INDOZONE.ID - Bagi banyak orang yang baru belajar musik, istilah tangga nada diatonis dan pentatonis mungkin terdengar rumit dan membingungkan.
Padahal, keduanya adalah konsep dasar dalam teori musik yang sudah sering kita dengar tanpa sadar, mulai dari lagu anak-anak, musik pop, hingga musik tradisional.
Secara sederhana, perbedaan paling mendasar antara diatonis dan pentatonis terletak pada jumlah nada pokok yang digunakan dalam satu oktaf.
Namun, perbedaan ini ternyata membawa dampak yang cukup besar terhadap karakter musik yang dihasilkan, mulai dari nuansa, budaya asal, hingga jenis alat musik yang biasa memainkannya.
Mengenal Tangga Nada Diatonis
Tangga nada diatonis adalah sistem tangga nada yang menggunakan tujuh nada pokok dalam satu oktaf, yang lebih dikenal masyarakat awam dengan sebutan do-re-mi-fa-sol-la-si.
Sistem ini menjadi fondasi utama musik Barat modern dan menjadi dasar dari hampir seluruh lagu-lagu pop, klasik, jazz, hingga musik gereja yang kita dengar sehari-hari.
Karena sifatnya yang sistematis dan interval yang jelas antar-nadanya, tangga nada diatonis memungkinkan terciptanya harmoni yang lebih kompleks, termasuk penggunaan akor mayor, minor, dan kor tujuh, yang semuanya sering dijumpai dalam musik modern.
Sebagian besar alat musik modern dirancang mengikuti sistem tangga nada diatonis. Piano menjadi contoh paling representatif, di mana susunan tuts putih pada piano secara langsung merepresentasikan ketujuh nada pokok dalam tangga nada diatonis.
Selain piano, gitar, biola, seruling modern, hingga alat musik tiup seperti saksofon dan trompet juga dirancang untuk memainkan tangga nada diatonis secara utuh.
Mengenal Tangga Nada Pentatonis
Berbeda dengan diatonis, tangga nada pentatonis hanya menggunakan lima nada pokok dalam satu oktaf. Sistem tangga nada ini banyak ditemukan dalam musik tradisional di berbagai belahan dunia,
Karena hanya menggunakan lima nada, musik dengan tangga nada pentatonis umumnya terdengar lebih sederhana namun tetap memiliki karakter yang kuat dan mudah diingat.
Baca juga: Apa Itu Interval Nada? Ini Pengertian, Jenis dan Contohnya
Tidak jarang, ketiadaan nada semitone (setengah nada) yang berdekatan pada beberapa jenis tangga nada pentatonis membuat musik yang dihasilkan terdengar lebih "aman".
Alat musik tradisional menjadi representasi paling kuat dari penggunaan tangga nada pentatonis.
Di Indonesia, alat musik gamelan seperti saron, bonang, gender, hingga gambang, merupakan contoh alat musik yang secara khusus dirancang untuk memainkan tangga nada pentatonis, baik dalam laras slendro maupun pelog.
Di luar Indonesia, alat musik seperti guzheng dan pipa dari Tiongkok, koto dari Jepang, hingga sejumlah alat musik tiup tradisional dari berbagai suku, juga menggunakan tangga nada yang sama.
Meski memiliki karakteristik yang berbeda, baik tangga nada diatonis maupun pentatonis sama-sama memiliki peran penting dalam khazanah musik dunia.
Diatonis menjadi pondasi utama musik modern yang kita dengar sehari-hari, sementara pentatonis tetap menjadi identitas kuat dari musik tradisional yang mewakili budaya dan kearifan lokal di berbagai belahan dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA, Ruang Guru