INDOZONE.ID - Setelah menyambangi Semarang dan Bandung, Lintas Resonan dijadwalkan tiba di G Town Square, Tangerang, pada 15 Januari 2026.
Dengan mengusung tema "Meretas Batas", gelaran ini mencoba memotret dinamika Tangerang sebagai kota yang mempertemukan arus industri dengan praktik kreatif yang cair.
Meski berada di bayang-bayang Jakarta, Tangerang memiliki karakter kolektif yang unik dan sering kali menjadi ruang eksperimen bagi pola-pola kreatif di luar arus utama industri.
Lintas Resonan tahun ini digagas oleh People of the Right Project, yang sejak awal diposisikan bukan sebagai tur musik konvensional, melainkan ruang kolektif lintas disiplin.
Baca juga: Nadin Amizah Didiagnosis Spasmodic Dysphonia, Akui Kemampuan Bernyanyi Sempat Menurun
Musik menjadi pintu masuk untuk melampaui batas-batas eksplorasi yang pernah ada.
"Sejak awal, Lintas Resonan kami rancang sebagai ruang perlintasan. Bukan hanya antar musisi, tapi juga antar kota dan cara pandang. Tangerang menarik karena ia hidup di antara banyak arus: industri, komunitas, dan praktik kreatif yang terus bergerak. Di kota seperti ini, kolaborasi sering lahir dari pertemuan yang jujur, bukan dari konsep yang dipaksakan," ujar Iksal Harizal dari People of the Right Project.
Di panggung Tangerang, entitas kolaboratif Portura kembali menjadi poros utama. Unit musik ini mempertemukan Iga Massardi, John Paul Patton (Coki), Fathia Izzati, Bilal Indrajaya, dan Enrico Octaviano.
Nama-nama dengan latar berbeda ini memilih bekerja dalam satu ruang eksperimentasi. Lagu-lagu yang dibawakan bukan sekadar repertoar personal, melainkan hasil pertemuan gagasan yang diramu ulang secara kolektif.
"Yang kita lakukan sebenarnya sesimpel berbagi pengalaman. Lima orang yang beda latar digabung jadi satu proyek, dan dari situ orang bisa nonton, merasakan, dan menarik maknanya sendiri. Bukan untuk bilang ini yang paling benar, tapi ini salah satu kemungkinan," ujar vokalis Fathia Izzati.
Seperti titik sebelumnya, Lintas Resonan menjaga komitmen untuk mengusung talenta lokal sebagai salah satu sajian utama. Unit hardcore punk Tabraklari dipilih sebagai penampil etape ini, menjadi simbol bahwa panggung Lintas Resonan tetap terbuka pada jenis musik apa pun.
Di luar panggung pertunjukan, Lintas Resonan Tangerang turut menghadirkan sesi live podcast sebagai wadah dialog antar-disiplin.
Di sini, para musisi dan praktisi kreatif berbagi perspektif mengenai realitas ekosistem kreatif saat ini, termasuk peluang serta hambatan yang dihadapi.
Forum ini tidak dirancang untuk menghasilkan kesimpulan tunggal, melainkan sebagai upaya memantik ruang refleksi bagi para pelakunya.
"Kami datang ke kota-kota itu bukan untuk menggurui atau merasa paling tahu. Tapi justru sama-sama belajar. Menarik banget karena tiap kota beda-beda, dan dari situ kita bisa lihat betapa beragamnya cara orang bermusik dan membangun skenanya sendiri," tegas Iga Massardi.
Baca juga: Setelah 12 Tahun, Jessica Jung Bawakan Medley Lagu-lagu SNSD di Konser Solo "Reflections"
Visual kembali hadir sebagai bagian utuh dari pengalaman. Seniman visual Arswandaru mendapat tantangan baru untuk merespons karakter Tangerang. Bukan sekadar jadi latar, melainkan upaya untuk memberikan pengalaman lebih bagi penonton.
Lintas Resonan Tangerang menegaskan pesan bahwa kreativitas tak harus bersumber dari pusat-pusat yang sudah mapan.
Semangat kolektif ini justru menangkap bagaimana ide-ide segar tumbuh di tengah dinamika kota industri yang terus bersalin rupa.
Bagi yang ingin bergabung, akses masuk tersedia dengan biaya Rp100 ribu melalui laman resmi lintasresonan.com, di mana tersedia pula pilihan paket yang mencakup atribut resmi acara dalam jumlah terbatas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Press Release