INDOZONE.ID - Java Jazz Festival 2026 hari pertama berubah seperti perayaan tanpa rem saat Jon Batiste naik ke atas panggung di MyBCA Hall, Jumat (29/5/2026). Bukan hanya memainkan musik, penyanyi dan pianis asal Amerika Serikat itu seperti sedang menyalurkan energi yang tak pernah habis ke seluruh arena.
Sejak awal penampilan, Batiste tampil liar, bebas, dan penuh kejutan. Ia tak hanya duduk di depan piano, tetapi juga beberapa kali bergoyang mengikuti ritme lagu-lagunya sendiri, termasuk saat membawakan “Big Money” yang langsung menghidupkan suasana.
Terlihat dalam pantauan Indozone, Jon Bastite bergerak kesana kemari, bergoyang dengan setelan jasnya yang gemerlap. Ia buat penonton hanyut dalam aransmene .Big Money. yang diimprovisasi sebagai aksi panggungnya.
Penonton dibuat ikut larut dalam permainan musik yang terasa spontan namun tetap presisi.
Baca juga: Hari Pertama Java Jazz Festival 2026: Sensasi Venue Baru dengan Para Musisi yang Variatif
Salah satu momen paling kuat hadir ketika lagu “Worship” dimainkan. Batiste duduk di depan piano sambil membangun dialog musikal dengan pemain perkusi lewat sesi improvisasi panjang yang intens.
Permainan nada demi nada terdengar seperti percakapan emosional yang terus berkembang di atas panggung.
Atmosfer konser semakin kaya berkat kehadiran Desiree “Desz” Washington. Vokalis perempuan tersebut memberi warna soul dan gospel yang kental melalui harmonisasi vokal yang berpadu mulus dengan permainan piano Batiste.
Kehadirannya membuat pertunjukan terasa lebih hangat sekaligus megah.
Batiste juga sempat mengutak-atik beberapa tema musik klasik dengan gaya improvisasi khasnya. Melodi yang terdengar familiar diubah menjadi eksplorasi musik yang mengalir bebas tanpa kehilangan emosi.
Menuju akhir pertunjukan, konser perlahan berubah menjadi ledakan energi. Lagu “Cry” dari album WE ARE menjadi penutup yang penuh tenaga. Dentuman drum, gitar yang agresif, dan vokal yang meledak membuat suasana berubah seperti konser rock bercampur gospel dan soul.
Setelah lebih dari satu jam membawa penonton melintasi berbagai warna musik, mulai dari jazz, soul, gospel hingga rock, Jon Batiste menutup malam dengan tepuk tangan panjang dan atmosfer yang masih terasa berdenyut bahkan setelah lampu panggung meredup
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan