INDOZONE.ID - Isu royalti musik yang kembali memanas di tahun 2026 antara pencipta lagu, penyanyi, hingga lembaga manajemen kolektif, menuai perhatian berbagai pihak. Produser musik sekaligus pemilik Nueve Records, Debby Lufiasita, turut angkat bicara.
Sebagai sosok yang berperan sebagai produser dan pencipta lagu, Lufiasita melihat persoalan ini tidak bisa disederhanakan. Ia menilai konflik yang terjadi memiliki banyak sisi dan tidak seharusnya disikapi dengan saling menyalahkan.
Melihat dari Dua Sisi Industri
Lufiasita mengakui tuntutan para pencipta lagu terkait transparansi dan keadilan royalti merupakan hal yang wajar. Baginya, royalti adalah bentuk penghargaan atas karya intelektual.
Namun, ia juga memahami posisi promotor dan label yang harus memperhitungkan berbagai biaya operasional.
"Kita tidak bisa melihat ini secara hitam putih. Di satu sisi, pencipta lagu adalah jantung dari karya tersebut. Namun di sisi lain, ada ekosistem bisnis yang harus tetap berputar agar musik itu bisa sampai ke telinga pendengar," ungkapnya.
Baca juga: Wamenbud Giring: Royalti Musik Direformasi oleh Kementerian Hukum
Transparansi Jadi Kunci
Alih-alih memihak salah satu pihak, Lufiasita menekankan pentingnya keterbukaan data dalam sistem royalti.
Ia menilai, di era teknologi saat ini, seharusnya tidak ada lagi ketidakjelasan dalam pembagian hasil karya.
"Isu royalti ini sensitif karena masalah keterbukaan. Harapan saya, semua pihak duduk bersama. Kita butuh sistem yang real-time dan terintegrasi sehingga baik pencipta, penyanyi, maupun label bisa melihat angka yang sama tanpa ada yang merasa dicurangi," tambahnya.
Pentingnya Kontrak dan Profesionalisme
Lufiasita juga menyoroti bahwa banyak konflik muncul akibat perjanjian kerja yang tidak dirinci dengan jelas sejak awal. Ia mengingatkan pentingnya kesadaran hukum bagi para pelaku industri.
Baca juga: Once Mendukung Kebijakan Satu Pintu untuk Pembayaran Royalti Musik
Bagi musisi, ia menyarankan untuk lebih teliti dalam memahami kontrak. Sementara bagi pengguna karya, ia menekankan pentingnya menghargai hak cipta sebagai bentuk dukungan terhadap keberlangsungan industri musik.
"Ini bukan soal siapa yang paling benar atau siapa yang paling berkuasa di industri. Ini soal bagaimana kita menciptakan sistem yang sehat. Jika penciptanya sejahtera, industrinya pasti akan lebih hidup. Tapi jika regulasinya terlalu menjerat dan tidak fleksibel, industri juga bisa stagnan," jelasnya.
Menutup pernyataannya, Lufiasita berharap polemik royalti yang terjadi saat ini bisa menjadi momentum perbaikan regulasi di tingkat nasional.
Ia optimistis solusi yang adil bisa dicapai melalui komunikasi yang baik tanpa harus berujung pada konflik berkepanjangan.
"Mari kita kembalikan musik ke marwahnya sebagai pemersatu. Jangan sampai masalah royalti justru memutus silaturahmi antar musisi. Kita butuh solusi sistemik, bukan sekadar saling sindir di media sosial," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/@lufiasita