Minggu, 18 JANUARI 2026 • 13:30 WIB

Mengenal Eurovision Song Contest: "Piala Eropa" Dunia Musik yang Melegenda

Author

Eurovision Song Contest. (Sumber: eurovision.tv)

INDOZONE.ID - Jika dunia sepak bola memiliki Piala Eropa atau UEFA Euro sebagai ajang pertarungan gengsi antarnegara di Benua Biru, maka dunia tarik suara memiliki kompetisi yang tak kalah megah, yaitu Eurovision Song Contest.

Kompetisi ini bukan sekadar festival musik biasa, melainkan sebuah fenomena budaya yang menyatukan jutaan pasang mata dari seluruh dunia setiap tahunnya.

Dengan tata panggung yang spektakuler, kostum yang sering kali eksentrik, hingga drama perolehan poin yang menegangkan, Eurovision telah mengukuhkan posisinya sebagai olimpiade musik terbesar di dunia.

Bagi mereka yang baru mengenalnya, Eurovision adalah kompetisi menulis dan menyanyikan lagu yang diselenggarakan setiap tahun oleh European Broadcasting Union (EBU).

Ajang ini mempertemukan perwakilan dari negara-negara anggota untuk beradu kreativitas di atas panggung megah. Pemenangnya tidak hanya membawa pulang trofi mikrofon kristal yang ikonik, tetapi juga hak istimewa bagi negaranya untuk menjadi tuan rumah kompetisi di tahun berikutnya.

Inilah yang membuat atmosfer Eurovision selalu terasa kompetitif layaknya pertandingan olahraga, di mana bendera negara dikibarkan dengan bangga oleh para pendukungnya.

Baca juga: Kalush Orchestra Juara di Eurovision Song Contest 2022: 'Kemenangan untuk Rakyat Ukraina'

Sejarah Panjang Penyatuan Melalui Musik

Eurovision Song Contest 2023 (Sumber: Wikipedia)

Eurovision Song Contest memiliki akar sejarah yang sangat dalam dan mulia. Kompetisi ini pertama kali digelar pada tahun 1956 di Lugano, Swiss.

Tujuan awalnya sangat sederhana namun fundamental, yaitu untuk menyatukan kembali negara-negara Eropa yang sempat terpecah belah pasca Perang Dunia II melalui media hiburan lintas batas.

Apa yang bermula dari eksperimen teknis penyiaran televisi kini telah berevolusi menjadi tontonan global yang memukau.

Meskipun bernama “Eurovision”, partisipannya tidak terbatas secara kaku pada geografi benua Eropa saja. Negara-negara yang menjadi anggota EBU seperti Israel, dan bahkan negara yang sangat jauh seperti Australia, turut serta meramaikan kompetisi ini karena besarnya basis penggemar di sana. Ekhem, Indonesia kapan ya?

Keunikan inilah yang menjadikan Eurovision sebagai panggung multikultural yang kaya warna, di mana balada emosional bisa bersanding dengan musik pop elektronik, rock cadas, hingga lagu-lagu etnik kontemporer dalam satu malam final yang meriah.

Pabrik Lagu Viral dan Bintang Dunia

Selama puluhan tahun penyelenggaraannya, Eurovision telah melahirkan banyak bintang besar dan lagu-lagu yang meledak di pasaran global.

Generasi penikmat musik mungkin tidak akan pernah melupakan penampilan memukau Alexander Rybak dari Norwegia pada tahun 2009.

Dengan biola dan senyum kharismatiknya, ia membawakan lagu “Fairytale” yang tidak hanya memecahkan rekor poin saat itu, tetapi juga menjadi anthem yang terus didengarkan hingga kini.

Satu dekade kemudian, tepatnya pada tahun 2019, dunia kembali disihir oleh lagu “Arcade” yang dibawakan oleh Duncan Laurence dari Belanda.

Lagu balada yang menyayat hati ini tidak hanya memenangkan kontes, tetapi juga menjadi sensasi viral di platform media sosial seperti TikTok bertahun-tahun setelah kompetisi usai.

Tak lama berselang, pada tahun 2021, grup band rock asal Italia, Maneskin, menggebrak panggung dengan lagu “Zitti e Buoni”.

Kemenangan mereka membuktikan bahwa musik rock masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Eropa, sekaligus melambungkan nama Måneskin menjadi salah satu band rock paling populer di dunia saat ini.

Menyongsong Kemeriahan Eurovision 2026 di Austria

Antusiasme Eurovision kini tengah tertuju pada Austria. Negara yang terkenal dengan sejarah musik klasiknya ini didaulat menjadi tuan rumah untuk musim kompetisi tahun 2026.

Hak istimewa tersebut diraih setelah kemenangan fenomenal perwakilan mereka, JJ, pada edisi tahun 2025 lalu.

Lagu berjudul “Wasted Love” yang dibawakan JJ sukses memikat hati juri dan penonton di seluruh Eropa, membawa trofi kemenangan kembali ke tanah Austria, serta menjadikan Wina sebagai pusat perhatian musik dunia tahun ini.

Baca juga: Sinopsis "Eurovision Song Contest: The Story of Fire Saga (2020)"

Persiapan menuju panggung megah tahun 2026 sudah mulai terasa panas. Meskipun kompetisi utama masih beberapa waktu lagi, sejumlah negara telah mulai mengumumkan perwakilan terbaik mereka untuk berjuang di Austria.

Hingga saat artikel ini ditulis, dua negara dari kawasan Balkan telah memastikan partisipasinya dengan mengirimkan talenta terbaik mereka.

Albania telah memilih Alis dengan lagu berjudul “Nan”, sebuah karya yang dinantikan akan membawa nuansa khas ke panggung besar.

Sementara itu, Montenegro juga tidak ingin ketinggalan momentum. Mereka telah mengutus Tamara Zivkovic untuk membawakan lagu berjudul “Nova zora”.

Kehadiran para kontestan awal ini menandai dimulainya musim kompetisi yang sengit. Penggemar Eurovision di seluruh dunia kini mulai membedah kualitas lagu-lagu tersebut, memprediksi peluang mereka, dan menantikan negara-negara lain untuk segera mengungkap kartu as masing-masing.

Dengan standar tinggi yang ditetapkan oleh kemenangan JJ tahun lalu, Eurovision 2026 di Austria diprediksi akan menjadi salah satu edisi paling spektakuler dalam sejarah kompetisi musik tertua di dunia ini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU