Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 16 APRIL 2026 • 16:35 WIB

Lewat RAUN, Rully Irawan Rilis Karya Personal Berjudul Markisa: Tentang Ayah, Rumah, dan Bahasa Cinta

 Lewat RAUN, Rully Irawan Rilis Karya Personal Berjudul Markisa: Tentang Ayah, Rumah, dan Bahasa CintaRully Irawan dengan proyek RAUN (Handout)

INDOZONE.ID - Perjalanan hidup membawa Rully Irawan pada sebuah fase yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: menjadi seorang ayah sekaligus perantau yang harus membangun makna “rumah” dari nol di benua Eropa. Melalui karya terbarunya bertajuk Markisa, ia merangkai pengalaman personal menjadi sebuah refleksi tentang keluarga, bahasa cinta, dan proses memahami satu sama lain. 

Karya ini lahir dari perjalanan panjangnya sejak tertahan di Belanda saat pandemi hingga akhirnya menetap di Copenhagen, Denmark, seperti yang dikutip dari keteranagn resminya.

Transformasi besar terjadi ketika ia beralih dari individu yang bebas berekspresi menjadi seorang ayah dengan tanggung jawab penuh. Tanpa kehadiran keluarga besar sebagai support system, Rully menjalani peran sebagai stay-at-home dad, sambil mempelajari bahasa dan menata ulang arah hidupnya. 

Rutinitas baru ini perlahan menjauhkannya dari musik—medium yang sebelumnya menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Hampir lima tahun tanpa menyentuh alat musik, hingga suatu hari momen sederhana di rumah menjadi titik balik. Saat ia kembali memetik gitar, putrinya, Flora, sempat merasa terganggu. 

Baca juga: Fakta Unik “Bulan Bintang, Garis Melintang”: Single Kolaborasi Wijaya 80 dan Sal Priadi

Seiring waktu, bunyi gitar itu justru menjadi jembatan komunikasi baru di antara keduanya. Dari situlah muncul dorongan untuk menciptakan karya yang bisa menjadi “bahasa” antara ayah dan anak—terutama untuk perasaan yang belum mampu diungkapkan dengan kata-kata.

Lewat RAUN, Rully Irawan Rilis Karya Personal Berjudul Markisa: Tentang Ayah, Rumah, dan Bahasa CintaArtcover RAUN dengan single Markisa (Handout)

Lagu Markisa pun lahir sebagai refleksi dari proses tersebut. Salah satu liriknya, “Saat nanti kau bisa berbahasa”, menggambarkan harapan akan masa depan ketika komunikasi tidak lagi terbatas oleh usia atau pemahaman. Lagu ini bukan sekadar karya musik, melainkan ruang dialog emosional antara seorang bapak dan anaknya.

Dalam proses kreatifnya, Rully juga memperkenalkan konsep RAUN. Di Copenhagen, kata ini ia temukan sebagai nama seseorang, sementara di kampung halamannya di Riau, RAUN merupakan adaptasi dari frasa “to go around” yang berarti berjalan atau berkeliling. 

Bagi Rully, RAUN menjadi simbol perjalanan—baik secara fisik maupun batin—dalam mencari makna rumah, identitas, dan ketenangan.

Pendekatan musiknya pun mencerminkan filosofi tersebut: sederhana, jujur, dan apa adanya. Ia memilih menggunakan instrumen yang tersedia, bermain gitar atau bass sambil bernyanyi tanpa mencoba menjadi siapa pun selain dirinya sendiri. 

Baca juga: Bangkit dari Fenomena EGP, Sundanis Tunjukkan Evolusi Musik di Single Bad Mood

Inspirasi dalam lagu ini juga datang dari hal-hal kecil, seperti buah kesukaan sang anak—markisa—yang kemudian menjadi metafora dalam liriknya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Press Release

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Lewat RAUN, Rully Irawan Rilis Karya Personal Berjudul Markisa: Tentang Ayah, Rumah, dan Bahasa Cinta

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!