The Strokes. (Instagram/@thestrokes)
Festival musik We The Fest (WTF) 2023 secara resmi mengumumkan line-up fase pertama pada pertengahan Februari lalu untuk gelaran yang dihelat pada 21-23 Juli mendatang.
Salah satu band yang paling ditunggu adalah unit garage rock asal Manhattan, New York, yaitu The Strokes.
Baca Juga: Kasus Jennifer Levin yang Terbunuh Saat Berhubungan Intim, Jadi Inspirasi Lagu The Killers
Band yang beranggotakan Julian Casablancas (vokal), Albert Hammond Jr. (gitar), Nick Valensi (gitar), Nikolai Fraiture (bass), dan Fabrizio Moretti (drums) itu memang masyhur sebagai salah satu penggawa kebangkitan subgenre indie rock awal milenium 2000.
Tak heran ketika WTF 2023 meluncurkan nama The Strokes yang untuk kali pertama menginjakkan kaki di Indonesia, maka generasi penikmat musik yang besar dan tumbuh pada awal kemunculan kuintet New York itu bergembira.
Awal mula terbentuknya The Strokes bermula dari ertemanan vokalis Julian Casablancas dan bassist Nikolai saat berada di sekolah Lycée Français de New York pada usia enam tahun.
Julian dan Nikolai baru benar-benar saling mengenal ketika keduanya berada di kelas lima sekolah dasar.
Julian lalu melanjutkan pendidikannya di Manhattan's Dwight School dan bertemu dengan gitaris Nick Valensi dan drummer Fabrizio Moretti. Bersama bassist Nikolai, keempatnya rutin berlatih musik sepulang sekolah di rumah sang penabuh drum.
Belakangan, Julian baru bertemu dengan gitaris Albert Hammond Jr. saat keduanya menjadi anak sekolah rumahan La Rosee di Swiss.
Setelah lulus, Albert memutuskan hijrah ke Kota New York dan berniat melanjutkan pendidikan di New York University, tetapi hal itu tinggal niat. Sejarah mencatat Albert memutuskan total terjun di musik bersama The Strokes.
Nama The Strokes sendiri muncul dari mulut sang vokalis yang tercetus pada akhir tahun 1998. Saat masa awal anggota band berkumpul, mereka kerap membuat lelucon pencarian nama band.
"Kami membuat semacam sayembara yang mewajibkan setiap orang mengajukan sebuah nama setiap kali berkumpul. Beberapa nama terdengar amat buruk hingga suatu hari Julian mencetuskan nama The Strokes dan tidak ada satupun dari kami yang menolaknya," kata bassist Nikolai Fraiture.
The Strokes lantas menjadi salah satu penanda era kembalinya imperium skena garage rock sepanjang Amerika dan Eropa yang sebelumnya pernah masyhur pada pertengahan tahun 60-an.
Bukan hanya The Strokes saja guys! Tiga nama lain yang dianggap penyelamat garage rock gelombang pertama adalah band kebanggaan Swedia The Hives, lalu The Vines dari Sydney (Australia), dan terakhir pasutri Jack White dan Meg White di The White Stripes.
Sebagai salah satu pionir gelombang pertama, The Strokes langsung mendobrak pasar lewat single perdana "The Modern Age" tahun 2001.
Keberuntungan berpihak pada label RCA milik Sony Music Entertainment yang beroleh tanda tangan Julian dan kawan-kawan.
Hal ini menjadi momentum penting menandai langkah terang The Strokes dalam industri hiburan yang kemudian melepas album perdana bertajuk "Is This It".
Album yang rilis pada 30 Juli 2001 di Australia tersebut diproduseri oleh Gordon Raphael yang nantinya kembali bekerja sama dengan The Strokes untuk album kedua.
Materi yang ada di "Is This It" kemudian sukses beroleh multi platinum lewat hits seperti “Last Nite,” “Someday,” dan “Is This It.”
Berbagai pujian dan penghargaan mengiringi kesuksesan album perdana syarikat New York tersebut. Bahkan, majalah Rolling Stone menempatkan "Is This It" pada posisi kedua setelah album "Kid A"-nya Radiohead pada 2002.
