INDOZONE.ID - Musik Qawwali berasal dari tradisi Sufi yang masuk ke anak benua India pada abad ke-11 melalui tarekat Chishtiya, Qadiriya, Suhrawardiya, dan Naqshbandiya dari Persia. Amir Khusrau (1253–1325), murid Hazrat Nizamuddin Auliya dari Kesultanan Delhi, dianggap sebagai tokoh utama pembentuk Qawwali kontemporer. Ia memadukan puisi Persia, raga Hindustani, serta unsur lokal seperti harmonium dan tabla, sekaligus menyampaikan nilai-nilai Islam universal, terutama tentang cinta ilahi.
Sementara itu, Dhrupad merupakan bentuk musik klasik India tertua yang masih bertahan hingga kini. Akar Dhrupad dapat ditelusuri hingga nyanyian Veda dan Gandharva Veda, yang kemudian berevolusi melalui Samgana, Chhanda, dan Prabandha sejak era Weda. Pada abad ke-15 seiring berkembangnya gerakan Bhakti seperti Vallabh dan Nimbarka Sampradaya Dhrupad muncul dalam bentuk kontemporer sebagai musik devosional kuil, dikenal sebagai Haveli Sangeet. Musik ini dipromosikan oleh Raja Man Singh Tomar dari Gwalior (1486–1516) serta Swami Haridas, sebelum akhirnya berkembang di lingkungan istana Mughal melalui peran Tansen.
Kedua tradisi musik klasik ini berkembang secara bersamaan di India Utara antara abad ke-13 hingga abad ke-16. Qawwali lebih menonjolkan mistisisme Sufi perkotaan dengan ritme yang dinamis dan bertujuan membawa pendengarnya pada ekstasi spiritual. Sebaliknya, Dhrupad berakar pada devosi Bhakti kerajaan dengan karakter yang lebih meditatif, tenang, dan improvisatif.
Baca juga: Sejarah Musik Pop di Dunia, Musik dengan Komposisi Berbagai Genre hingga Keroncong
Sejarah Perkembangan
Qawwali berkembang di lingkungan Kesultanan Delhi pada abad ke-13 melalui pengaruh tradisi Sufi Persia, dengan Amir Khusrau sebagai tokoh sentral. Ia memadukan raga Hindustani dengan puisi Persia-Urdu untuk mencapai pengalaman spiritual di dargah tarekat Chishtiya. Pada masa Kekaisaran Mughal (abad ke-16 hingga ke-18), Qawwali tumbuh menjadi musik devosional urban yang populer di wilayah Punjab, Sindh, dan Bengal. Perkembangannya berlanjut hingga era modern, terutama pada 1980-an, ketika Nusrat Fateh Ali Khan membawa Qawwali ke panggung dunia sebagai bagian dari musik fusion dan world music.
Di sisi lain, Dhrupad berkembang dari tradisi nyanyian Veda yang mengalami pembentukan ulang pada abad ke-15 dan ke-16. Musik ini dipromosikan sebagai bentuk klasik istana oleh Raja Man Singh Tomar di Gwalior. Pada masa Kaisar Akbar, Tansen memperkaya Dhrupad dengan pengembangan alaap yang bersifat meditatif dan menciptakan sejumlah raga baru. Meski sempat mengalami penurunan popularitas pada abad ke-18 dan ke-19 akibat munculnya Khayal yang lebih ekspresif, Dhrupad tetap lestari melalui sistem gharana dan institusi musik pasca-kemerdekaan India. Hingga kini, Dhrupad masih dipentaskan di festival-festival prestisius seperti Darbar Festival dan lembaga penelitian ITC Sangeet Research Academy.
Penampilan Musik
Pada era Mughal, Qawwali dipentaskan dalam mehfil-e-sama’ di dargah Chishtiya seperti Nizamuddin Auliya di Delhi dan Ajmer Sharif. Para qawwal, yang sebagian berasal dari garis keturunan Amir Khusrau, menampilkan Qawwali untuk membangkitkan ekstasi spiritual, baik di hadapan penguasa Mughal maupun masyarakat umum.
Sementara itu, Dhrupad menjadi musik utama istana Mughal dan dipentaskan dalam mehfil kerajaan, seperti di Fatehpur Sikri pada masa Akbar dan di Lahore pada era Jahangir. Dhrupad juga berkembang di kuil-kuil Bhakti, termasuk di Vrindavan. Tansen, sebagai musisi utama istana Akbar, memainkan peran penting dalam mengukuhkan Dhrupad sebagai musik klasik istana, termasuk melalui penciptaan raga-raga legendaris seperti Miyan ki Todi. Pertunjukan Dhrupad sering hadir dalam konteks naubat dan darbar sangeet.
Baca juga: Sejarah Perkembangan Musik Rock: Dari Akar hingga Era Modern
Warisan Musik
Baik Qawwali maupun Dhrupad diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Keduanya mencerminkan kuatnya pengaruh Mughal dalam perkembangan musik Asia Selatan. Qawwali dikenal sebagai musik Sufi yang bersifat populer, urban, dan adaptif terhadap perkembangan zaman, sementara Dhrupad dipandang sebagai bentuk musik klasik yang lebih konservatif, elit, dan berakar kuat pada tradisi Bhakti-istana. Meski berbeda karakter, keduanya tetap menjadi pilar penting dalam lanskap musik klasik dan spiritual Asia Selatan hingga kini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Uchicago.edu, Cambridge.org