INDOZONE.ID - Aurelie Moeremans membagikan cerita personal tentang masa lalunya. Bintang film Baby Blues ini mengaku pernah menjadi korban child grooming di masa lalu.
Kisah kelam itu dituangkan Aurelie dalam buku berjudul Broken Strings. Di buku tersebut, sang aktris menceritakan tekanan psikologis dan emosional yang dialaminya karena menjadi korban grooming.
Istilah child grooming sebenarnya bukanlah hal yang asing dalam dunia perlindungan anak. Mengutip penjelasan dari laman BCP Council, fenomena ini merupakan ancaman serius bagi anak-anak di bawah umur yang dapat berujung pada tindak pelecehan seksual hingga eksploitasi.
Baca juga: Hesti purwadinata dan Suami Dapat Teror Usai Beri Dukungan ke Aurelie Moeremans Soal Broken Strings
Mengenal Child Grooming?
Child grooming adalah sebuah proses manipulatif di mana pelaku secara sengaja membangun ikatan emosional dan kepercayaan demi mendapatkan kendali atas seorang anak. Tujuannya adalah agar anak tersebut menuruti segala keinginan pelaku, termasuk dalam bentuk pelecehan seksual.
Melansir dari Psychology Today, grooming juga dapat diartikan sebagai proses penipuan oleh pelaku untuk memfasilitasi kontak seksual dengan anak di bawah umur sambil menghindari deteksi dari sekitarnya.
Proses grooming biasanya dimulai dengan identifikasi target oleh pelaku, diikuti dengan upaya mendapatkan akses guna mengisolasi korban.
Pelaku kemudian akan membangun kepercayaan secara sistematis, baik kepada anak maupun lingkungan sekitarnya seperti orang tua dan komunitas, sembari perlahan menormalkan paparan konten seksual serta kontak fisik terhadap anak tersebut.
"Setelah itu, pelaku dapat menggunakan strategi pemeliharaan pada korban untuk memfasilitasi pelecehan seksual di masa depan dan/atau untuk mencegah pengungkapan," kata pakar pencegahan kekerasan seksual, Elizabeth Jeglic, Ph.D.
Sayangnya, kemampuan publik dalam mendeteksi perilaku grooming masih sangat terbatas. Riset menunjukkan adanya pengaruh Hindsight Bias, di mana tanda-tanda manipulasi pelaku baru disadari dan terlihat jelas justru setelah tindak pelecehan itu terungkap atau terjadi.
"Oleh karena itu, untuk mencegah child grooming, sangat penting bagi orang tua, orang yang dekat dengan anak-anak, dan anak-anak itu sendiri untuk memahami apa artinya," kata Jeglic.
Cara Melindungi Anak dari Pelaku Child Grooming
Sinergi antara orang tua dan masyarakat sekitar merupakan kunci utama dalam memutus rantai child grooming. Sebagai panduan preventif, berikut adalah tiga langkah krusial yang dapat ditempuh untuk membentengi anak dari ancaman pelaku:
1. Kenali Bahayanya
Langkah pertama adalah adalah dengan mengetahui di mana letak bahayanya. Ada mitos dan kesalahpahaman mengenai child grooming, dan penting untuk tidak terjebak di dalamnya. Berikut faktanya:
- Hanya 7 persen dari child grooming dilakukan oleh orang asing. Hampir semua pelecehan anak dilakukan oleh seseorang yang dikenal oleh anak dan keluarga.
- 40 persen dari child grooming dilakukan oleh remaja lain. Ini bisa berupa saudara kandung, teman/kenalan, atau pacar.
- Hampir semua child grooming melibatkan rayuan seksual. Penting buat orang tua untuk bisa mengidentifikasi perilaku rayuan seksual yang mencurigakan.
2. Jangan Biarkan Seksualitas Jadi Hal yang Tabu di Rumah
Rasa cemas atau kekhawatiran bahwa edukasi seks akan memicu perilaku bebas sering kali membuat orang tua enggan membahas seksualitas sehat.
Padahal, dialog terbuka justru membekali anak dengan kepercayaan diri untuk mengenali batasan dan menghindari potensi pelecehan.
Melalui pemahaman yang tepat, mereka akan lebih berani mencari bantuan orang dewasa saat menghadapi situasi yang mencurigakan.
Oleh karena itu, para ahli menyarankan agar orang tua mulai mendiskusikan topik ini secara bertahap sesuai usia, dengan melibatkan metode tanya jawab yang melatih kemampuan berpikir kritis anak.
Baca juga: 8 Fakta Menarik Aurelie Moeremans: Kisah Hidup, Karier, dan 'Broken Strings'
3. Dampingi Anak dan Pastikan Dia Mendapatkan Pengawasan yang Ketat
Tanggung jawab pencegahan child grooming tidak hanya berada di pundak orang tua, tetapi juga komunitas secara luas, terutama ketika pelakunya berasal dari lingkaran terdekat.
Guru, misalnya, memiliki posisi strategis untuk mendeteksi dini risiko ini karena intensitas interaksi mereka dengan siswa.
Dengan mengidentifikasi anak yang menunjukkan kerentanan emosional dan segera menghubungkan mereka ke sistem pendukung yang tepat, kita dapat meminimalisir peluang terjadinya eksploitasi secara signifikan.
Itulah penjelasan tentang child grooming dan cara melindungi anak dari pelaku tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychology Today