INDOZONE.ID - Upaya pelestarian lagu-lagu kebangsaan kembali mendapat sorotan setelah musisi Dul Jaelani tampil sebagai ikon Festival Nyanyian Anak Negeri (FNAN) di Jakarta.
Di tengah derasnya budaya asing yang mudah memengaruhi generasi muda, Dul menilai penting adanya ruang yang mendorong masyarakat kembali mencintai identitas musikal Indonesia.
Kehadiran FNAN menjadi wadah strategis untuk menghidupkan kembali kebanggaan terhadap lagu-lagu nasional.
Sebagai musisi muda, Dul Jaelani membawa visi besar dalam mengembalikan rasa cinta generasi milenial dan gen Z terhadap karya-karya nasional yang sarat sejarah.
Baginya, lagu-lagu kebangsaan bukan sekadar karya lama, melainkan fondasi karakter bangsa.
FNAN yang digagas politisi Ahmad Doli Kurnia kemudian menjadi panggung yang tepat untuk mewujudkan misi tersebut.
Penunjukan Dul Jaelani sebagai ikon FNAN bukan tanpa alasan.
Putra Ahmad Dhani dan Maia Estianty ini dianggap mampu menjadi jembatan antara musik Indonesia yang bersejarah dengan telinga anak muda masa kini.
FNAN sendiri dirancang bukan sekadar perlombaan vokal, melainkan ruang pembinaan untuk menciptakan talenta yang kuat secara musikal maupun wawasan kebangsaan.
Dalam pandangan Dul, kehadiran FNAN menjadi momentum penting untuk membangkitkan kembali kesadaran generasi muda terhadap kekayaan budaya Nusantara.
Ia menilai festival semacam ini sangat berperan dalam memperkuat identitas bangsa yang mulai terkikis oleh arus globalisasi.
Baca juga: David Coverdale Whitesnake Umumkan Pensiun dari Dunia Musik di Usia 74 Tahun
"FNAN ini penting banget menurut saya. Karena ada anak muda yang lupa sama betapa hebatnya Nusantara Indonesia gitu ya," kata Dul Jaelani.
Dul mengakui bahwa banyak pihak sebelumnya telah berupaya menyadarkan generasi muda tentang pentingnya mencintai lagu-lagu kebangsaan.
Ia menilai kekayaan budaya Indonesia seharusnya kembali diangkat dan dibanggakan.
"Hal yang kaya raya dan patut dilestarikan oleh kita semua," tegasnya.
Sebagai duta anak negeri, Dul merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi figur yang bisa memberikan contoh baik.
Baca juga: Adele Siap Debut di Layar Lebar, Benarkah Mulai Beralih Profesi?
Ia menggambarkan perannya dengan analogi sederhana agar mudah dipahami publik.
"Saya jadi ikon atau duta tugasnya harus memberi contoh yang baik gitu. Ibarat, masa duta skincare jerawatan kan enggak bagus," ucapnya.
Tantangan yang dihadapi Dul terbilang besar, terutama ketika budaya populer dari Barat semakin masif dikonsumsi kalangan muda.
Namun, ia menegaskan bahwa generasi Indonesia tidak boleh kehilangan akar budayanya.
"Dari dulu juga memang banyak banget westernisasi terjadi. Cuma tugas kita sebagai orang Indonesia adalah tidak lupa dengan budaya sendiri. Jangan sampai kita terlena sama budaya luar," jelasnya.
Untuk memperluas jangkauan pesannya, Dul juga memanfaatkan media sosial sebagai sarana utama mengkampanyekan kecintaan terhadap lagu kebangsaan.
Baca juga: Kontestan Miss World Chile Bikin Geger! Tampil dengan Bakat 'Death Metal' di Panggung Semifinal
Selain itu, ia turut aktif hadir dalam proses FNAN untuk memberikan dukungan langsung kepada para peserta.
"Jadi, kalau bukan kita-kita semua yang sadar bahwa budaya kita itu patut dibanggakan, siapa lagi yang akan membanggakan soal ee nilai-nilai budaya Indonesia dalam seni musik," terangnya.
Keberadaan FNAN membangkitkan optimisme Dul terhadap peluang lagu-lagu kebangsaan untuk kembali digemari masyarakat.
Ia percaya perubahan bisa terjadi secara bertahap asalkan memiliki medium yang tepat.
"Mungkin, mungkin. Sangat mungkin disukai lagi, tapi pelan-pelan," ujar Dul.
Gelaran FNAN tahun ini mencatat partisipasi besar, yaitu 432 peserta dari berbagai daerah.
Jumlah tersebut kemudian disaring menjadi 10 finalis yang tampil di hadapan empat juri, yakni Pay Burman, Rian D’MASIV, Neno Warisman, dan Vicky Sianipar.
Baca juga: Padi Reborn Rayakan 28 Tahun Perjalanan Musik dengan Rilis Lagu ‘Ego’ dan Sentuhan Orkestra Megah
Pada akhirnya, tiga peserta terpilih menjadi juara berdasarkan kemampuan membawakan lagu-lagu kebangsaan.
Penggagas FNAN, Ahmad Doli Kurnia, menegaskan bahwa festival ini hadir untuk mengisi kekosongan ajang musik yang berfokus pada pelestarian lagu nasional.
Menurutnya, dunia hiburan Indonesia dipenuhi kompetisi bakat, tetapi sangat sedikit yang mengangkat tema kebangsaan.
"Ya, ini bagian dari gerakan kita tentang bagaimana terus-menerus menjaga dan melestarikan nilai-nilai ke-Indonesiaan, tentu kali ini melalui jalur musik," tutup Ahmad Doli Kurnia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan