Tahun 2000-an ke atas, tanah air diriuhkan dengan kehadiran musik dari genre rock. Namun tak hanya dari genre musik ini yang banyak disukai orang. Di sisi lain, seiring dengan berjalannya waktu kelompok musik yang berasal dari panggung bawah tanah juga memiliki ruang gerak yang cukup leluasa.
Terlebih bila musik yang kerap tayang di layar televisi kian membosankan. Hal ini berdampak pada munculnya band-band dari genre melayu dan sering tampil di layar kaca pada paruh kedua dekade 2000.
Dilansir dari ANTARA, dalam "100 Tahun Musik Indonesia", Denny Sakrie menulis acara-acara musik TV yang terlampau banyak dan menampilkan band-band pop (rasa) Melayu. Namun tak jarang, band-band ini mendapat cemooh karena kualitas musik yang rendah dan lirik yang hanya berkutat pada permasalahan selingkuh saja.
"Pada saat itulah, muncul counter yang bertolak belakang. Ada suatu yang baru dengan cepat memikat titik perhatian," tulis Denny dalam bukunya. Dalam hal ini Denny mengatakan bahwa counter adalah musik indie.
"Gerakan indie label yang semula seperti mengenyam dunia sendiri, secara perlahan mulai dilirik. Mereka mulai menempati relung-relung penyimak musik Indonesia," tulis Denny lagi.
Di sisi lain, pelaku skena musik indie, Eka Annash mengatakan bahwa embrio musik indie sudah terasa di era 2000-an awal. Periode ini adalah perpanjangan dari skena yang sudah dimulai sejak dekade 1990-an.
Eka adalah vokalis dari band rock n roll The Brandals yang berdiri di era 2000-an. Namun sebelum itu, di era 90-an, Eka lebih diketahui sebagai vokalis Waiting Room.
Namun keterlibatannya di kancah musik independen Jakarta sempat terputus seiring kepergiannya ke Australia untuk sekolah. Barulah sejak pulang dari Australia, Eka sempat diajak beberapa kawannya untuk menghadiri perhelatan musik independen di Jakarta. Padahal awalnya ia mengira bahwa musik tersebut sudah tak ada lagi.
Saat Eka menghadiri sebuah perhelatan musik di Institut Kesenian Jakarta, ia menonton band The Upstairs yang kemudian membuatnya berkenalan dengan dengan vokalisnya, Jimmi Multazam.
"Dari situ gua merasa kalau band-band begini masih ada. Panas gua langsung, pengen punya band lagi. Pas gua pulang, adik gua almarhum lagi bikin band sama teman-temannya, gua denger keren juga. Diajak lah gabung," ujarnya.
"Jadi bisa dibilang era 2000-an ini renaissance-nya musik independen di Jakarta," lanjut Eka.
Eka sendiri tak mengetahui secara pasti apa penyebab band independen bisa mendapat sorotan. Namun ia menduga bila di era itu industri musik sempat mengalami stagnansi yang membuat gerakan bawah tanah jadi pilihan.
Tak berselang lama, band ini kemudian menguatkan eksistensinya dengan melakukan rekaman yang dirilis lewat label independen seperti Aksara (Jakarta) atau FFWD (Bandung). Rekaman ini akhirnya membuat band tersebut semakin dikukuhkan di industri Pesta Seni di sekolah-sekolah menengah atas terutama Jakarta dan Bandung. Beberapa band yang muncul selain The Brandals dan The Upstairs di antaranya Seringai, Teenage Deathstar, The S.I.G.I.T, dan lain-lain.
"Musiknya juga variatif, tidak ada satu corak tertentu. Di pensi line up-nya diambil dari band-band ini. Banyak yang jadi "Raja Pensi", lama-lama sudah terbentuk industrinya, konsumennya, sehingga permintaan sudah mulai ada," ucapnya.
Eka menambahkan jika sebenarnya sebelum era ini, pensi sudah sering terjadi. Namun di dekade 1990-an, pensi hanya terbatas pada sekolah-sekolah yang dikenal elit.
Barulah di dekade 2000-an, pensi bisa digelar oleh sekolah mana saja. Hal ini seiring dengan zaman yang lebih fleksibel baik dari pengadaan logistik dan banyaknya band yang punya kualitas bagus namun dengan tarif yang lebih murah ketimbang band-band yang main di pensi 90-an.
"Kalau di pensi 90-an itu kan yang datang misalnya Java Jive, Dewa, Kahitna, GIGI yang mahal. Bawa ke sponsor pun enggak nutup. Di era 2000-an lebih budget friendly," lanjut Eka.
Bahkan dekade ini disebut Eka sebagai era musik independen mendapat kue yang besar dari industri musik Indonesia saat itu. Melihat fenomena ini, Penulis Bandung Pop Darling Irfan Muhammad mengatakan bahwa dukungan media cukup masif untuk kemunculan dan keterkenalan band-band ini.
Misalnya saja, program MTV Indonesia yang memutarkan video klip dari band-band tersebut. Begitu juga dengan media alternatif yang punya pengaruh besar seperti Ripple Magazine di Bandung, atau HAI yang mencakup skala nasional.
"Soundtrack juga. Misalnya ada "Janji Joni" (2005), "Catatan Akhir Sekolah" (2005) yang cukup laku di pasaran dan lagu latarnya diisi oleh band-band ini," ucap Irfan.
Di sisi lain, pengamat dan penulis musik, Idhar Resmadi mengatakan bahwa saat itu media informasi seperti cetak, TV, dan radio memang sedang berada di puncak kejayaan. Hal ini berimbas pada band-band indie yang tengah berkembang hingga mendapatkan jatah untuk tampil di media tersebut.
Di fase ini juga, band indie mulai muncul dengan menghadirkan banyak cerita, seperti tentang keseharian atau diri sendiri yang kemudian dimanifestasikan dalam bentuk menikmati musik yang lebih lepas.
"Beda dengan 1990-an Pure Saturday dengan "Utopia" (1999) juga ada unsur politiknya, pengaruh lingkungan. Memasuki 2000-an pasca-reformasi kan euforia kita lepas, ke budaya barat tinggi, liberal, itu kelihatan banget, dari musik, budaya, parti bebas," ucap Idhar.
Idhar mengatakan ada pengaruh yang cukup beragam pada musik indie, seperti halnya pengaruh dari musik era 1970-an yang banyak diadaptasi oleh generasi rock di dekade 2000.
"Makanya ada istilah era revivalist. Mulai kelihatan di scene lokal, misalnya kayak The S.I.G.I.T, Teenage Death Star, The Adams, mereka mengkomposisi musik-musik lama jadi kekinian," tutur Idhar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: