Wulan Guritno Ungkap Realita Ketersediaan Air Bersih di NTT, Siswi Memilih Bolos Sekolah Saat Menstruasi
INDOZONE.ID - Aktris Wulan Guritno mengungkap pengalaman yang cukup haru setelah mengunjungi sejumlah sekolah di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dalam kunjungan tersebut, ia menemukan kondisi fasilitas sekolah yang masih jauh dari kata layak, terutama terkait akses sanitasi bagi siswi.
Baca juga: Bareskrim Panggil Pandji Pragiwaksono Terkait Kasus Hina Suku Toraja Senin Besok
Menurut Wulan, keterbatasan fasilitas dasar seperti toilet dan air bersih membuat sebagian siswi memilih tidak masuk sekolah saat sedang menstruasi. Hal ini tentu berdampak pada proses belajar mereka karena banyak hari sekolah yang akhirnya terlewat.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari kegiatan Voluntrip yang diikuti Wulan bersama Plan International Indonesia, ZAP Clinic, dan LEE Management pada 3–4 Februari 2026.
Bagi Wulan, perjalanan ini bukan sekadar kegiatan sosial biasa. Ia mengaku banyak melihat langsung realitas yang sebelumnya mungkin jarang disadari masyarakat, khususnya terkait ketimpangan fasilitas dasar di wilayah Indonesia Timur.
Sebagai seorang ibu, Wulan mengaku cukup tersentuh dengan kondisi yang dialami para siswi di sana. Ia menilai akses sanitasi yang layak sangat penting bagi anak perempuan agar mereka bisa belajar dengan nyaman dan percaya diri.
“Kondisinya memang benar-benar miris, jauh dari kata layak. Ini lebih dari tidak layak lagi,” ujar Wulan, di Senayan, Jakarta, Jumat (6/3).
Baca juga: Sebelum Ditahan, Polda Metro Pastikan Kondisi Richard Lee Sehat
Menurutnya, keberadaan air bersih dan fasilitas sanitasi bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga menyangkut rasa aman dan martabat bagi perempuan.
“Anak perempuan kan ada yang namanya datang bulan. Kita tahu saat datang bulan itu bagaimana keadaannya. Harus ada fasilitas yang aman dan private supaya mereka merasa nyaman. Kalau tidak, dampaknya bisa sampai ke masa depan mereka. Mereka jadi tidak percaya diri dan malu untuk datang ke sekolah,” jelasnya.
Saat berada di Manggarai, Wulan juga sempat berbincang langsung dengan beberapa siswi. Dari percakapan tersebut, ia mengetahui bahwa ada anak-anak yang memang sengaja tidak masuk sekolah ketika sedang menstruasi.
“Ada anak yang aku tanya, kalau lagi datang bulan mereka tidak sekolah karena malu. Bayangkan berapa banyak hari sekolah yang terpotong hanya karena fasilitas sanitasi tidak ada,” katanya.
Menurut Wulan, kondisi tersebut tentu bisa membuat siswi tertinggal pelajaran setiap bulannya, karena mereka harus melewatkan beberapa hari sekolah secara rutin.
Masalah yang ditemukan Wulan tidak hanya terkait sanitasi, ia juga melihat keterbatasan akses air bersih memengaruhi kebiasaan sehari-hari siswa. Bahkan ada anak-anak yang memilih tidak minum selama di sekolah, padahal perjalanan pulang pergi cukup jauh dan harus melewati perbukitan.
Situasi ini sejalan dengan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia yang mencatat bahwa NTT memiliki persentase sekolah rusak tertinggi di Indonesia, yakni sekitar 29,93 persen.
Melihat kondisi tersebut, kolaborasi antara Plan Indonesia, ZAP Clinic, dan LEE Management bersama Wulan Guritno, Joe Taslim, Winky Wiryawan, Kenes Andari, Shalom Razade, Gerin Nathanael, serta Ida Rhijnsberger, dilakukan untuk membantu memperbaiki fasilitas pendidikan di wilayah tersebut.
Program yang dijalankan meliputi renovasi ruang kelas, pembangunan fasilitas sanitasi ramah anak perempuan, serta edukasi terkait kesehatan dan pentingnya akses air bersih bagi siswa, guru, dan juga orang tua.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para siswa-siswi dapat belajar dengan lebih nyaman tanpa harus khawatir soal fasilitas dasar seperti toilet dan air bersih.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung