Kamis, 08 JANUARI 2026 • 16:20 WIB

Boleh Gak Sih Musik Timur Dimainkan Oleh Musisi dari Suku Lain? Bakal Tren Kembali di 2026

Author

Ilustrasi musik Timur yang akan jadi trend di 2026. (Gemini AI)

INDOZONE.ID - Setelah muncul musik-musik timur di sepanjang 2025 kemarin, kemungkinan tren ini akan melebar. Meski dinyanyikan aksen orang dari Indonesia Timur, namun penggemarnya dari suku lain di Indonesia, bahkan jadi fenomena global.

Kita bisa lihat kesuksesan 'Tabola Bale', 'Ngapain Repot', dan lagu-lagu Timur lainnya yang banyak disukai masyarakat dari berbagai kalangan. Tanpa batas, dari suku dan umur yang wariatif, meski penciptanya dari Nusa Tenggara Timur, Ambom, Gorontalo dan beberapa wilayah lainnya di sisi timur Indonesia.

Pertanyaannya, apakah musik Timur boleh juga dimainkan oleh musisi dari suku lainnya?

Baca juga: Tren Musik Timur Kemungkinan Masih akan Berlanjut di 2026

Akan sulit membuat musik seperti Tabola Bale

Tren musik Timur di 2026 (Youtube)

Indozone mencoba menanyakan hal ini kepada pengamat musik Air. Salh satunya dari Mudya Mustamin, selaku tim juri dan panelis Anugerah Musik Indonesia (AMI) 2025 lalu. Ia menyebutkan bahwa tren musik di tahun lalu kemungkinan masih berlanjut. 

"Bisa jadi, sulit ada karya-karya baru di 2026 yang bisa menandingi kesuksesan kedua lagu tersebut," kata Mudya kepada Indozone.

Kendati begitu, semua musisi tak ditutup kemungkinannya untuk berkarya.

Sah-sah saja! Kata Pengamat Musik

Sementara itu, Ryan Kampua yang juga dikenal sebagai pengamat musik menyebutkan tak ada salahnya memainkan musik ciri khas dari manapun. Musik tradisi yang kental dengan suatu budaya kerap dimainkan oleh suku dan ras lainnya.

Baca juga: Makna Lagu "Stecu" Faris Adam, Musik Timur yang Lagi Viral di Medsos

Salah satu contoh yang paling terkenal adalah musik blues yang dikenal di dunia sebagai musisi Afrika Amerika yang kemudian dimainkan banyak musisi kulit putih atau kaukasian.

"Akan tumbuh musik tradisi lain seiring kemudahan musisi dalam mengakses teknologi dan informasi, dan pro kontra akan lahir pula dengan mudahnya orang menyampaikan pandangannya dalam musik. Sah-sah saja dan itu hak para pelaku dan penikmat musik," kata Ryan saat dihubungi Indozone.

Tanggapan warganet

Beberapa penikmat musik dari berbagai kalangan usia juga menjelaskan pedapatnya tentang hal ini. Menurut mereka tak ada masalah mau dari suku manapun untuk memainkan atau menciptakan musik dengan Timur Vibes.

Beberapa musisi lain pun sudah banyak yang mengcover lagu timur, bahkan dijadikan genre yang berbeda. Atau

"Boleh-boleh aja, selagi dari pihak pemilik lagu membolehkan, karena kalau tidak berhubungan dengan suatu budaya dan adat, nggak ada aturan tersendiri sebuah lagu boleh atau nggaknya dinyanyikan oleh suku lain," kata Malika, mahasiswi asal Jakarta kepada Indozone.

"Boleh apa ganya dipakai suku lain harusnya boleh, tapi tetap harus mengikuti ketentuan dan UUD yang ada di Indonesia," katanya kepada Indozone.

Tren musik Timur di 2026 (Youtube)

"Boleh-boleh aja, justru itu bakal nge-branding si lagu lebih populer. Tidak hanya di daerahnya tapi juga di berbagai daerah di Indonesia maupun luar neger," kata Aulia Faradiva, mahasiswi asal Semarang.

"⁠Boleh dan sah-sah saja. Namun akan lebih terasa enak dibuat dan dinyanyikannya dengan orang-orang Timur," kata Sufaira Thoibah, mahasiswi asal Bandung.

Baca juga: Prediksi Tren Musik 2026, Pengamat Soroti Berlanjutnya Fenomena Fluid Genre hingga Kembali ke Analog

Nah, bagaimana menurut kalian? Tentunya musik Timur akan masuk fase baru dan menjadi tren sepanjang 2026 mendatang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wawancara

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU