Senin, 19 JANUARI 2026 • 21:00 WIB

5 Negara Ini Pilih untuk Mundur dari Eurovision Song Contest 2026, Kok Bisa?

Author

Eurovision Song Contest 2026. (Sumber: eurovision.tv)

INDOZONE.ID - Panggung megah Eurovision Song Contest, yang seharusnya menjadi simbol persatuan melalui musik, kini tengah menghadapi salah satu krisis terbesar dalam sejarah panjangnya.

Gelaran yang dijadwalkan berlangsung pada tahun 2026 ini tidak lagi diwarnai oleh antusiasme semata, melainkan dibayangi oleh ketegangan geopolitik yang memuncak.

Keputusan kontroversial dari European Broadcasting Union (EBU) terkait partisipasi negara tertentu telah memicu reaksi berantai yang mengejutkan. Melansir dari Astro Awani, lima negara telah menyatakan sikap tegas untuk menarik diri dari kompetisi tahun ini sebagai bentuk protes dan boikot.

Langkah drastis ini diambil menyusul hasil pemungutan suara Majelis Umum EBU pada awal Desember 2025 lalu yang tetap memberikan lampu hijau bagi Israel untuk berkompetisi.

Keputusan tersebut langsung disambut dengan respons keras dari berbagai lembaga penyiaran publik di Eropa. Islandia, Irlandia, Belanda, Slovenia, dan Spanyol memutuskan bahwa nilai kemanusiaan dan protes terhadap situasi di Gaza jauh lebih penting daripada sekadar tampil di panggung hiburan.

Baca juga: Mengenal Eurovision Song Contest: "Piala Eropa" Dunia Musik yang Melegenda

Kritik Tajam atas Kemanusiaan

Salah satu suara paling vokal datang dari Belanda melalui penyiarnya, AVROTROS. Meskipun awalnya sempat mengumumkan akan melakukan seleksi internal untuk wakil mereka di tahun 2026, sikap Belanda berubah drastis pada September 2025.

Pihak penyiar menegaskan bahwa mereka tidak dapat lagi menjustifikasi partisipasi Israel di tengah penderitaan manusia yang terus berlanjut di Gaza.

Alasan mereka tidak hanya berhenti pada isu kemanusiaan. AVROTROS juga menyoroti adanya campur tangan kampanye pemerintah Israel yang dinilai memengaruhi hasil edisi sebelumnya.

Keteguhan hati Belanda terlihat jelas ketika mereka menyatakan bahwa posisi ini tidak akan berubah untuk kontes tahun 2026, bahkan jika gencatan senjata tercapai sekalipun. Mereka baru akan mengevaluasi kembali keikutsertaan mereka di tahun-tahun berikutnya, tergantung pada perkembangan situasi.

Puncak dari sikap ini terjadi pada 4 Desember 2025, tepat setelah pemungutan suara Majelis EBU, di mana Belanda secara resmi mengumumkan boikot mereka.

Senada dengan Belanda, Islandia juga mengambil langkah serupa. Lembaga penyiaran RUV, yang awalnya berencana menggunakan format seleksi tradisional Söngvakeppnin, mulai meragukan partisipasi mereka sejak September.

Melansir dari Wiwibloggs, Stefan Jon Hafstein, Ketua Dewan Direksi RUV, menyatakan bahwa keikutsertaan mereka sangat bergantung pada status Israel.

Setelah dewan memberikan rekomendasi untuk mengecualikan Israel pada akhir November, RUV akhirnya mengumumkan boikot total pada 10 Desember, enam hari setelah keputusan kontroversial Majelis EBU.

Aksi Boikot Total: Tidak Tampil dan Tidak Menyiarkan

Eurovision Song Contest. (Sumber: eurovision.tv)

Tiga negara lainnya mengambil langkah yang lebih ekstrem, yaitu tidak hanya menolak mengirimkan penyanyi, tetapi juga menolak menyiarkan acara tersebut di televisi nasional mereka. Irlandia, melalui RTE, telah memberikan ultimatum sejak September 2025.

Mereka mengutip tingginya angka korban jiwa dan penargetan jurnalis dalam perang Gaza sebagai alasan utama. Menunggu hingga keputusan final EBU di bulan Desember, RTE akhirnya merealisasikan ancaman mereka dengan mengumumkan bahwa mereka tidak akan berkompetisi maupun menyiarkan Eurovision 2026.

Di kawasan Balkan, Slovenia menunjukkan solidaritas yang sama. Penyiar publik RTVSLO sejak awal mempertanyakan transparansi pemungutan suara dan menunggu keputusan EBU mengenai masa depan Israel.

Namun, seiring berjalannya waktu, posisi mereka semakin jelas. Pada 4 Desember, Slovenia mengonfirmasi boikot penuh, menutup akses penayangan kontes tersebut bagi publik Slovenia sebagai bentuk protes keras.

Baca juga: Kalush Orchestra Juara di Eurovision Song Contest 2022: 'Kemenangan untuk Rakyat Ukraina'

Keputusan Berat bagi Sang Raksasa “Big Five”

Mungkin kejutan terbesar datang dari Spanyol, salah satu anggota “Big Five” yang memiliki kontribusi finansial besar terhadap EBU. Stasiun televisi RTVE sebenarnya telah mempersiapkan Benidorm Fest sebagai ajang seleksi nasional yang populer sejak 2022.

Namun, Dewan Direksi RTVE mengambil langkah berani pada pertengahan September dengan meloloskan proposal untuk tidak berpartisipasi atau menayangkan kontes jika Israel tetap ikut serta.

Meskipun ada pembicaraan mengenai rencana perdamaian di tingkat internasional, RTVE menegaskan bahwa posisi mereka tidak berubah. Jose Pablo Lopez, Ketua RTVE, kembali menegaskan komitmen tersebut di hadapan komite parlemen pada akhir November.

Akhirnya, mengikuti jejak rekan-rekannya, Spanyol mengumumkan boikot pada 4 Desember 2025 lalu. Keputusan Spanyol untuk tidak menyiarkan acara ini tentu menjadi pukulan telak bagi EBU, mengingat besarnya basis penggemar Eurovision di negara Matador tersebut.

Mundurnya lima negara ini menjadi sinyal kuat bahwa panggung musik internasional tidak bisa sepenuhnya lepas dari dinamika politik global. Eurovision 2026 kini menghadapi tantangan berat untuk mempertahankan relevansi dan integritasnya di tengah absennya negara-negara kunci yang memilih prinsip kemanusiaan di atas segalanya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU