INDOZONE.ID - Seni merupakan hasil cipta karya manusia yang dianggap indah dan luhur. Ada bermacam-macam karya seni yang terkenal, misalnya lukisan Monalisa karya Da Vinci, lalu The Persistence of Memory dari Salvador Dali. Hasil karya mereka dianggap sebagai masterpiece yang mampu mengubah wajah seni dunia. Begitu pula sosok dari Jepang bernama Hokusai, yang melalui karya-karyanya memengaruhi perkembangan seni di Jepang bahkan dunia.
Katsushika Hokusai merupakan seorang seniman cetak kayu serta pelukis yang lahir pada 31 Oktober 1760 di Edo (sekarang Tokyo). Hokusai bisa dikatakan sebagai salah satu tokoh seniman paling berpengaruh dalam sejarah seni Jepang. Ia begitu dikenal di dunia Barat dengan karya ikoniknya yang berjudul Under the Wave off Kanagawa (lebih dikenal sebagai The Great Wave).
Meski begitu, napak tilas kisah perjalanan hidup dan karier Hokusai yang panjang memberikan lebih dari sekadar simbolis dalam karyanya, tetapi juga wujud dari perubahan besar yang ada di Jepang pada abad ke-19.
Baca juga: Potret Bendera Indonesia Karya Seniman Jepang Hiasi The New York Times, Simbol Krisis dan Harapan
Kisah Hokusai masuk ke dunia seni dimulai pada usia muda ketika ia belajar di bawah bimbingan berbagai pelukis dan ahli cetak kayu. Nama Hokusai mulai menggaung setelah ia membuat beragam karya cetakan kayu bertemakan pemandangan alam, kehidupan sehari-hari, serta dongeng dan cerita-cerita legenda.
Semasa hidup, Hokusai berulang kali mengubah nama penanya. Diketahui bahwa Hokusai telah membuat lebih dari 30.000 karya seni sepanjang hidupnya. Meskipun karya-karyanya begitu beragam, The Great Wave, yang muncul sekitar tahun 1831 dalam rangka seri Thirty-six Views of Mount Fuji (Tiga Puluh Enam Pandangan Gunung Fuji), menjadi karya paling monumental yang menghantarkan nama Hokusai ke kancah seni global.
Pada abad ke-19, Jepang berada dalam masa perubahan yang begitu besar. Selama periode Edo (1603–1868), Jepang menjalankan kebijakan isolasi diri (sakoku) yang membuat mereka menarik diri dari interaksi dengan dunia luar. Namun, sekitar awal abad ke-19, berbagai tekanan dari negara-negara Barat mulai memaksa Jepang untuk menghapus kebijakan ini.
Puncaknya ialah kedatangan Komodor Perry yang memaksa Jepang membuka diri dengan kebijakan baru yang dikenal sebagai Restorasi Meiji. Pada masa menuju perubahan besar itu, karya-karya Hokusai khususnya yang menggambarkan laut, dapat dipandang sebagai simbol ketegangan dan kecemasan Jepang terhadap ancaman luar yang semakin dekat.
Sebelum The Great Wave, Hokusai telah dikenal melalui beberapa lukisan laut dan gelombang ombak yang memperlihatkan kedamaian serta kekuatan alam. Namun, dalam The Great Wave, gelombang laut besar yang menakutkan menggambarkan situasi ketegangan politik dan sosial yang ada pada masa itu.
Lukisan itu memperlihatkan gelombang besar yang tampak hampir mengancam kapal-kapal di depannya, sementara Gunung Fuji menjadi latar belakang yang terlihat begitu jauh dan tak terjangkau. Simbolisasi ini mencerminkan rasa cemas terhadap ketidakpastian dunia luar ketika Jepang masih menutup diri, dengan Gunung Fuji sebagai simbol identitas nasional yang menghadapi ancaman asing.
Karya ini juga menunjukkan kreativitas Hokusai dalam seni cetak kayu. Di tengah tradisi cetak kayu Jepang yang konservatif, Hokusai memperkenalkan pandangan bergaya Barat melalui teknik dramatis yang lebih hidup dan dinamis. Gelombang ombak yang melengkung dan tampak siap menghantam menjadi simbol ketidakpastian Jepang terhadap kekuatan asing yang mulai berdatangan.
Baca juga: IDW 2025 Hadirkan Karya Seni Berkelanjutan dan Identitas Kreatif Indonesia
Karya Hokusai, The Great Wave, tak ubahnya cerminan dari zaman yang penuh kecemasan sosial dan politik menjelang akhir era Edo, ketika dunia luar perlahan merasuk ke denyut nadi kehidupan Jepang melalui perdagangan.
Selain The Great Wave, Hokusai juga menghasilkan berbagai karya lain bertemakan laut dan gelombang dalam beragam bentuk serta kondisi, seperti Rowing Boats in Waves at Oshioki dan View of Honmoku of Kanagawa. Setiap karya Hokusai menunjukkan kemampuannya menangkap citra alam serta perasaan manusia terhadap ancaman dan harapan terhadap dunia luar yang mulai terhubung melalui perdagangan dan eksplorasi.
Pada tahun 1849, Hokusai mengembuskan napas terakhir pada usia 89 tahun. Ia telah meninggalkan warisan besar dalam dunia seni. Karyanya, terutama The Great Wave, tetap menjadi salah satu monumen penting seni Jepang yang terus menginspirasi banyak seniman di seluruh dunia. Seiring berjalannya waktu, Hokusai tidak sekadar dikenal sebagai pelukis dan pencetak kayu, tetapi juga sebagai tokoh yang mampu mengabadikan momen perubahan zaman Jepang dengan cara yang unik, mendalam, dan penuh makna.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: JSTOR