musik biasa. Ia menjadi simbol kebangkitan dan pusat energi bagi mereka yang meyakini musik memiliki kekuatan lebih dari sekadar suara.
Setiap panggung yang dihadirkan Synchronize Festival didasari oleh semangat untuk memicu ekosistem musik, mendorong batas kreativitas, dan mengajak para pelaku musik untuk keluar dari zona nyaman mereka.
Lebih dari 700.000 penonton hadir dan mengalami musik yang hidup dan bertumbuh, 30.000 lebih pekerja telah bahu-membahu mewujudkan sebuah festival yang sehat, berdaya, dan berpihak pada musik itu sendiri.
Sebanyak 10.000 lebih publikasi media ikut mengarsipkan spirit ini, dan lebih dari 5.000 musisi telah beresonansi di sini.
Baca juga: Synchronize Fest 2025 Umumkan Lineup Artis, Ada Guruh Gipsy hingga Haddad Alwi
Selama satu dekade, Synchronize Festival telah menjadi wadah yang melibatkan ratusan sponsor dan berbagai pihak, mewujudkan visi besar untuk musik Indonesia. Perayaan ini merupakan manifestasi dari upaya kolektif menuju cita-cita agar musik lokal menjadi kekuatan dominan di tanah air.
Mengusung tema "Saling-Silang", sebagai penanda bahwa Synchronize Festival lahir dari simbol sederhana angka romawi untuk sepuluh, “X”, dan kemudian dimaknai sebagai tanda pertemuan lintas zaman, lintas genre, lintas energi.
Kolaborasi tersebut terwujud melalui kerja sama dengan ruangrupa, sebuah kolektif seni kontemporer. Demajors, yang merupakan inisiator Synchronize Festival, dan ruangrupa sama-sama berusia 25 tahun pada 2025. Hasil kerja sama antara kedua entitas yang berlandaskan inklusivitas seni ini dapat disaksikan di Hall D2 JIEXPO.
Di area itu, ruangrupa dan demajors tidak sekadar memajang karya, melainkan membuka portal di mana musik dan seni rupa bertabrakan jadi kosmos baru.
Perupa yang terlibat dalam pameran ini antara lain ruangrupa (Jakarta), Serrum (Jakarta), Grafis Huru Hara (Jakarta), Forum Sudut Pandang (Palu), Gelanggang Olah Rasa (Bandung), Hysteria (Semarang), Komunitas Gubuak Kopi (Solok), Komunitas KAHE (Maumere), Rumah Budaya Sikukeluang (Pekanbaru), Serbuk Kayu (Surabaya), SIKU Ruang Terpadu (Makassar), Sinau Art (Cirebon), TrotoArt (Jakarta), Susur Galur (Pontianak), Tepian Kolektif (Berau), Taring Padi (Yogyakarta), Jatiwangi Art Factory (Majalengka), Tudgam (Kuningan), Girls Pay The Bills (Jakarta), Katakerja (Makassar), Prewangan (Tuban), Kanotbu (Banda Aceh), Cut and Rescue (Jakarta), STUFFO & GudRnD (Jakarta), Riwanua (Makassar), Simpasio (Larantuka), Pasirputih (Lombok), Indonesia Art Movement (Jayapura), Makmur Djaja (Jakarta), dan masih banyak lagi.
"Dalam tubuh Synchronize, ‘Saling-Silang' bukan jargon, melainkan praktik yang hidup,” ujar David Karto, Director of Festival Synchronize Fest.
"Demajors dan ruangrupa tumbuh bersama selama 25 tahun. Bidangnya berbeda, tapi orang-orangnya tidak jauh beda. Di dalam pergerakannya, ruangrupa banyak berkolaborasi dengan Synchronize membawa semangat kebersamaan. Dan rasanya pada usia 10 tahun Synchronize, 25 tahun demajors dan ruangrupa, sepertinya tepat jika kami merayakan bersama,” ujar Ade Darmawan, inisiator ruangrupa.
Synchronize Festival 2025. (INDOZONE/Nadya Mayangsari)
Menciptakan line-up penampil yang beragam setiap tahun merupakan tantangan unik bagi Synchronize Festival. Dengan komitmen untuk menjadi platform inklusif bagi seluruh komunitas musik di Indonesia, festival ini tidak bergantung pada algoritma popularitas sebagai patokan utama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung