INDOZONE.ID - Istilah encore sangat familiar di dunia konser musik. Biasanya, setelah lampu panggung padam dan musisi meninggalkan panggung, penonton justru berteriak semakin keras, meminta mereka kembali tampil.
Secara sederhana, encore merupakan penampilan tambahan yang dilakukan musisi setelah pertunjukan utama selesai, biasanya karena permintaan penonton. Namun, tradisi ini ternyata punya sejarah panjang dan makna yang lebih dalam dari sekadar “tambah satu lagu lagi”.
Baca juga: DAY6 Umumkan Konser Encore di KSPO Dome, Fans Tak Sabar Menanti
Asal-Usul Kata Encore
Istilah encore berasal dari bahasa Prancis yang berarti “lagi”, “sekali lagi”, atau “masih”. Dalam konteks pertunjukan, kata ini merujuk pada permintaan agar sebuah karya yang baru saja ditampilkan diulang kembali.
Tradisi encore sudah ada sejak awal abad ke-18. Menurut laporan dari majalah musik klasik Inggris yang dikutip dari Loudwire, Rabu (25/02/2026) encore sudah terlihat dalam konser opera Italia yang digelar di Inggris. Bahkan stasiun radio klasik WQXR menelusuri jejak encore hingga era Barok sekitar tahun 1712.
Pada masa itu, encore benar-benar berarti pengulangan langsung dari karya yang sama. Penonton akan bersorak atau berteriak meminta lagu diulang. Namun, bagi sebagian musisi, hal tersebut justru dianggap mengganggu jalannya pertunjukan.
Baca juga: MEOVV Siap Meriahkan Konser Encore Taeyang BIGBANG di Incheon
Ketika Encore Pernah “Dilarang”
Seiring waktu, permintaan encore menjadi semakin sering dan kadang berlebihan. Pada akhir abad ke-19, di beberapa festival paduan suara besar, keputusan untuk memberikan encore bahkan ditentukan oleh tokoh terhormat seperti uskup atau walikota.
Memasuki awal 1900-an, sejumlah gedung konser mulai mencetak tulisan “No Encore” di program acara, bahkan memasang papan pengumuman khusus untuk menegaskan bahwa tidak akan ada penampilan tambahan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa encore pernah dianggap sebagai gangguan terhadap struktur pertunjukan yang sudah dirancang.
Siapa yang Mempopulerkan Encore di Musik?
Dalam dunia musik, seperti musik rock modern, encore justru menjadi bagian yang ditunggu-tunggu.
Melansir pada laman yang sama, salah satu figur yang sering disebut mempopulerkan encore dalam skala besar adalah Bruce Springsteen.
Dikenal dengan julukan “The Boss”, ia terkenal dengan konser maraton berdurasi hingga tiga atau empat jam.
Setelah set utama selesai, ia kerap kembali ke panggung bersama E Street Band untuk membawakan beberapa lagu tambahan.
Penampilannya yang penuh energi membuat encore terasa seperti klimaks kedua dalam satu konser.
Baca juga: Pecah! Mahalini Duet Bareng Kaka Slank di Konser KOMA, Penonton Langsung Sing Along
Seiring waktu, banyak band lain mengikuti pola serupa. Encore tidak lagi sepenuhnya spontan, tetapi menjadi bagian terjadwal dari konser.
Bahkan, momen “turun panggung lalu kembali lagi” sering kali sudah masuk dalam perencanaan produksi dan tata lampu konser saat ini.
Apa Isi Encore di Konser Modern?
Pada konser saat ini, encore biasanya berisi lagu-lagu paling populer yang belum sempat dimainkan di set utama. Penggemar bahkan sering dapat menebak lagu apa yang akan dibawakan saat encore.
Beberapa musisi memilih menambahkan lagu langka, aransemen khusus, atau bahkan membawakan lagu baru untuk pertama kalinya secara live agar momen encore terasa lebih spesial.
Baca juga: Sule Bawain Lagu “Susis” di Konser Comeback Mahalini, Nyeletuk Soal Warisan di Atas Panggung
Tidak Semua Musisi Suka Encore
Menariknya, tidak semua musisi menyukai tradisi “turun panggung lalu kembali lagi”. Elvis Presley, misalnya, dikenal tidak membawakan encore atas saran manajernya.
Dari sinilah lahir kalimat terkenal, “Elvis has left the building,” yang digunakan untuk memberi tahu penonton bahwa pertunjukan benar-benar telah berakhir.
Band legendaris The Beatles juga kerap menghindari encore, terutama karena faktor keamanan dan histeria penggemar yang sulit dikendalikan.
Baca juga: EXO Umumkan Tur Konser "EXhOrizon" di Jakarta pada Juni 2026
Itulah penjelasan mengenai istilah encore. Saat ini, encore bukan sekadar lagu tambahan. Encore menjadi simbol hubungan antara artis dan penggemar.
Penonton merasa memiliki peran karena “memanggil kembali” sang musisi, sementara artis memanfaatkan momen tersebut sebagai klimaks emosional yang memperkuat kesan konser.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Loudwire