Sedangkan media kiblat penggemar musik lainnya NME, mengganjar album tersebut sebagai "Album of the Decade" pada 2009.
Pasca-album "Is This It", The Strokes melanjutkan petualangan mereka lewat album kedua "Room on Fire" yang dipublikasikan pada 2003.
Album ini menghadirkan beberapa hits di antaranya "Reptilia" yang penuh tenaga, "Meet Me in The Bathroom" dengan nuansa ceria, "The End Has No End" mengedepankan lead gitar bersahutan khas band Television, dan "12:51" yang merupakan single pertama di album tersebut.
Berbeda dengan album sebelumnya yang secara umum cenderung light, "Room on Fire" sepertinya sengaja menjadi karya eksperimental The Strokes terutama dari sektor pasca-produksi.
Sisi mixing dan mastering di album ini terdengar lebih menonjolkan departemen suara gitar Nick dan Albert ketimbang vokal Julian. Uniknya lagi, versi kaset album ini malah menampilkan nama Albert di atas foto yang seharusnya bertuliskan nama Nick Valensi!
Salah satu lagu di album ini, “Meet Me In The Bathroom”, kemudian dipakai sebagai judul film dokumenter terinspirasi dari buku karya Lizzie Goodman.
Karya tersebut menggambarkan skena awal munculnya band-band indie kota New York seperti The Strokes,Yeah Yeah Yeahs, Interpol, LCD Soundsystem dan banyak lainnya.
Lima sekawan The Strokes lantas merilis album ketiga berjudul "First Impressions of Earth" pada 30 Desember 2005.
Meski berbekal sejumlah nomor berkarakter lebih garang dan departemen suara yang lebih matang seperti "You Only Live Once", "Juicebox", "Ize of The World", dan "Red Light", toh album ini meraih hasil jeblok alias tak sepopuler dua album pendahulunya.
The Strokes lalu secara resmi mengumumkan vakum dari belantika musik, usai menggelar tur Amerika.
Lewat sang manajer Ryan Gentles, mereka mengirimkan surat elektronik kepada seluruh penggemar yang menyatakan bahwa band sangat membutuhkan waktu untuk rehat.
Salah satu alasan mengapa The Strokes memutuskan vakum adalah karena isu ketergantungan personel pada obat-obatan dan alkohol.
Apalagi belakangan gitaris Albert Hammond Jr. pun mengakui bahwa ia telah menjalani rehabilitasi akibat penyalahgunaan obat-obatan.
Begitu pula Julian yang mengaku terlalu banyak mengonsumsi alkohol pada proses pembuatan dua album awal.
Proses 'tidur panjang' itu dimanfaatkan seluruh personel The Strokes memiliki waktu untuk mengerjakan proyek musik idealis mereka.
Contohnya adalah Albert yang mencoba beralih ke departemen vokal mengerjakan proyek album solo debutnya "Yours to Keep" tahun 2006 bersama musisi tamu Sean Lennon yang tak lain adalah putra mendiang pentolan The Beatles, John Lennon.
Albert juga mengajak Julian Casablancas untuk bermain bass dan mengisi bagian vokal latar di lagu "Scared". Ia pun sempat memperkuat band rock asal California, Incubus, saat menggelar tur Amerika Utara untuk album "Light Grenades".
Selain Albert, pada era hiatus itu pula untuk kali pertama Julian merilis debut proyek solo lewat album "Phrazes for the Young" yang sangat kental dengan nuansa synthesizer analog era new wave elektronika '80-an.
Lagu "Out of The Blue" menjadi salah satu andalan Julian yang kemudian membentuk sendiri band live-nya bernama The Sick Six dengan salah satu personel gitaris The HAIM, Danielle Sari Haim yang bermain perkusi.
Disisi lain, Nikolai Fraiture membuat band Nickel Eye yang merilis album "The Time of the Assassins" (2009) dengan garis besar musik yang terinspirasi dari penyanyi folk Neil Young, band alternative surf rock The Pixies dan unit rock asal Inggris, The Kinks.
Sedangkan drummer Fab Moretti sempat bergabung dengan band rock Brazil/Amerika Little Joy pada 2007 dan Megapuss yang merilis debut album "Surfing" tahun 2008. Di dua proyek musikal itu Fab juga mengajak serta rekan gitarisnya di The Strokes, Nick Valensi.
Meski punya proyek solo, para personel The Strokes tetap solid dan berupaya membesarkan kembali band. Pada 31 Maret 2009 lewat akun MySpace, band mengumumkan bahwa masa hibernasi mereka telah berakhir.
Vokalis Julian Casablancas dan gitaris Nick Valensi mulai menulis material baru untuk album keempat yang kelak diberi nama "Angles".
Setelah penantian selama enam tahun sejak resmi hibernasi pada 2005, anak-anak New York itu kembali menyapa penggemar lewat single "Under Cover of Darkness" pada 9 Februari 2011 disusul single kedua "Taken for a Fool" yang menjadi penanda kembalinya band ke jalur yang ‘benar’.
Album "Angels" khirnya hadir untuk publik pada 18 Maret 2011 masih di bawah bendera RCA Records.
Uniknya, baru di album inilah semua personel The Strokes ambil bagian dalam penulisan lirik lagu dan tak lagi mengandalkan sosok Julian Casablancas yang selama ini berada di balik sembilan puluh lima persen lagu-lagu The Strokes.
Dari sebanyak sepuluh track, hanya lagu "Two Kind of Happiness" dan "Life is Simple in The Moonlight" yang ditulis Julian seorang diri. Sisanya adalah lagu-lagu yang dibuat oleh beberapa personel The Strokes secara kolaborasi.
The Strokes kemudian merilis album penuh kelima mereka dua tahun berselang dari "Angles" yang berjudul "Comedown Machine" pada 26 Maret 2013.
Proses produksi di album ini masih menerapkan pendekatan yang sama dengan dengan album sebelumnya yaitu semua personel mesti membawa ide dan terlibat dalam penulisan lagu.
Album "Comedown Machine" kemudian beroleh hasil positif dari para kritikus dan bertengger di posisi ke-41 dalam daftar "50 Best Albums of 2013" versi NME. Beberapa track jagoan dari album ini di antaranya "One Way Trigger", "All The Time", dan "Partners in Crime".
Pada masa itu pula vokalis Julian Casablancas kembali bermain ‘di luar’ lingkaran The Strokes dengan membentuk grup rock eksperimental bernama Julian Casablancas+The Voidz yang belakangan berubah menjadi The Voidz.
Sepanjang kariernya bersama band ini, Julian menelurkan dua album studio yaitu "Tyranny" (2014) dan "Virtue" (2018).
Tak hanya itu, Julian juga kerap berkolaborasi dengan sejumlah musisi. Salah satunya dengan duo musisi elektronik asal Perancis, Daft Punk, menghasilkan single "Instant Crush" yang nangkring di posisi ke-58 dalam daftar "100 Best Songs of 2013" versi Rolling Stone.
Sejauh-jauhnya Julian ‘pergi’ dari The Strokes, ia selalu ingat untuk kembali. Apalagi dinamika kebersamaan di band selama lebih dari dua dekade membuat Julian dan rekannya tidak terlalu memaksakan kehendak dalam berkarya.
Baca Juga: Kisah Lewis Capaldi, Penyanyi yang Idap Sindrom Tourette, Sering Kambuh saat di Panggung
Kini, The Strokes tengah menjalani serangkaian tur dunia hingga September 2023. Bulan April hingga Mei ini mereka akan menjelajahi Amerika Serikat Bersama super grup Red Hot Chili Peppers, sebelum terbang ke Kuala Lumpur dan Jakarta pada akhir Juli mendatang.
Setelah itu, band yang menjadi ikon musik kota New York itu akan menyambangi Fuji Rock Festival Jepang dan menyelesaikan tur Eropa sepanjang Agustus hingga September.
Artikel Menarik Lainnya:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: